Visi VinFast dalam Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia
VinFast, salah satu brand kendaraan listrik terkemuka di Indonesia, memiliki ambisi besar untuk menguasai pasar mobil listrik. Tidak hanya fokus pada penjualan, VinFast juga berkomitmen untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang lengkap dan berkelanjutan di Indonesia.
Salah satu langkah nyata dari komitmen ini adalah pendirian pabrik di Subang, Jawa Barat. Vice Chairwoman of Vingroup, Madam Dương Thị Hoàn, menyampaikan bahwa keberhasilan penjualan mobil VinFast di Vietnam menjadi motivasi utama untuk mengekspansi bisnis ke pasar internasional, termasuk Indonesia.
“VinFast bukan sekadar proyek bisnis, melainkan sebuah bentuk pengabdian dan dedikasi. Tahun ini, perjalanan global VinFast dan Vingroup telah menorehkan berbagai pencapaian penting di sejumlah pasar internasional, khususnya di Indonesia. Kami tidak hanya menghadirkan mobil listrik cerdas, tetapi juga membangun ekosistem terpadu ‘For a Green Future’, yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan melalui kerja sama di berbagai sektor seperti energi terbarukan, kota pintar, dan inisiatif ramah lingkungan lainnya,” ujarnya.
Pembangunan pabrik di Subang merupakan wujud nyata dari rasa bangga VinFast karena mobil-mobil listrik mereka mendapat sambutan hangat dari konsumen Indonesia. Bahkan beberapa model berhasil masuk ke dalam daftar kendaraan listrik perkotaan terlaris di pasar ini.
Strategi Produksi Lokal untuk Mengurangi Ketergantungan Impor
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto (dikenal sebagai Kerry), menjelaskan bahwa pembuatan pabrik juga merupakan strategi untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan adanya insentif pajak dari Pemerintah Indonesia untuk kendaraan listrik CBU hanya sampai Desember 2026, VinFast mempercepat langkah-langkah untuk mewujudkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“Berakhirnya insentif memicu kami untuk mempercepat dalam mewujudkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Salah satunya melalui pembangunan pabrik di Subang sehingga nanti menjadi produksi lokal dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi,” ujar Kerry.
Menurutnya, hadirnya pabrik yang notabene produk-produk VinFast menjadi buatan lokal, membuatnya optimistis pasar mobil listrik akan tetap kompetitif meskipun insentif pajak telah dihapus pemerintah. “Dengan produksi lokal ini, maka pasokan barang bisa dijaga stabilitasnya sekaligus menekan biaya,” tambahnya.
Investasi dan Pengembangan Ekosistem
Kehadiran pabrik juga sesuai dengan keinginan pemerintah dari sisi investasi. “Karena nanti tidak hanya soal produksi kendaraannya tetapi juga suku cadang hingga charging station. Dan, Indonesia punya semua potensi untuk menjadi pusat kendaraan listrik di Asia Tenggara itu sebabnya kami bangun ekosistem ini,” ujar Kerry.
Selain untuk memenuhi pasar domestik, ke depannya pabrik di Subang juga akan menjadi hub ekspor untuk kebutuhan pasar ASEAN. Sebagai tahap awal, kapasitas produksi pabrik di Subang adalah 50.000 kendaraan per tahun. “Di tahap awal, fokus produksi VF3. Namun, ke depannya juga akan memproduksi tipe-tipe lainnya termasuk skuter listrik dan truk. Targetnya, pabrik mulai percobaan produksi pada Desember 2025 dan siap beroperasi penuh mulai Maret 2026,” jelasnya.
Pendanaan dan Pengembangan Lahan
Pendirian pabrik di Subang tersebut didukung oleh pendanaan dari BNI dan Maybank Indonesia sebesar 110 juta dolar AS atau sekitar Rp1,85 triliun. Rencananya, akan ada tambahan dana lagi sebesar 80 juta dolar AS.
Secara total, pabrik di Subang akan berdiri di atas lahan seluas 170 hektare yang seluruhnya telah memenuhi ketentuan tata ruang. Lahan tersebut tidak berada di kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). “Dari 170 hektare itu, belum seluruhnya terbangun pabrik. Bertahap. Untuk tahap awal ini, pabrik akan menyerap tenaga kerja sekitar 1.000 orang dengan kapasitas produksi sekitar 50.000 per tahun. Ketika nanti pabrik sudah lengkap, bisa menyerap 5 hingga 6 kali lipat tenaga kerja dari yang saat ini,” ujar Kerry.
Pembangunan Charging Station untuk Mendukung Infrastruktur
Selain pabrik, pembangunan charging station juga menjadi atensi utama melalui anak usahanya yang fokus pada pembangunan charging station. Kerry memahami, salah satu keraguan untuk membeli kendaraan listrik karena kekhawatiran soal keberadaan charging station saat bepergian ke daerah lain.
“Pembangunan tempat pengisian daya ini adalah salah satu atensi kami sebelum melakukan penetrasi pasar secara masif. Dalam pembangunan ini, kami bermitra dengan berbagai pihak, salah satunya dengan Pos Indonesia. Kini, hampir di seluruh kantor pos di Indonesia, telah ada tempat pengisian daya,” ujarnya.
Dia mengklaim, tempat pengisian daya V-Green tersedia hampir di seluruh Indonesia, kecuali Maluku dan Papua. “Selain dengan kantor pos, kami juga bermitra dengan berbagai pihak untuk pembangunan tempat pengisian daya, seperti Alfamart, Indomaret, Jasa Marga, dan lainnya,” tambahnya.
Kerry menargetkan, akan membangun 30.000 titik tempat pengisian daya di seluruh Indonesia. “Dengan tersebarnya tempat pengisian daya ini hampir di seluruh Indonesia, kami berharap warga tidak ragu lagi untuk membeli mobil listrik,” katanya.


















