Progres Pembangunan Jembatan Curah Maling dan Curah Kebo di Lumajang Capai 100% Akhir 2025
Lumajang, Jawa Timur – Proyek rekonstruksi dua jembatan vital di Desa Kandangan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yaitu Jembatan Curah Maling dan Jembatan Curah Kebo, dipastikan akan selesai sepenuhnya pada akhir tahun 2025. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara langsung memantau dan mendorong percepatan penyelesaian proyek yang menjadi urat nadi konektivitas antar wilayah ini.
Jembatan-jembatan ini sebelumnya mengalami kerusakan parah dan putus pada Jumat, 19 September 2025, akibat terjangan banjir bandang dan longsor yang dipicu oleh hujan lebat. Kejadian tersebut secara signifikan mengganggu mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, serta akses pendidikan di dua kecamatan yang sebelumnya terhubung oleh kedua jembatan tersebut.
Gubernur Khofifah menyatakan optimisme tinggi terhadap progres pembangunan. “Kita sudah melihat pembangunan jembatan bailey yang kita pesan sudah jadi. Kemudian juga dilakukan pemasangan pondasi serta bronjongnya,” ujar Gubernur Khofifah pada Sabtu, 13 Desember 2025, usai meninjau langsung lokasi proyek. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tahapan krusial dalam rekonstruksi telah berjalan sesuai rencana.
Strategi Rekonstruksi dan Peningkatan Kapasitas
Proses perbaikan kedua jembatan ini tidak hanya berfokus pada pemulihan fungsi semula, tetapi juga melibatkan peningkatan kapasitas. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur telah menerapkan beberapa teknik perbaikan inovatif. Salah satu peningkatan signifikan adalah pelebaran kedua jembatan. Sebelumnya memiliki lebar 3,5 meter, kini kedua jembatan akan memiliki lebar 4,2 meter di Kecamatan Senduro. Pelebaran ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas lalu lintas tetapi juga meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna jalan.
Penggunaan jembatan bailey berbahan baja pra-fabrikasi, yang bersifat portabel dan dapat dibongkar pasang, menjadi solusi cepat dan efektif dalam mengatasi keterputusan akses. Pemasangan jembatan bailey ini dimulai pada Rabu, 5 November 2025, setelah jembatan penghubung dua kecamatan tersebut dinyatakan putus. Teknik ini memungkinkan pemulihan konektivitas dalam waktu yang relatif singkat, sembari menunggu proses rekonstruksi permanen.
Harapan untuk Pemulihan Konektivitas dan Dampak Ekonomi
Gubernur Khofifah secara tegas menekankan pentingnya penyelesaian jembatan tepat waktu. “Mudah-mudahan pulihnya jembatan ini bisa kembali membangun konektivitas masyarakat di sektor ekonomi, jasa, barang dan pendidikan semakin lancar,” tuturnya. Harapan ini mencerminkan visi Gubernur untuk mengembalikan roda perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat yang terganggu akibat putusnya akses jembatan. Konektivitas yang pulih diharapkan akan mempermudah distribusi barang dan jasa, membuka peluang ekonomi baru, serta memastikan kelancaran akses pendidikan bagi anak-anak usia sekolah.
Kepala Desa Kandangan, Jumanang, menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras dan kecepatan penanganan proyek ini. “Saya menilai pembangunan jembatan ini dilaksanakan sangat cepat karena memang menjadi kebutuhan bagi aktivitas masyarakat di dua desa,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pembangunan jembatan bailey yang lebih cepat dari perkiraan telah sangat membantu mobilitas masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari. Ucapan terima kasih juga dilayangkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Lumajang atas perhatian dan dukungan yang diberikan.
Kronologi Kejadian dan Upaya Pemulihan
- 19 September 2025: Jembatan Curah Maling dan Curah Kebo yang menghubungkan dua kecamatan di Lumajang putus akibat hujan lebat yang menyebabkan banjir dan longsor.
- 5 November 2025: Pembangunan jembatan darurat menggunakan model jembatan bailey berbahan baja pra-fabrikasi dimulai.
- 13 Desember 2025: Gubernur Jawa Timur meninjau langsung progres pembangunan dan menargetkan penyelesaian 100% pada akhir tahun 2025.
Proyek rekonstruksi ini menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah dalam merespons bencana alam dan memulihkan infrastruktur vital. Dengan selesainya kedua jembatan ini, diharapkan aktivitas masyarakat di Desa Kandangan dan sekitarnya dapat kembali normal, bahkan lebih baik dengan adanya peningkatan kapasitas jembatan.
















