Daerah

Legenda Silalahi

×

Legenda Silalahi

Sebarkan artikel ini

Ketika meninggalkan Sidikalang, Jumat pagi lalu, rombongan kami dikawal oleh sebuah pikap yang penuh dengan durian dari Dairi. Perjalanan dilanjutkan dengan menyusun jadwal yang memungkinkan kami untuk berhenti di berbagai titik guna menikmati durian yang dibawa.

Pemberhentian pertama kami adalah di Kampung Silalahi, yang terletak di tepi Danau Toba, tepatnya di ujung barat danau yang membentang sepanjang 110 kilometer. Perjalanan menuju Silalahi memiliki kemiripan dengan rute sehari sebelumnya, saat kami mengunjungi patung Yesus di Sibea-bea. Untuk mencapai Silalahi, kami harus menuruni gunung melalui jalan yang berkelok-kelok, turun dari ketinggian 1.600 meter ke 1.100 meter. Baru ketika mendekati tepian danau, kontur tanah mulai sedikit landai, memperlihatkan petak-petak tegalan dan sawah yang kecil, serta rumah-rumah penduduk asli yang sederhana.

Kehidupan di Tepi Danau Toba: Kemiskinan dan Potensi

Tepian Danau Toba di sisi ini, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Dairi, diyakini sebagai wilayah termiskin. Lahan pertanian di sini terfragmentasi menjadi petak-petak kecil, seringkali terselip di antara batu-batu besar, baik di sawah maupun di kebun. Kondisi tanah yang berbatu ini membuat tanaman terlihat kurang subur, bahkan pohon mangga pun menghasilkan buah yang kecil, seolah kekurangan nutrisi untuk berkembang lebih besar.

Desa Silalahi, yang dipercaya sebagai muasal marga Silalahi, terjepit di antara Danau Toba di depannya dan pegunungan terjal di belakangnya. Kami memutuskan untuk berhenti di tepi danau, di sebuah gazebo sederhana milik restoran keluarga Mayjen Polisi Purn. Sihaloho. Kami meminta izin untuk menikmati durian di sana, tentu dengan kesadaran untuk memesan hidangan khas Batak, seperti ikan bakar dan sambal.

Kuliner Segar dan Tradisi

Kami memesan ikan bakar nila yang diambil langsung dari keramba yang mengapung di Danau Toba. Restoran tersebut memiliki teknik khusus untuk membuat ikan keramba terasa gurih dan menghilangkan bau lumpur. Rahasianya adalah dengan “memuasakan” ikan selama tiga hari sebelum dibakar. Setelah diambil dari keramba, ikan dimasukkan ke dalam kolam air tawar tanpa diberi makan apa pun. Proses ini bertujuan agar ikan menjalani “detoksifikasi” selama tiga hari, sehingga sisa-sisa pelet pakan keramba terkuras habis dari perut dan ususnya.

Awalnya, ikan bakar hanya dipesan sebagai “syarat” untuk bisa menikmati durian. Namun, karena kelezatannya, ikan bakar tersebut ludes tak bersisa, begitu pula dengan sambal dan nasi. Akibatnya, durian di pikap masih banyak tersisa, memaksa kami untuk kembali menyusun jadwal baru untuk menghabiskannya. Perjalanan masih panjang, dan masih banyak kesempatan untuk menciptakan kenangan.

Baca Juga :  Natuna Belum selesaikan 13 Catatan BPK “Masihkah Menyandang Predikat WTP”

Tantangan Ekonomi dan Solusi Pembangunan

Desa Silalahi, dengan kondisi tanah yang sangat berbatu, tampaknya sulit untuk menjadi sumber kemakmuran di masa depan. Oleh karena itu, keramba ikan tetap menjadi sumber penghasilan yang penting. Meskipun keramba ikan berpotensi mengancam kelestarian alami Danau Toba, sulit untuk melarangnya sebelum ditemukan solusi yang lebih baik untuk mengatasi kemiskinan di wilayah pinggir danau.

Selain keramba ikan, ada juga sumber penghasilan lain, yaitu menenun ulos Silalahi. Kami sempat mengunjungi tempat penenunan yang dibina oleh Pemerintah Kabupaten Dairi. Menantu Pak Iskan sangat menikmati kunjungannya dan menambah koleksi tenun serta ulosnya. Namun, tenun tetap kesulitan bersaing dengan produk tekstil modern yang lebih murah. Ulos lebih berfungsi sebagai alat pertahanan ekonomi daripada jalan menuju kemakmuran. Satu-satunya yang menolong industri ini adalah kewajiban pegawai Pemkab Dairi untuk mengenakan seragam ulos Silalahi seminggu sekali.

