Ekonomi

Ekonomi 2026 Diprediksi Tembus 5 Persen

×

Ekonomi 2026 Diprediksi Tembus 5 Persen

Sebarkan artikel ini

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026: Optimisme Perbankan di Bawah Target Pemerintah

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menunjukkan optimisme dari sejumlah bank besar, dengan perkiraan laju ekonomi yang bergerak di atas angka 5 persen. Namun, angka-angka ini secara konsisten berada di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. APBN 2026 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, yang merupakan peningkatan dari sasaran 5,2 persen pada tahun 2025. Sebagai perbandingan, realisasi pertumbuhan ekonomi hingga kuartal III tahun 2025 tercatat sebesar 5,01 persen.

Berikut adalah tinjauan mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dari berbagai institusi perbankan terkemuka:

Proyeksi Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memproyeksikan ekonomi nasional akan tumbuh sebesar 5,2 persen pada tahun 2026. Pertumbuhan ini diprediksi akan ditopang oleh beberapa faktor utama, yaitu konsumsi rumah tangga yang kuat, pemulihan investasi yang berkelanjutan, serta kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif.

Menurut Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, perekonomian Indonesia masih berada dalam fase akselerasi. “Di tahun depan kita masih melihat pertumbuhan ekonomi bisa accelerated to 5,2 persen. Jadi faktor-faktor itu yang kemudian menjadi dasar pertumbuhan,” ujar Andry dalam acara Macro Economic Outlook 4Q2025 pada Senin, 3 Desember 2025.

Program-program strategis yang dijalankan oleh pemerintah diperkirakan akan memberikan efek pengganda yang signifikan terhadap sektor manufaktur, industri pengolahan, dan sektor padat karya. Kondisi ini turut menopang optimisme pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

Meskipun demikian, risiko eksternal tetap menjadi perhatian utama. Perlambatan ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang masih membayangi dapat memberikan tekanan. “Bagaimana konflik global Eropa, Timur Tengah, dan juga di Asia ditemani juga kemudian dengan geoeconomic risk, perang dagang, tarif. Apakah kemudian mereda atau tidak itu tentu saja masih tergantung dengan bagaimana keputusan dari negara-negara besar terutama dari Amerika Serikat (AS),” jelas Andry.

Proyeksi BCA

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berada di kisaran 5,1–5,2 persen. Angka ini memang berada di atas 5 persen, namun masih cukup jauh dari target yang ditetapkan oleh APBN.

Chief Economist BCA, David Sumual, menekankan bahwa tantangan di tahun mendatang masih akan besar. “Kita harus tetap waspada 2026 ini masih banyak tantangan, bencana alam, siklon yang terjadi baru-baru ini di Sumatera, ketegangan China-Jepang, arah The Fed seperti apa,” ungkap David dalam sebuah media briefing di Jakarta pada Senin, 15 Desember 2025.

Baca Juga :  Jajaki Sinergi, Perusahaan Gas Negara (PGN) Nilai Pangkalpinang Memiliki Trend Pertumbuhan Ekonomi Positif

Bencana banjir dan longsor yang baru-baru ini terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dinilai berpotensi memberikan dampak negatif terhadap ekonomi daerah dan kelancaran arus logistik. Tim riset BCA memperkirakan dampak dari bencana ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 0,32 persen.

Data internal BCA menunjukkan adanya penurunan belanja masyarakat di wilayah terdampak bencana. Belanja masyarakat di Sumatera Barat dilaporkan turun sebesar 25,53 persen, di Sumatera Utara turun 22,31 persen, dan di Aceh melemah 23,92 persen. “Kalau dengan bencana ini mungkin akan ada sedikit pengaruh ya, agak aneh kalau enggak terpengaruh. Di Sumatera tiba-tiba tumbuh naik 6 persen gitu kan, jadi pasti akan ada pengaruh,” tambah David.

Ketergantungan yang tinggi pada stimulus fiskal juga dinilai dapat membatasi ruang akselerasi ekonomi. Ruang fiskal yang sempit berpotensi menghambat respons terhadap persoalan-persoalan struktural yang ada. Selain itu, faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga berpotensi memberikan tekanan tambahan.

