BeritaBerita Pilihan

Evaluasi Keterlibatan Mahasiswa di SPPG Cipongkor Bandung: Tegaskan Profesionalisme

×

Evaluasi Keterlibatan Mahasiswa di SPPG Cipongkor Bandung: Tegaskan Profesionalisme

Sebarkan artikel ini

Peran Tenaga Ahli Gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, menekankan pentingnya kehadiran tenaga ahli gizi profesional di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia. Hal ini menjadi fokus utama setelah ditemukan adanya tenaga ahli gizi yang masih berstatus mahasiswa di satu SPPG di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Menurut Sony, secara ketentuan, posisi ahli gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus memiliki pendidikan minimal sarjana gizi. Namun, ia menyadari bahwa beberapa daerah mengalami kekurangan tenaga ahli gizi. Untuk itu, BGN sedang berkomunikasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan guna mencari solusi terkait pengambilan utusan dari berbagai bidang pendidikan yang bisa dilibatkan sebagai ahli gizi pada SPPG.

“Mudah-mudahan secepatnya ini akan segera diinformasikan,” ujar Sony saat berbicara di Holiday Inn, Bandung, Sabtu (4/10/2025).

Proses Investigasi terhadap Penutupan SPPG

Terkait penutupan sementara satu SPPG yang disegel akibat dugaan pelanggaran prosedur, Sony menjelaskan bahwa BGN saat ini tengah menunggu hasil investigasi menyeluruh. Proses tersebut melibatkan uji laboratorium terhadap kandungan makanan serta pemeriksaan internal oleh Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN.

Baca Juga :  Wage Subsidy Disbursement Reaches Rp4.9 Trillion as of 24 September

“Menunggu hasil investigasi, satu laporan hasil laboratorium ya, kandungan apa yang ada di dalam makanan tersebut. Kemudian kami juga secara internal melakukan investigasi oleh Deputi Pemantauan dan Pengawasan, fasilitasnya bagaimana,” tuturnya.

Sony mencontohkan, sebelumnya sempat beredar video viral tentang proses pencucian wadah makanan atau ompreng di area yang tidak layak di SPPG di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. “Langsung dihentikan, langsung dilakukan perbaikan,” ujarnya.

Dia menegaskan, setiap kejadian seperti itu harus menjadi momentum bagi seluruh pengelola dan mitra SPPG di Indonesia untuk melakukan introspeksi dan pembenahan fasilitas maupun sumber daya manusia yang dimiliki.

“Ini mendorong seluruh SPPG, seluruh mitra yang memilih SPPG untuk tidak merasa sudah aman-aman saja. Introspeksi, fasilitas Anda seperti apa? Apabila kurang, tingkatkan. Daripada nanti dihentikan,” ujarnya.

Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendukung

Sony juga menyoroti pentingnya peningkatan sarana dan prasarana pendukung, seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan sirkulasi udara di dapur produksi.

Baca Juga :  Atlet Muda Alarice Mallica Siap Tampil Gemilang di Kejuaraan Dunia

“IPAL-nya kurang baik, perbaiki IPAL-nya. Kemudian sirkulasi udaranya kurang baik, perbaiki sirkulasi udaranya,” ucapnya.

Selain itu, ia mengingatkan agar seluruh relawan dan tenaga pelaksana di lapangan terus meningkatkan kompetensi, baik melalui pelatihan langsung maupun pembelajaran mandiri.

“Relawannya, kemampuannya bagaimana? Masih kurang, tingkatkan. Karena sekarang metode belajar banyak. Tidak harus berada di kelas, tapi melalui Zoom, belajar autodidak, dari YouTube,” kata Sony.

Namun demikian, ia menekankan bahwa seluruh proses pembelajaran dan peningkatan kapasitas tersebut harus terarah agar benar-benar berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan gizi.

“Tapi harus kembali lagi, terarah semuanya untuk meningkatkan kualitas kemampuan sehingga dapat bekerja nanti menghasilkan makanan yang berkualitas,” ujarnya.

Program MBG sebagai Hak Dasar Anak

Sony menambahkan bahwa Program MBG bukan sekadar distribusi makanan, tetapi bentuk pemenuhan hak dasar anak-anak Indonesia.

“Karena makan bergizi itu adalah hak anak. Hak seluruh anak yang mendapatkan makan bergizi,” kata dia.