Perjuangan menurunkan berat badan setelah melahirkan seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu. Apalagi jika ditambah dengan keluhan fisik dan faktor risiko kesehatan keluarga. Lyta Karina, seorang ibu dua anak, berbagi pengalamannya dalam mengatasi hal ini melalui metode intermittent fasting (IF) dan defisit kalori, sambil tetap menyusui dan mengurus kedua buah hatinya.
Awalnya, Lyta memiliki berat badan 97 kg saat hamil anak kedua. Setelah melahirkan, berat badannya hanya turun 6 kg. Ia pun mulai merasakan berbagai keluhan seperti sesak napas, kesulitan tidur, kaki bengkak, hingga nyeri tumit. Kondisi ini mendorongnya untuk mengubah gaya hidup, terutama karena ia memiliki riwayat PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) dan risiko diabetes dalam keluarga.
Lyta menceritakan, “Setelah melahirkan, saya memutuskan untuk memulai IF dan defisit kalori, serta melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki, senam, dan angkat beban 4 kg. Alhamdulillah, saya berhasil hamil alami setelah program hamil saat berat badan saya mencapai 60 kg.”
Menyesuaikan Pola Makan dan Rutinitas Sebagai Ibu Dua Anak
Menjalankan pola makan tanpa gula dan tepung, serta menerapkan IF, memerlukan penyesuaian yang signifikan dengan rutinitas sehari-hari sebagai ibu dua anak. Lyta memanfaatkan masa cuti bersalinnya untuk menyiapkan makanan sehat dan berolahraga. Dukungan dari keluarga juga menjadi faktor penting dalam memotivasinya.
“Saya tidur paling lama saat menyiapkan segala sesuatu ketika semua orang sudah tidur, dan bangun paling pagi untuk berolahraga. Dukungan dari orang terdekat benar-benar membangkitkan semangat saya,” ungkap Lyta.
Ia melakukan olahraga ringan di rumah menggunakan treadmill dan mengikuti senam dari YouTube selama tiga bulan. Sambil berolahraga, ia tetap memastikan bahwa kedua anaknya tetap terurus dengan baik.
Untuk mengatasi rasa lapar di jam-jam rawan, Lyta memilih untuk minum banyak air putih dan membuat camilan sehat dari kacang-kacangan atau jeli tanpa gula. Ketika berada di luar rumah, ia lebih memilih makanan rendah minyak dan tinggi serat, seperti Vietnam spring roll, salad, siomay, capcay, atau membawa bekal seperti telur rebus dan overnight oat.
Perubahan Fisik dan Mental yang Signifikan
Setelah menjalani diet dan olahraga secara konsisten, Lyta merasakan perubahan fisik yang signifikan. Ia berhasil menurunkan berat badan hingga 27 kilogram dalam waktu tiga bulan. Keluhan-keluhan yang sebelumnya ia rasakan, seperti kesemutan di tumit, sesak napas, dan kesulitan tidur, berangsur-angsur menghilang. Bahkan, pakaiannya pun menjadi lebih pas. Kini, ia bisa mengenakan pakaian berukuran M-L, yang sebelumnya berukuran 3XL.
Selain perubahan fisik, Lyta juga merasakan perubahan positif pada kondisi mentalnya. Ia merasa lebih percaya diri dan bahagia. Ia juga aktif berbagi pengalamannya di media sosial, membangun komunitas dengan ibu-ibu lain yang menghadapi tantangan serupa.
“Semakin aktif bergerak, saya jadi tidak malas-malasan. Badan lebih sehat, mental lebih happy,” ujarnya.
Tips Diet Sehat Pasca Melahirkan dari Lyta Karina
Lyta menekankan pentingnya kesabaran dan fokus pada kesehatan anak, terutama bagi ibu menyusui. Berikut adalah beberapa tips diet sehat pasca melahirkan yang ia bagikan:
Pola makan sehat: Konsumsi buah-buahan, sayuran, dan protein yang cukup. Hindari makanan tinggi gula dan lemak.
Olahraga ringan: Lakukan jalan kaki, senam online, atau latihan ringan di rumah.
Hidrasi yang cukup: Minum air putih yang cukup untuk menjaga energi dan produksi ASI.
Sistem dukungan (Support system): Dapatkan dukungan dari keluarga atau teman yang dapat memotivasi Anda dalam proses diet.
Realistis dan sabar: Penurunan berat badan pasca melahirkan bukanlah proses yang instan. Setiap tubuh memiliki respons yang berbeda-beda.
Lyta menambahkan, “Jaga pola makan, aktif bergerak, tetapkan tujuan yang realistis, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri. Dukungan dari orang terdekat sangat membantu menjaga semangat.”
Kisah Lyta Karina membuktikan bahwa menurunkan berat badan pasca melahirkan dapat dicapai dengan menerapkan IF, defisit kalori, pola makan sehat, dan olahraga ringan, tanpa membahayakan kesehatan ibu atau bayi. Konsistensi, penyesuaian rutinitas, dan dukungan keluarga menjadi kunci sukses dalam transformasi fisik dan mental.

