Proyeksi Permata Bank

Permata Institute for Economic Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berada di kisaran 5,1–5,2 persen. Proyeksi ini menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan dengan estimasi untuk tahun 2025 yang diperkirakan berada di angka 5–5,1 persen.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa pemulihan ekonomi akan terus berjalan dengan laju yang moderat. “Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 berada di kisaran 5,0–5,1 persen dan meningkat pada 2026 di kisaran 5,1–5,2 persen,” ujarnya di Jakarta Selatan pada Kamis, 4 Desember 2025.

Tingkat inflasi diprediksi akan tetap terkendali di bawah angka 3 persen. “Perkiraan kami inflasi akan naik ke kisaran 2,0–2,5 persen pada akhir 2025 dari 1,57 persen di 2024, dan tetap di level yang sama sepanjang 2026,” kata Josua.

Nilai tukar Rupiah diproyeksikan akan menguat secara bertahap, bergerak ke kisaran Rp 16.200–16.400 per dolar AS hingga akhir tahun 2026. Arus modal asing jangka panjang dan arus modal portofolio dipandang sebagai penopang utama penguatan Rupiah. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil US Treasury juga dinilai akan membuka peluang bagi aliran modal masuk ke pasar negara berkembang.

Proyeksi Bank Syariah Indonesia (BSI)

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan mencapai 5,28 persen. Angka ini merupakan peningkatan dari proyeksi untuk tahun 2025 yang sebesar 5,04 persen.

Baca Juga :  Cuitan Trump Picu Pergerakan Saham Perbankan? Ini Penjelasan Analis

Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menyatakan bahwa konsumsi rumah tangga akan tetap menjadi kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB). Investasi domestik dan belanja fiskal juga diprediksi akan memberikan dorongan pertumbuhan. Selain itu, hilirisasi industri dinilai akan terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.

“2026 juga akan ditandai oleh perluasan implementasi berbagai program pemerintah, mulai dari ekosistem makan bergizi gratis, penguatan kesehatan dan pendidikan, dukungan UMKM, hingga program pangan dan energi, yang diperkirakan mendorong permintaan domestik dan investasi di banyak sektor terkait, dari pertanian sampai logistik pangan,” ujar Banjaran di Jakarta pada Kamis, 4 Desember 2025.

Inflasi pada tahun 2026 diperkirakan akan berada di kisaran 2,94 persen. Risiko utama inflasi diprediksi berasal dari gejolak harga pangan yang dipicu oleh faktor iklim. Tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) diproyeksikan akan mengalami penurunan bertahap hingga mencapai 4,25 persen pada akhir tahun 2026.

Stabilitas nilai tukar Rupiah akan ditopang oleh potensi arus modal asing masuk, cadangan devisa yang diperkirakan mencapai sekitar 150 miliar dolar AS, serta optimalisasi instrumen Surat Berharga Negara (SBN) Ritel dan pasar obligasi domestik.

“Yield SBN 10 tahun diproyeksikan rata-rata sekitar 6,49 persen pada 2026, tetap menarik bagi investor dengan risiko yang terukur,” kata Banjaran.

“Di tahun 2026, risiko utang dan asset bubble membuat investor lebih selektif, sementara AI perlahan mengubah struktur perdagangan dunia,” imbuhnya.

Proyeksi DBS Group Research

DBS Group Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan mencapai 5,2 persen. Proyeksi ini sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi untuk tahun 2025 yang berada di kisaran 5 persen.

Tingkat inflasi diperkirakan akan tetap terjaga di sekitar 2,5 persen. BI Rate diprediksi akan mengalami penurunan ke level 4 persen pada akhir tahun 2026. Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan relatif stabil di kisaran Rp 16.000–16.900 per dolar AS. Dalam skenario terburuk, nilai tukar Rupiah dapat menembus di atas Rp 17.000 per dolar AS.

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menilai bahwa keberhasilan ekonomi Indonesia di tahun mendatang akan sangat bergantung pada implementasi kebijakan yang efektif. “Hal ini memerlukan implementasi yang terkoordinasi di seluruh sektor industri dan lembaga, serta dukungan kebijakan yang tepat,” tulis Radhika dalam laporan Outlook Indonesia 2026 pada Selasa, 16 Desember 2025.