Penyebaran virus corona terus meluas ke berbagai penjuru negara, termasuk Indonesia. Tak ada yang kebal dari virus asal Wuhan, China, ini.
WHO menjelaskan infeksi virus corona antarmanusia terjadi melalui tetesan cairan (droplets) dari hidung atau mulut. Hal itu berlangsung saat seseorang bersin atau membuang napas.
Oleh karena itulah penting untuk menjaga jarak (physical distancing) agar tak mudah mengenai droplets. WHO juga mengimbau agar menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut karena bisa jadi tangan kita sedang ditempeli virus corona.
Kenapa ini mesti diwaspadai? Sebab, ternyata manusia tanpa sadar menyentuh wajah setidaknya 23 kali dalam sejam. Hal itu terungkap dalam riset berjudul “Face touching: A frequent habit that has implications for hand hygiene” (2015).
Riset yang ditulis Yen Lee Angela Kwok dkk itu merupakan buah dari pengamatan terhadap perilaku mahasiswa kedokteran di Universitas South Wales, Australia, saat menjalani kuliah.
“Gerak-gerik sentuhan ke wajah diobservasi melalui rekaman video,” tulis. Yen Lee Angela Kwok dkk dalam riset tersebut. Hasilnya, sebanyak 26 mahasiswa kedokteran terekam melakukan 2.346 sentuhan ke wajah dalam waktu 240 menit (4 jam).
Menurut riset, para mahasiswa paling sering menyentuh bagian rambut, pipi, mulut, dan dagu. Jika dirata-ratakan, mereka melakukan 4 kali sentuhan pada bagian ini dalam kurun waktu satu jam.
Durasi sentuhan ke setiap bagian-bagian wajah juga variatif. Para mahasiswa paling sebentar menyentuh mata (1 detik), sementara sentuhan terhadap pipi dan leher paling lama (5 detik).
WHO memberi perhatian lebih terhadap sentuhan di bagian hidung, mata, dan mulut. Itu karena, bagian tersebut merupakan bagian wajah yang memiliki selaput lendir.
“Dari situ, virus (corona) bisa masuk tubuh Anda, dan membuat Anda sakit (COVID-19),” terang WHO.
Yang mesti diwaspadai, dalam riset Yen Lee Angela Kwok dkk, kita melihat ada kecenderungan bagi manusia untuk menyentuh bagian wajah dengan selaput lendir. Rasionya sekitar 43,65 persen.
Dari 43,65 persen kecenderungan itu, kita disebutkan paling sering menyentuh mulut.
Mulut kerap disentuh dengan persentase 36,33 persen. Sementara, hidung dan mata menyusul dengan persentase masing-masing 31,05 dan 26,66 persen. Ada juga sentuhan kombinasi mulut, hidung, dan mata dengan kecenderungan 5,96 persen.
Lantas bagaimana kita mengantisipasi kecenderungan menyentuh wajah ini?
WHO, begitu juga pemerintah Indonesia mengimbau agar kita rajin membersihkan tangan menggunakan bahan dasar alkohol atau mencucinya pakai sabun dan air. Tujuannya, agar virus yang kemungkinan berada di tangan mati.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memberikan tips seberapa sering kita mesti mencuci tangan, yakni:
- Sebelum, selama, dan setelah menyiapkan makanan
- Sebelum makan
- Sebelum dan sesudah merawat seseorang di rumah yang sakit muntah atau diare
- Sebelum dan sesudah merawat luka atau luka
- Setelah menggunakan toilet
- Setelah mengganti popok atau membersihkan anak yang telah menggunakan toilet
- Setelah meniup hidung, batuk, atau bersin
- Setelah menyentuh binatang, pakan ternak, atau kotoran hewan
- Setelah mengurus makanan hewan atau hewan peliharaan
- Setelah menyentuh sampah
Sejumlah aplikasi berbasis website mungkin bisa membantu mengurangi kebiasaan menyentuh wajah. Misalnya, donottouchyourface.com yang menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi perilaku menyentuh wajah saat menggunakan komputer. Kalau kamu tanpa sadar menyentuh wajah, akan ada suara peringatan untuk menjauhkan tangamu dari wajah.
Selain itu, menjaga jarak minimal 1 meter juga penting. Terutama, terhadap orang yang sedang batuk atau bersin.
***















