Lokal

Motif Dendam Trauma: Pelajar SMA Habisi Ayah di Karawang

×

Motif Dendam Trauma: Pelajar SMA Habisi Ayah di Karawang

Sebarkan artikel ini

Tragedi di Karawang: Remaja Tikam Ayah Kandung Hingga Tewas, Trauma Masa Kecil Jadi Akar Masalah

Sebuah peristiwa tragis yang menggemparkan terjadi di Perumahan Dinas Peruri, Desa Telukjambe, Kabupaten Karawang. Seorang remaja berinisial B dilaporkan tega menghilangkan nyawa ayah kandungnya, RA (44 tahun), dengan menggunakan senjata tajam. Namun, di balik aksi mengerikan ini, terungkap sebuah cerita pilu mengenai trauma mendalam yang telah lama dipendam oleh sang pelaku sejak usia dini.

Menurut pendampingan yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Karawang, B mengaku telah menyimpan perasaan marah dan ketakutan yang luar biasa terhadap ayahnya selama bertahun-tahun. Kepala UPTD PPA Karawang, Karina Nur Regina, menjelaskan bahwa B kerap menjadi saksi dan bahkan korban dari berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh ayahnya.

“B telah memendam perasaan ini sejak ia masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak,” ujar Karina. Ia menambahkan bahwa kekerasan tersebut tidak hanya ditujukan kepada B, tetapi juga kerap dialami oleh ibunya. Sejak kecil, B telah menyaksikan dan mengalami secara langsung kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya, yang kemudian menumpuk menjadi trauma mendalam.

Mimpi Buruk yang Menjadi Kenyataan Tragis

Peristiwa berdarah ini terjadi pada Rabu dini hari, 28 Januari 2026, sekitar pukul 03.30 WIB. Malam sebelum kejadian, B sempat membaca beberapa artikel berita mengenai kasus kekerasan yang melibatkan ayah dan anak. Bacaan tersebut rupanya terbawa hingga ke alam bawah sadarnya ketika ia terlelap.

Dalam tidurnya, B dihantui oleh mimpi buruk. Ia bermimpi melihat ayahnya memegang pisau dan menyerangnya ketika ia sedang tertidur. “Mimpi tersebut membuat B terbangun dalam kondisi panik luar biasa. Ia merasa apa yang terjadi dalam mimpinya bisa saja benar-benar terjadi di dunia nyata,” ungkap Karina.

Baca Juga :  Hardiknas 2026, Amsakar-Li Claudia Menari Zapin Ngenang Bersama 5.120 Pelajar

Dalam keadaan psikologis yang tidak stabil, ketakutan dan trauma masa lalu yang selama ini terpendam kembali muncul ke permukaan. B kemudian berpikir bahwa jika skenario dalam mimpinya benar-benar terjadi, lebih baik ia yang bertindak lebih dulu. “Dari pengakuannya, setelah terbangun dari mimpi buruk, ia langsung mengambil pisau dan menuju kamar ayahnya. Di situlah peristiwa tragis itu terjadi,” jelas Karina.

Penyesalan Mendalam dan Dukungan Psikologis

Usai kejadian, B mengungkapkan rasa penyesalannya yang mendalam. Namun, secara emosional, ia mengaku kesulitan untuk menangis atau mengekspresikan perasaannya secara normal. Salah satu penyesalan terbesar yang dirasakan B adalah fakta bahwa adiknya turut menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut. Adik B diketahui mengikuti B ke kamar ayah mereka dan melihat langsung adegan penusukan tersebut.

“B sempat bertanya kepada adiknya apakah perbuatannya itu benar. Sang adik menjawab bahwa apa yang dilakukan B adalah salah. Dari situ, B merasa sangat bersalah karena telah mengecewakan adiknya,” tutur Karina.

Saat ini, UPTD PPA Kabupaten Karawang terus memberikan pendampingan psikologis kepada B. Rencananya, pendampingan ini akan diperluas dengan melibatkan ibu kandung B untuk menggali lebih dalam riwayat KDRT yang dialami oleh keluarga tersebut. “Meskipun dalam prosesnya anak ini adalah pelaku, kami tetap memberikan pendampingan secara psikologis dan juga mendampingi proses hukumnya,” tegas Karina.

Kronologi Kejadian Menurut Pihak Kepolisian

Sebelumnya, warga Perumahan Rumah Dinas Peruri digemparkan oleh kasus pembunuhan seorang ayah yang dilakukan oleh anaknya sendiri. Korban, berinisial RA, berusia 44 tahun dan merupakan karyawan BUMN Peruri, tewas di tangan anaknya sendiri yang masih di bawah umur, berinisial B, yang berstatus pelajar.

Baca Juga :  Trimester 1 Berlalu, Zaskia Sungkar Siap Jalani Trimester 2 untuk Balas Dendam

Kasi Humad Polres Karawang, Ipda Cep Wildan, membenarkan peristiwa tersebut. Pihaknya melalui Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pidana Perlindungan Orang (PPO) telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). “Iya benar, korban sempat dibawa ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia,” ujar Wildan.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.30 WIB di Perumahan Dinas Peruri. Korban RA mengalami luka serius akibat serangan senjata tajam. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, terduga pelaku adalah anak korban sendiri yang masih duduk di bangku SMA. Pelaku diduga menggunakan sebilah pisau dapur untuk melakukan penyerangan.

Keterangan sementara menyebutkan bahwa kejadian bermula ketika pelaku terbangun dari tidurnya dan mengalami mimpi buruk yang melibatkan korban dan ibunya. Merasa takut mimpi tersebut menjadi kenyataan, pelaku kemudian mengambil pisau dapur dan mendatangi kamar korban yang sedang tertidur.

“Dalam kondisi kamar yang gelap, pelaku diduga langsung menyerang korban dengan membacok bagian bawah telinga hingga ke belakang leher. Korban yang terbangun dalam kondisi bersimbah darah sempat keluar kamar dan meminta pertolongan sebelum akhirnya terkapar di depan rumah,” beber Wildan.

Saksi yang mendengar keributan segera mendatangi lokasi dan menemukan korban dalam kondisi luka robek di bagian wajah hingga leher, dada, serta kaki sebelah kiri. Korban segera dilarikan ke RS Primaya untuk mendapatkan perawatan medis, sementara terduga pelaku diamankan oleh warga dan diserahkan kepada pihak kepolisian.