Ringkasan Berita:
- Harga telur di Pasar Mandalika Bertais awal 2026 masih bertahan tinggi, dengan telur merah Rp50.000 per tray sejak September 2025.
- Kenaikan harga pakan membuat margin peternak menipis meski permintaan tinggi, sementara aktivitas pasar cenderung lesu.
Laporan Wartawan , Ahmad Wawan Sugandika
, KOTA MATARAM –Mengawali tahun 2026, harga komoditas telur di Pasar Mandalika Bertais terpantau masih bertahan di level tinggi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga telur merah hingga saat ini belum mengalami penurunan sejak awal masa Maulid pada September 2025 lalu. Harga tetap stabil di angka Rp50.000 per tray.
Hal tersebut dibenarkan oleh salah seorang pedagang telur di Pasar Mandalika Bertais, Marcel.
“Memang telur tidak pernah turun harganya, tetap di harga Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per tray,” ucap Marcel saat ditemui, Minggu (4/1/2026).
Kenaikan juga terlihat pada jenis telur lainnya. Telur putih kini menyentuh harga Rp60.000 per tray, sementara telur puyuh dijual seharga Rp35.000 per tray. Untuk satuan yang lebih kecil, telur asin saat ini dibanderol dengan harga Rp2.500 per butir.
Di lain pihak, pengusaha telur yang juga memiliki usaha ternak ayam petelur di Bertais, Farida, mengaku kenaikan harga telur ini sejalan dengan tingginya harga pakan ternak saat ini.
Terlebih, walaupun permintaan telur tinggi akibat adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hal tersebut diakuinya tidak memberikan peningkatan keuntungan yang signifikan.
Di sisi produksi, stok harian yang Farida pasok ke pasar mencapai 18 ikat tray yang dihasilkan dari peternakannya dengan populasi mencapai 10.000 ekor ayam.
Namun, ia mengeluhkan kondisi ekonomi yang menjepit. Meskipun harga jual di pasar tergolong tinggi, kenaikan harga pakan yang terus terjadi membuat margin keuntungan menipis, bahkan tidak memberikan keuntungan sama sekali bagi para peternak.
“Walaupun ada permintaan yang banyak dari MBG ini, tapi tidak berpengaruh besar karena memang harga telurnya mahal, tapi biaya pakan dan lainnya juga mahal. Sama saja dengan bulan-bulan sebelum naiknya harga telur,” tegasnya.
Kondisi pedagang saat ini juga dihadapkan pada dilema lantaran aktivitas pasar yang sedang lesu atau cenderung kolaps. Kondisi ini dipicu oleh adanya jeda atau libur pada program MBG.
Meski program tersebut sedang tidak berjalan, hal ini dilaporkan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas harga di tingkat pedagang maupun stok yang tersedia.

















