Jalur Trans-Papua Lumpuh Total Akibat Longsor Hebat di Yalimo
Hujan deras yang tak kunjung reda sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi telah menimbulkan malapetaka di jalur vital Trans-Papua, tepatnya di wilayah Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan. Bencana tanah longsor dilaporkan terjadi di sedikitnya enam titik strategis, seketika melumpuhkan total arus transportasi dan logistik yang menghubungkan Jayapura dengan Wamena. Kondisi geografis yang ekstrem di kawasan pegunungan ini semakin memperparah dampak bencana, meninggalkan puluhan kendaraan terjebak, beberapa di antaranya tertimbun material longsor, dan sebuah truk roda enam dilaporkan terseret arus deras hingga hanyut ke Kali Kil.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerapuhan infrastruktur di daerah pegunungan Papua yang rentan terhadap bencana alam, terutama saat musim penghujan tiba. Kerusakan parah tercatat di beberapa lokasi krusial. Ruas jalan di Tanjakan Area Camp Pemilu dan Yahuli dilaporkan putus total, sementara area Camp 90 dan Camp 80 tertimbun material longsoran yang tebal. Selain itu, infrastruktur jembatan di Kali Kil juga tak luput dari amukan banjir, hanyut terbawa arus dan menambah kompleksitas upaya pemulihan akses.
Kronologi dan Dampak Bencana
Hujan dengan intensitas tinggi mulai mengguyur wilayah Papua Pegunungan sejak Sabtu sore, (7/2/2026). Intensitas curah hujan yang terus meningkat selama semalaman memicu pergerakan tanah yang masif. Pada Minggu pagi, (8/2/2026), laporan mengenai tanah longsor mulai berdatangan dari berbagai titik di Kabupaten Yalimo. Tim gabungan dari kepolisian dan instansi terkait segera bergerak cepat untuk melakukan asesmen awal dan penanganan darurat.
Menurut data yang dihimpun, setidaknya enam titik dinyatakan terdampak parah oleh longsoran. Titik-titik tersebut meliputi:
- Tanjakan Area Camp Pemilu: Ruas jalan di lokasi ini mengalami putus total, membentuk jurang yang dalam akibat pergeseran tanah.
- Yahuli: Serupa dengan Camp Pemilu, jalur di Yahuli juga terputus, menghambat laju kendaraan.
- Camp 90: Area ini tertimbun material longsoran, diperkirakan mencapai kedalaman beberapa meter, membuat kendaraan yang melintas kesulitan untuk bergerak.
- Camp 80: Ruas jalan di Camp 80 juga mengalami kondisi serupa, tertimbun oleh campuran tanah, batu, dan vegetasi.
- Jembatan Kali Kil: Jembatan yang menjadi salah satu penghubung penting di jalur ini dilaporkan hanyut terbawa arus banjir yang sangat deras.
Dampak langsung dari bencana ini adalah kelumpuhan total transportasi. Puluhan kendaraan, mulai dari mobil pribadi, truk logistik, hingga kendaraan operasional, dilaporkan terjebak di berbagai titik. Beberapa unit kendaraan tertimbun material longsor, sementara satu unit truk roda enam yang coba menerobos terpaksa harus mengakui keganasan alam dan hanyut ke Kali Kil. Beruntung, pengemudi dan rekannya berhasil menyelamatkan diri sebelum kendaraan mereka terseret arus.
Upaya Penanganan dan Kendala di Lapangan
Menanggapi situasi darurat ini, pihak kepolisian dan tim SAR segera dikerahkan ke lokasi. Alat berat dari PT Hutama Karya, perusahaan yang bertanggung jawab atas pembangunan dan pemeliharaan jalan Trans-Papua, telah dikerahkan untuk membantu pembersihan material longsor. Namun, upaya pemulihan akses diprediksi akan memakan waktu dan menghadapi berbagai tantangan.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, mengonfirmasi bahwa hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian materiil diperkirakan cukup signifikan, mengingat banyaknya kendaraan yang terjebak dan tertimbun, serta rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan.
“Saat ini alat berat dari PT Hutama Karya telah dikerahkan ke lokasi untuk pembersihan material. Namun, personel di lapangan harus ekstra hati-hati karena kondisi tanah masih labil dan curah hujan masih tinggi,” ujar Kombes Cahyo Sukarnito dalam keterangan tertulisnya.
Kondisi tanah yang masih labil menjadi ancaman utama bagi para pekerja. Potensi longsor susulan sangat tinggi, sehingga setiap pergerakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Curah hujan yang masih tinggi juga memperlambat proses pembersihan dan berisiko memperparah kerusakan.
Kerapuhan Infrastruktur Pegunungan Papua
Jalur Jayapura–Wamena, yang kini lumpuh total akibat longsor, merupakan bagian integral dari jaringan Jalan Trans-Papua. Proyek monumental sepanjang 4.330 kilometer ini dirancang sebagai tulang punggung konektivitas darat di seluruh wilayah Papua. Ruas jalan yang melintasi Kabupaten Yalimo ini memiliki karakteristik geografis yang sangat menantang, berada di ketinggian yang ekstrem dengan formasi batuan yang rentan terhadap pergeseran tanah.
Secara teknis, segmen VI yang menghubungkan Jayapura dan Wamena membentang sepanjang kurang lebih 575 kilometer. Jalur ini melewati medan pegunungan yang curam, di mana sebagian besar areanya merupakan hutan lindung. Tingkat curah hujan tahunan di wilayah ini sangat tinggi, bisa mencapai 3.000 hingga 5.000 milimeter, menciptakan kondisi yang sangat kondusif bagi terjadinya tanah longsor.
Kondisi geologis dan hidrologis yang ekstrem ini menjadikan wilayah Yalimo sebagai salah satu titik paling rawan dalam seluruh jaringan jalan nasional tersebut. Para pengamat infrastruktur menilai, peristiwa longsor di Yalimo ini kembali menegaskan urgensi evaluasi dan mitigasi bencana yang komprehensif dalam setiap pembangunan infrastruktur di Papua.
Tanpa sistem drainase lereng yang memadai dan dinding penahan tanah yang kokoh, jalur-jalur vital seperti ini akan terus menghadapi ancaman serupa setiap kali musim penghujan tiba. Investasi dalam infrastruktur yang tahan bencana menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan konektivitas dan keselamatan masyarakat.
Saat ini, personel Satuan Lalu Lintas Polres Yalimo disiagakan di sejumlah titik aman untuk mengalihkan dan mencegah warga mendekati area zona merah longsor. Pemerintah menghimbau seluruh masyarakat untuk menunda seluruh aktivitas perjalanan melalui jalur darat Trans-Papua ini hingga ada pernyataan resmi dari otoritas terkait bahwa jalur tersebut telah dinyatakan aman untuk dilalui.



















