Alreinamedia.com-Kuantan Singingi, 14 Januari 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Riau (UNRI) berperan aktif mendukung agenda Asta Cita Presiden RI terkait ketahanan pangan melalui pelaksanaan Survey, Investigasi, dan Desain (SID) Cetak Sawah Baru di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Langkah strategis ini bertujuan mengoptimalkan lahan eks tambang emas tanpa izin (PETI) yang terbengkalai untuk mencapai target swasembada beras nasional.
Kondisi dan Tantangan Pangan di Kuansing Kepala Dinas Tanaman Pangan Kuansing, Deflides Gusni, mencatat produktivitas gabah daerah saat ini sebesar 4,41 ton per hektare dengan lahan fungsional seluas 4.487 hektare. Meski potensi luas baku sawah mencapai 5.690 hektare, Kuansing masih mengalami defisit beras sekitar 363 ton per tahun karena kebutuhan masyarakat mencapai 26.506 ton. Oleh karena itu, pembukaan lahan baru menjadi solusi mendesak untuk menutupi kekurangan tersebut.
Strategi dan Inovasi Teknis Plt. Kepala Dinas Pangan Provinsi Riau, Dr. Ronny Wibowo, menekankan bahwa SID merupakan fondasi teknis agar pencetakan sawah tepat sasaran. Di sisi lain, Bupati Kuansing, Dr. Suhardiman Amby, menyoroti tantangan struktural berupa dominasi perkebunan sawit dan minimnya minat generasi muda terhadap pertanian padi. Sebagai solusi, pemerintah daerah mendorong:
Pembentukan Brigade Pangan dan pelibatan petani milenial.
Reklamasi teknis lahan eks tambang emas liar agar menjadi lahan produktif.
Edukasi masyarakat agar tidak menjual lahan dan beralih ke pertanian pangan.
Peran Akademisi dan Keberlanjutan Program Dekan Fakultas Pertanian UNRI, Dr. Ahmad Rifai, menyatakan bahwa reklamasi lahan PETI harus didasarkan pada riset ilmiah agar komoditas padi dapat tumbuh secara berkelanjutan. Diskusi ini juga mengidentifikasi beberapa faktor kunci keberhasilan program ke depan, antara lain:
Ketersediaan sumber air dan jaringan irigasi yang memadai.
Mekanisasi pertanian (alsintan) dan ketepatan distribusi pupuk.
Penggunaan benih unggul serta pengendalian hama secara terpadu.
Pendampingan petani dan akses pembiayaan usaha tani.
Melalui komitmen bersama antara pemerintah dan akademisi, program ini diharapkan mampu mewujudkan swasembada beras di Kuansing pada tahun 2027 serta mendukung kedaulatan pangan nasional sesuai visi Presiden.

















