Alreinamedia.com-Natuna, Kota Ranai genap berusia 154 tahun. Namun di usia yang seharusnya menunjukkan kematangan dan arah pembangunan yang jelas, warga justru dihadapkan pada kenyataan pahit, ekonomi Natuna yang semakin terpuruk, daya beli masyarakat yang terus merosot dan janji pemimpin yang tak kunjung terlihat wujudnya.
Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara pendapatan masyarakat stagnan. Sektor informal melemah, pelaku usaha kecil berguguran dan nelayan menghadapi beban biaya melaut yang kian tinggi. Di tengah itu semua, kehidupan warga makin sulit dan tak ada tanda-tanda pemulihan berarti dari pemerintah daerah.
“Kami sudah tidak berharap banyak lagi, Setiap tahun hanya ucapan, tapi hidup makin berat,” ujar Mardiana pedagang sembako di Ranai Kota minggu (27/7/25) Ia menyebut omsetnya turun lebih dari separuh dibanding lima tahun lalu.
Yang lebih mengecewakan, menurut banyak warga, adalah tidak adanya gebrakan nyata dari pemimpin daerah. Bupati Natuna Cen Sui Lan yang sejak awal menjabat disebut-sebut punya akses luas ke pusat, hingga kini belum menunjukkan pengaruh apa pun yang berdampak langsung bagi daerah.
“Kalau cuma bagi-bagi beras dari program pusat, siapa pun bisa jadi bupati. Di mana gagasan dan terobosan beliau untuk Natuna?” ungkap Ismail salah satu warga Natuna Minggu (27/7/25)
Salah satu janji yang paling diingat warga adalah rencana masuknya Salim Group untuk membangun pabrik di Natuna. Hingga kini, wacana itu hanya tinggal nama. Tak ada papan proyek, tak ada aktivitas, apalagi kejelasan.
“Dulu digembar-gemborkan Salim Group mau investasi. Sekarang jangankan pabrik, bahkan informasi lanjutan pun tidak ada. Janji kosong,” kata Ismail
Begitu pula dengan klaim akan mendatangkan maskapai Super Air Jet sebagai bagian dari pengembangan sektor pariwisata. Sampai hari ini, tak ada jadwal penerbangan baru yang masuk, bahkan fasilitas penunjangnya pun tidak kunjung dibangun.
“Masyarakat dibuat percaya seolah-olah investor dan wisatawan akan datang berbondong-bondong. Kenyataannya nol besar. Jangan-jangan memang tidak ada ‘link’ ke pusat itu,” terang Ismail kembali
Ia menambahkan bahwa kegagalan menghadirkan investasi dan infrastruktur baru adalah cermin dari kepemimpinan yang minim strategi dan tanpa arah jelas. “Gagasan tanpa eksekusi hanya menjadi bualan politik. Natuna butuh pemimpin yang tidak hanya pintar bicara, tapi juga tahu cara bekerja dan membangun jaringan nyata,” tegasnya.
Di ulang tahun ke-154 ini, Kota Ranai tak butuh pesta atau seremoni. Warga butuh bukti. Bila semua hanya retorika, maka usia kota yang terus bertambah hanya akan menjadi ironi tua dalam umur, tapi lumpuh dalam pembangunan dan bagi rakyat, yang tersisa hanyalah hidup yang makin sulit dan harapan yang makin tipis. (Arizki)
















