Berita

Harga BBM Non-Subsidi Gorontalo Naik Rp1.000 per Liter, Ini Daftarnya

×

Harga BBM Non-Subsidi Gorontalo Naik Rp1.000 per Liter, Ini Daftarnya

Sebarkan artikel ini

Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi di Gorontalo

Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan pada Maret 2026. Perubahan ini terjadi setelah sebelumnya harga BBM non-subsidi sempat turun pada Februari 2026. Kenaikan ini mencerminkan tren nasional yang dipengaruhi oleh perubahan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

  • Pertamax naik menjadi Rp12.600 per liter, meningkat dari harga sebelumnya Rp12.100.
  • Pertamax Turbo juga mengalami kenaikan, dari Rp13.000 menjadi Rp13.350 per liter.
  • Dexlite mengalami kenaikan signifikan, dari Rp13.800 menjadi Rp14.500 per liter.
  • Pertamina Dex naik dari Rp13.800 menjadi Rp14.800 per liter.

Kenaikan ini terjadi secara merata di wilayah Sulawesi, termasuk Gorontalo, sebagai bagian dari penyesuaian harga BBM nasional oleh Pertamina. Sebelumnya, pada Februari 2026, harga BBM non-subsidi justru turun di berbagai daerah, termasuk Gorontalo, karena melemahnya harga minyak dunia. Namun, dalam sebulan terakhir, situasi berubah.

Baca Juga :  Kantor Pos: Kirim Bantuan Gratis ke Aceh, Sumut, Sumbar!

Pergerakan harga minyak mentah global dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor utama kenaikan harga BBM. Selain itu, tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga berkontribusi terhadap kenaikan harga energi global, yang berdampak langsung pada harga BBM di dalam negeri.

Meskipun banyak jenis BBM non-subsidi mengalami kenaikan, harga BBM subsidi tetap stabil. Pertalite masih dijual dengan harga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap dijual Rp6.800 per liter.

Dengan kenaikan ini, masyarakat Gorontalo yang menggunakan BBM non-subsidi kembali menghadapi beban biaya energi yang lebih tinggi. Setelah sebelumnya menikmati penurunan harga pada Februari lalu, kini mereka kembali menghadapi kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam waktu satu bulan, harga BBM di Indonesia, termasuk di Gorontalo, mengalami perubahan tren dari penurunan menjadi kenaikan.

Baca Juga :  Genangan air rendam Jalan S Parman Banjarmasin, macet panjang di malam Minggu

Beberapa faktor ekonomi dan politik memengaruhi dinamika harga BBM. Perubahan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi indikator utama yang memengaruhi kebijakan harga BBM. Sementara itu, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memengaruhi stabilitas pasar minyak global.

Kenaikan harga BBM non-subsidi tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga pada sektor transportasi dan industri. Dengan biaya energi yang semakin mahal, masyarakat dan pelaku usaha harus lebih waspada dalam mengatur anggaran.

Pertamina terus memantau perkembangan harga minyak dan nilai tukar untuk menentukan kebijakan harga BBM berikutnya. Namun, sampai saat ini, kenaikan harga BBM non-subsidi di Gorontalo dan wilayah lain di Indonesia tetap menjadi isu yang menarik perhatian publik.