Berita

Mengenal Rasa Khas Indonesia: Camilan Unik dari Tanah Liat

×

Mengenal Rasa Khas Indonesia: Camilan Unik dari Tanah Liat

Sebarkan artikel ini

Sejarah dan Proses Pembuatan Ampo

Ampo adalah salah satu camilan tradisional yang unik dan menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia. Meskipun secara visual terlihat seperti lintingan cokelat, ampo sebenarnya terbuat dari tanah liat yang memberikan cita rasa yang khas. Makanan ini dikenal sebagai makanan khas Tuban, meskipun bisa ditemukan juga di berbagai kota Jawa Tengah dan Jawa Timur lainnya.

Pada tahun 2024, ampo resmi diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Republik Indonesia. Hal ini menunjukkan pentingnya ampo dalam konteks budaya dan tradisi masyarakat setempat.

Proses pembuatan ampo tidak dilakukan secara sembarangan. Bahan dasar utamanya adalah tanah kering yang sudah ditumbuk hingga halus seperti tepung dan diayak dengan saringan. Kerikil dan tanah lainnya dibuang agar hanya tersisa bahan yang sesuai. Setelah itu, tanah yang sudah berbentuk tepung diberi sedikit air dan dibentuk. Adonan ampo dibentuk seperti kue semprong sambil diolesi minyak sayur yang dicampur abu jerami. Selanjutnya, ampo dibakar selama 5 jam di atas tungku api.

Baca Juga :  Identitas dan Fakta Wanita 22 Tahun Tewas di Kamar Hotel, Hamil dan Mulut Tersumpal Baju Dalam

Cita Rasa dan Tekstur Ampo

Proses pembakaran membuat ampo memiliki rasa yang khas. Saat memakannya, kamu akan langsung merasakan aroma seperti bau kerak gosong atau hangus. Sedangkan untuk teksturnya, ampo sangat renyah seperti keripik. Rasanya yang unik menjadikannya sebagai camilan yang tidak biasa namun tetap diminati oleh sebagian kalangan.

Kandungan Gizi Ampo

Menurut penjelasan dari Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, ampo tidak memiliki nilai gizi yang signifikan karena bahan dasarnya mengandung silika dan alumina yang tidak mudah larut di air dan tidak dapat diserap oleh tubuh. Namun, keamanannya tergantung pada sumber tanah yang digunakan.

Jika tanah yang diambil berasal dari daerah selatan gunung berapi dan masih berada di area pegunungan, maka tanah tersebut masih relatif bersih. Namun, jika tanah diambil dari dekat ladang atau pemukiman yang banyak aktivitas seperti pemupukan, ada kemungkinan tanah tercemar pestisida dan logam berat.

Baca Juga :  Cerita Alfian Tanjung Tentang Sel Ahok di Mako Brimob Kelapa Dua

Popularitas Ampo dari Masa ke Masa

Ampo pernah menjadi makanan populer yang sering disajikan dalam acara hajatan atau sebagai oleh-oleh. Namun, popularitasnya mulai menurun sejak awal 1990-an. Penyebabnya antara lain adalah jumlah produsen ampo yang terus berkurang akibat tidak adanya regenerasi atau beralih profesi.

Selain itu, proses pembuatan ampo yang membutuhkan waktu hingga beberapa hari tidak bisa dipercepat, serta bahan dasarnya sulit dicari. Tanah yang digunakan harus menggunakan tanah lempung sawah yang padat, empuk, dan berwarna merah. Minat masyarakat terhadap ampo juga semakin berkurang karena semakin banyaknya camilan lain dengan rasa yang lebih cocok dengan selera masyarakat masa kini.

Saat ini, ampo umumnya hanya digunakan dalam acara pernikahan atau sunatan. Meskipun demikian, keberadaannya tetap menjadi simbol budaya yang patut dilestarikan.