Apakah COVID-19 sebabkan sindrom kelelahan kronis?

Berdasarkan studi pada jurnal Molecular psychiatry, banyak pasien COVID-19 mengeluhkan sesak napas dan kelelahan selama berbulan-bulan setelah dinyatakan sembuh dari penyakit tersebut. WHO dalam situs resminya menjelaskan, seseorang yang telah pulih dari COVID-19 namun masih merasakan gejala kelelahan disebut dengan kondisi pasca COVID-19. Kondisi ini dikenal juga dengan sebutan istilah “long COVID-19“.
Dr. Janet Diazo menambahkan bahwa kelelahan kronis adalah satu dari banyak kondisi yang terjadi setelah sembuh dari COVID-19. Kondisi lainnya meliputi sesak napas, brain fog, nyeri dada, kesulitan berbicara, nyeri otot, demam, dan depresi. Namun, di antara kesemua kondisi tersebut, yang paling sering dikeluhkan adalah kelelahan kronis.
https://hellosehat.com/infeksi/covid19/penyintas-covid-19-penurunan-kecerdasan/
Lantas, banyak yang mempertanyakan apakah kelelahan kronis akibat COVID-19 itu sama dengan sindrom kelelahan kronis? Apakah COVID-19 bisa menjadi penyebab sindrom ini?
Sindrom kelelahan kronis (CFS) adalah gangguan rumit yang ditandai dengan kelelahan ekstrem yang berlangsung setidaknya selama enam bulan dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh kondisi medis yang mendasarinya. Kelelahan memburuk dengan aktivitas fisik atau mental, tetapi tidak membaik dengan istirahat.
Ciri khas dari sindrom kelelahan kronis yakni tidak merasa membaik setelah bangun tidur, kesulitan untuk berpikir, pusing saat berubah posisi saat bangun dari duduk.
Gejala lain yang meliputi di antara nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Penyebab sindrom ini tidak diektahui secara pasti. Namun, banyak teori yang menyebutkan akibat dari infeksi virus Epstein-Barr hingga stres psikologis.
Jika dilihat dari gejala dan penyebabnya yakni infeksi virus, sindrom kelelahan kronis memang hampir serupa dengan kelelahan kronis akibat COVID-19. Akan tetapi, hingga kini peneliti masih mengamati kedua kondisi yang hampir serupa tersebut. Sejauh ini, perbedaan di antara keduanya lebih mengarah pada seberapa lama gejalanya menetap.
Cara mengatasi sindrom kelelahan kronis akibat Covid-19

Kelelahan kronis setelah sembuh dari COVID-19 memang masih diteliti pengobatannya. Begitu juga dengan sindrom kelelahan kronis, yang disebut-sebut juga belum ditemukan pengobatannya. Namun, keduanya masih bisa diatasi gejalanya dengan perawatan tertentu.
Menurut situs Mayo Clinic, orang dengan sindrom kelelahan kronis biasanya mengalami gejala yang memburuk setelah melakukan aktivitas fisik, atau aktivitas yang membutuhkan emosional atau melibatkan emosi. Kondisi tersebut bisa berlangsung selama berhari-hati atau berminggu-minggu setelah aktivitas dilakukan. Penderita COVID-19 yang telah sembuh juga merasakan tubuh yang mudah lelah selama beraktivitas.
[article-spotlight]
Oleh karena itu, perawatan keduanya bisa difokuskan dengan mencari keseimbangan yang baik antara aktivitas dan istirahat. Tujuannya, agar penyintas COVID-19 dan pengidap sindrom kelelahan kronis dapat aktif tanpa memaksakan diri dan mengalami kelelahan.
Dokter mungkin merekomendasikan pasien untuk membuat catatan harian tetang aktivitas dan gejala apa saja yang dialami. Ini dilakukan untuk melacak seberapa banyak aktivitas yang dapat memicu munculnya gejala, dan seberapa aman aktivitas boleh dilakukan.
Tindakan ini juga membantu pasien untuk menghindari pasien dalam memaksakan dirinya dalam menjalani suatu aktivitas, yang nantinya bisa memperburuk kondisi. Di samping itu, pengobatan COVID-19 atau sindrom kelelahan kronis lainnya juga perlu dilakukan untuk mencegah keparahan kondisi.
[embed-community-12]
The post Hubungan COVID-19 dan Sindrom Kelelalahan Kronis appeared first on Hello Sehat.

















