Ekonomi

IHSG Naik 0,41 Persen, Rupiah Tertekan

×

IHSG Naik 0,41 Persen, Rupiah Tertekan

Sebarkan artikel ini

Pergerakan IHSG dan Rupiah pada Hari Ini

Pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan namun tetap berada di zona hijau pada awal sesi perdagangan. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG berada di posisi 8.099,98, naik sebesar 33,460 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level 8.066,52.

Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 272 saham menguat, sedangkan 134 saham turun, dan 189 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 967,39 miliar dengan volume perdagangan sebesar 1,171 miliar saham.

Prediksi Pergerakan IHSG

Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memprediksi bahwa IHSG akan mengalami pelemahan terbatas pada perdagangan hari Rabu (15/10/2025), setelah sehari sebelumnya ditutup turun 1,95 persen atau 160,68 poin ke level 8.066.

Pelemahan utama berasal dari sektor transportasi dan logistik yang terkoreksi sebesar 3,99 persen, sementara sektor properti dan real estat menjadi satu-satunya sektor yang menguat tipis sebesar 0,03 persen.

Maxi menyatakan bahwa level 8.000 akan menjadi garis psikologis penting bagi pelaku pasar dan investor, dengan harapan tensi antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai mereda.

Baca Juga :  Untung Besar Modal Kecil: 5 Trik Emas Wajib Tahu

Dampak Eksternal terhadap Pasar

Dari luar negeri, sentimen positif datang dari pernyataan Ketua The Federal Reserve Jerome Powell yang memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang. Powell menyebut bahwa pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda pelemahan, yang membuka peluang pemangkasan dua kali lagi hingga akhir tahun ini.

Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok masih menjadi tantangan bagi optimisme pasar. Tiongkok disebut melakukan pembatasan pengiriman terhadap Hanwha sebagai respons atas kebijakan AS, yang menambah kekhawatiran terhadap stabilitas hubungan dagang kedua negara.

Evaluasi Kebijakan DMO Emas

Di dalam negeri, investor juga mencermati evaluasi kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk emas oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kebijakan ini tengah dikaji ulang karena sejumlah perusahaan tambang lebih memilih mengekspor ketimbang menjual ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Menurut analisis, kebijakan DMO emas berpotensi positif bagi Antam karena menjamin pasokan emas domestik dan mengurangi impor, meski dapat menekan margin bagi emiten penambang seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Baca Juga :  Pensiun Bahagia: Hitung Dana Aman Tanpa Cemas

Pergerakan Bursa Asia

Bursa kawasan Asia hari ini mayoritas dibuka hijau. Shanghai Composite naik 0,28 persen (10,97 poin) di level 3.876,20. Strait Times juga naik 0,25 persen (10,939 poin) di level 4.365,45.

Sementara itu, Nikkei ikut menghijau sebesar 0,96 persen di level 47.296,00 sedangkan Hang Seng naik 1,38 persen (351,130 poin) di level 25.792,48.

Pergerakan Rupiah

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini melemah di zona merah. Melansir data Bloomberg, pukul 09.00 WIB rupiah berada pada level Rp 16.586 per dollar AS atau merosot 17 poin (0,10 persen) dibanding penutupan sebelumnya Rp 16.603 per dollar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah akan menguat terhadap dolar AS yang melemah, setelah pidato Ketua The Fed Jerome Powell dinilai kurang agresif atau less hawkish dari perkiraan pasar.

Sementara itu, Presiden The Fed Boston Susan Collins justru menyampaikan pandangan bernada dovish, dengan menilai perlunya pemangkasan suku bunga yang lebih besar ke depan.

“Range 16.550-16.650,” katanya.