Ki Cahyo Kuntadi: Sang Penjaga Api Wayang Kulit di Era Modern
Kekayaan budaya Indonesia terus diuji oleh derasnya arus modernisasi. Di tengah gempuran teknologi dan tren global, seni tradisional kerap terpinggirkan, terancam dilupakan oleh generasi penerus. Namun, semangat pelestarian tak pernah padam di hati para seniman budaya. Salah satunya adalah Ki Cahyo Kuntadi, seorang dalang wayang kulit yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga api seni tradisional Jawa agar tetap menyala terang.
Bagi Ki Cahyo, wayang kulit bukan sekadar pertunjukan hiburan semata. Ia memandang seni pedalangan sebagai sebuah tuntunan hidup yang kaya akan nilai moral dan filosofi mendalam. Oleh karena itu, ia tak kenal lelah berupaya melestarikan tradisi leluhur ini, sembari terus beradaptasi dengan dinamika zaman yang terus berubah.
Akar Kecintaan pada Dunia Pedalangan
Kecintaan Ki Cahyo Kuntadi terhadap seni wayang kulit tumbuh sejak ia masih belia. Lingkungan keluarga menjadi pondasi kuat yang membentuk ketertarikannya. Sang ayah, Ki Sukron Suwondo, dan kakeknya, keduanya adalah dalang wayang kulit. Sejak lahir hingga dewasa, dunia Ki Cahyo tak pernah lepas dari gemerlap wayang.
“Yang membentuk karakter seseorang itu lingkungan. Bapak saya dalang, kakek saya dalang. Sejak lahir sampai dewasa, dunia saya adalah dunia wayang,” ungkap Ki Cahyo saat ditemui di Sanggar Madhangkara.
Ia menegaskan bahwa keputusannya menjadi dalang bukanlah atas dorongan atau paksaan orang tua, melainkan berakar dari kecintaan murni yang bermula dari hobi. Di masa kecilnya, ketika perangkat gawai dan permainan digital belum dikenal, televisi menjadi sahabat dan sumber hiburan utama. Tayangan wayang di TVRI menjadi tontonan favorit sekaligus sarana belajar yang ampuh memupuk minatnya pada seni pedalangan.
Ki Cahyo meyakini bahwa segala sesuatu yang dipelajari dengan rasa cinta akan terasa lebih ringan dan menyenangkan, berbeda dengan yang dilakukan karena keterpaksaan.
Wayang Kulit: Perpaduan Seni yang Utuh dan Kompleks
Menurut Ki Cahyo, wayang kulit adalah bentuk seni yang luar biasa utuh. Ia mampu memadukan berbagai cabang seni dalam satu kesatuan yang harmonis, mulai dari sastra, seni rupa, tari, musik, hingga drama. Perpaduan inilah yang menjadikan pertunjukan wayang kaya makna dan memiliki nilai artistik yang tinggi.
Namun, Ki Cahyo mengakui bahwa mendalami dunia pedalangan bukanlah perkara mudah. Ilmu pedalangan dinilainya sangat luas dan kompleks, membutuhkan kesabaran, ketelitian, serta keuletan yang luar biasa dalam proses pembelajarannya. Tak semua orang mampu bertahan karena banyaknya aspek yang harus dikuasai, mulai dari teknik mendalang, pemahaman cerita, hingga mendalami filosofi wayang yang terkandung di dalamnya.
“Ilmu pedalangan itu rumit dan luar biasa. Tidak semua orang bisa menjadi dalang karena yang dipelajari sangat banyak,” jelasnya saat ditemui di sanggar seni miliknya, Madhangkara, yang berlokasi di Desa Sawahan, Kelurahan Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Ia menambahkan, “Ilmu (pedalangan) itu nggak ada habisnya, ketika kita kejar semakin jauh, ketika kita naiki seperti gunung semakin tinggi, kita terjun semakin dalam. Jadi nggak ada habisnya. Ketika kita belajar, belajar, belajar, maka akan semakin penasaran. Karena memang sangat luas sekali.”
Perjalanan seorang dalang, menurut Ki Cahyo, melewati beberapa tahapan penting. Dimulai dari fase ‘payu’ atau diterima oleh masyarakat, kemudian ‘laris’ atau banyak diminati, hingga tahap yang paling menantang, yaitu menjaga keberlangsungan eksistensi seni itu sendiri.
“Setelah payu, tantangannya laris. Tapi yang paling sulit adalah mempertahankan eksistensi,” tambahnya.
Inovasi Tanpa Melupakan Pakem
Ki Cahyo berpendapat bahwa dalang yang sudah dikenal luas tidak boleh cepat berpuas diri. Berbeda dengan peninggalan sejarah seperti candi yang harus dijaga keasliannya, seni wayang justru harus terus mengalami pembaruan agar tetap relevan dan diminati oleh penonton dari berbagai kalangan.
“Kita tidak boleh hanya berbangga hati, namun juga harus terus belajar, menyimak, mengamati, mempelajari situasi yang sedang terjadi, walaupun wayang merupakan seni tradisi namun selalu berkembang. Itu yang membuat wayang eksis,” tutur Ki Cahyo.
Dalam pengamatannya, minat generasi muda terhadap seni wayang saat ini menunjukkan dua sisi mata uang. Di satu sisi, masih ada anak muda yang memiliki kepedulian dan ketertarikan mendalam pada dunia pedalangan. Minat ini terlihat melalui partisipasi dalam komunitas pecinta wayang maupun melalui jalur akademik seperti penelitian dan kajian budaya.
“Di dunia pelajar, banyak mahasiswa yang mengadakan penelitian dan membuat skripsi atau tesis tentang wayang. Itukan hal yang menyenangkan,” jelas Ki Cahyo.
Namun, di sisi lain, tak sedikit generasi muda yang mulai menjauh dari pertunjukan wayang. Kendala bahasa, durasi pementasan yang cenderung panjang, serta kurangnya pemahaman terhadap tokoh dan alur cerita menjadi beberapa faktor penyebabnya.
Untuk menjawab tantangan ini, Ki Cahyo tidak ragu melakukan berbagai inovasi agar wayang lebih mudah dicerna oleh generasi muda. Salah satu terobosan yang ia lakukan adalah menggunakan bahasa Indonesia dalam pementasan tertentu, terutama saat tampil di luar Jawa atau di hadapan penonton awam yang belum familiar dengan bahasa Jawa. Ia juga kerap menyampaikan ringkasan cerita di awal pertunjukan agar alur lakon lebih mudah diikuti oleh penonton.
Tak hanya itu, suami dari sinden ternama Sukesi Rahayu ini juga memanfaatkan kekuatan teknologi digital. Ia menayangkan pertunjukan wayang melalui live streaming di berbagai platform populer, seperti YouTube dan TikTok.
“Jangan sampai kita tergerus oleh perkembangan zaman, namun bagaimana kita bisa memanfaatkan media itu sebagai promosi terhadap kesenian kita,“ tegas Ki Cahyo.
Meskipun sangat terbuka terhadap inovasi, Ki Cahyo menekankan bahwa setiap pembaruan yang dilakukan harus tetap berpijak pada pakem atau aturan dasar serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam seni wayang.
“Pakem itu aturan supaya kita tidak kebablasan. Selama pesan moral tersampaikan dan tidak bertabrakan dengan etika dan agama, inovasi sah-sah saja,” katanya, menegaskan pentingnya keseimbangan antara tradisi dan modernitas dalam upaya pelestarian seni wayang kulit.

