Kampung Silalahi benar-benar terjepit, diapit oleh danau di satu sisi dan pegunungan yang lebat di sisi lainnya. Pemerintah Kabupaten Dairi telah berupaya mencari jalan keluar dengan membangun jalan tembus yang menghubungkan Silalahi dengan Kabupaten Samosir di sebelahnya. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Samosir tidak hanya mencakup Pulau Samosir, tetapi juga wilayah di seberang pulau. Sibea-bea, lokasi patung Yesus tertinggi di dunia, termasuk dalam Kabupaten Samosir meskipun tidak berada di Pulau Samosir.

Secara geografis, Sibea-bea berdekatan dengan Silalahi, keduanya berada di pinggir danau. Keduanya ibarat “dekat di mata, jauh di hati” jika tidak ada akses jalan yang memadai. Jalan tembus yang dibangun Pemkab Dairi sudah mencapai perbatasan Kabupaten Samosir, namun pihak Samosir belum membangun kelanjutannya. Ini seperti uluran tangan yang belum disambut.

Tentu saja, ini adalah keputusan Bupati Samosir untuk menyambut atau tidak. Namun, bernegara tidak melulu soal untung rugi. Gubernur Sumatera Utara diharapkan dapat turun tangan untuk mengoordinasikan pembangunan jalan tembus ini, bahkan mungkin memberikan sedikit dana pembangunan. Jika jalan tembus ini tersambung, Silalahi akan memiliki akses yang lebih baik ke Sibea-bea, dan selanjutnya lebih dekat ke Bandara Silangit.

Baca Juga :  Kejaksaan Negeri Natuna, Tinjau Persiapan Rumah Restorative Justice

Jika tidak, akses keluar dari Silalahi hanya ada dua: ke Sidikalang atau ke Simalungun. Akses ke Sidikalang tidak memberikan banyak manfaat. Sementara itu, perjalanan ke Simalungun sangat jauh, harus menyusuri hampir separuh tepian Danau Toba. Kami menyusuri jalan yang berkelok-kelok ini, kadang Danau Toba terlihat di sisi kanan, indah dan damai, kadang di sisi kiri, kadang persis di pinggir jalan, dan kadang terlihat jauh di bawah sana, teduh dan damai.

Jejak Leluhur dan Simbol Kearifan Lokal

Sebelum menuju Simalungun dan sebelum salat Jumat di Silalahi, kami mengunjungi monumen leluhur mereka. Kami melewati pusat kampung yang padat, miskin, dan kurang terawat. Masih terlihat rumah-rumah kuno asli Silalahi, namun kini berimpitan dengan bangunan semi permanen yang ditempelkan ke rumah adat.

Monumen Silalahi sendiri menyerupai Tugu Monas di Jakarta, namun lebih kecil, pendek, dan sederhana. Di puncaknya, terdapat sebuah simbol yang tidak lazim dalam imajinasi kami. Ketika ditanya, Pak Camat menjelaskan bahwa itu adalah perlambang bunga pisang, atau jantung pisang. Dalam bahasa Jawa disebut “ontong”. Maknanya adalah bahwa pisang akan terus beranak-pinak hingga turun-temurun, sama seperti marga Silalahi.

Terdapat dua pendapat mengenai siapa yang berhak menggunakan marga Silalahi. Satu pihak berpendapat hanya keturunan Silalahi Raja, anak pertama sang pemula, yang berhak menyandang marga tersebut. Pihak lain berpendapat bahwa seluruh keturunan Silalahi Sabungan, sang pemula, boleh menggunakannya. Namun, perbedaan ini tidak memecah belah, mereka tetap rukun dan saling menghormati leluhur mereka, Silalahi Sabungan.

Di bagian bawah monumen, relief menggambarkan perjalanan leluhur marga Silalahi, termasuk kisah bagaimana sang Raja memilih istri. Digambarkan tujuh wanita muda dengan pakaian tersingkap seolah menawarkan diri. Namun, sang Raja justru memilih wanita yang tidak memamerkan kecantikannya. Adegan ini mengingatkan pada lakon Ande-ande Lumut dalam teater rakyat Jawa, di mana wanita terpilih adalah “klenting kuning”.

Setiap tahun, diadakan perjamuan besar di pelataran monumen ini, yang diselenggarakan secara bergantian oleh delapan marga turunan Silalahi. Meskipun desa ini tergolong miskin, udara di Silalahi sangat sejuk, seperti di hampir seluruh tanah Batak. Udara sejuk ini terasa seperti AC dari langit, cocok untuk menikmati durian, bahkan hingga ke kandang hewan, kebun, dan sawah mereka.