Lokal

Pohon Langit Bandung: Kisah Pencegahan Bencana

×

Pohon Langit Bandung: Kisah Pencegahan Bencana

Sebarkan artikel ini

Reboisasi Udara: Misi Aeroseeding Selamatkan Lahan Kritis Bandung

BANDUNG, 31 Januari 2026 – Suasana di landasan pacu Lapangan Udara (Lanud) Husein Sastranegara, Kota Bandung, pada hari ini terasa berbeda. Sebuah pesawat militer jenis CASSA NC 212 I yang biasanya digunakan untuk keperluan latihan, kini bersiap lepas landas dengan muatan yang tak lazim: jutaan bibit tanaman. Para prajurit TNI terlihat sibuk memasukkan karung-karung berisi bibit ke dalam perut pesawat sejak pagi. Aroma khas tanah dan dedaunan bercampur dengan bau yang sedikit menyengat dari kotoran hewan, yang ternyata merupakan media tanam bagi bibit-bibit berharga ini.

Metode yang digunakan dalam misi ini dikenal sebagai aeroseeding, sebuah teknik penyebaran bibit melalui udara. Meskipun tergolong jarang, aeroseeding terbukti efektif untuk melakukan reboisasi di area-area yang sulit dijangkau oleh kendaraan darat. Pesawat CASSA NC 212 I dari Skadron Udara 4 Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh, Malang, ditugaskan untuk terbang rendah dan menebarkan bibit-bibit ini ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.

Namun, di balik aksi penyelamatan lingkungan yang mulia ini, tersimpan sebuah cerita kelam yang menjadi pemicunya. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menceritakan bahwa gagasan aeroseeding ini lahir dari tragedi tanah longsor yang melanda salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung pada bulan Desember 2025. Bencana alam tersebut menyebabkan ratusan warga terdampak dan terpaksa mengungsi. Tragisnya, hingga saat ini, tiga korban yang tertimbun longsor belum berhasil ditemukan.

Pengalaman pahit tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Kabupaten Bandung. Pihak pemerintah kini tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga pada upaya pencegahan jangka panjang untuk meminimalkan risiko bencana di masa depan.

Baca Juga :  Gunakan Kardus Makanan Ringan, Peredaran Rokok Tanpa Cukai Masuk Ke Natuna

“Pasca bencana kemarin, itu salah satu awal kenapa dilakukan aeroseeding. Kami berunding, bicara, mengadakan rapat rutin setiap bulan. Nah, setelah itu timbul gagasan ini,” ungkap Dadang, Sabtu (31/1/2026).

Perjalanan untuk mewujudkan program aeroseeding ini tidaklah mudah. Kendala awal muncul ketika Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat tidak memiliki ketersediaan bibit yang memadai untuk program reboisasi berskala besar. Menghadapi situasi ini, Bupati Dadang Supriatna terinspirasi untuk melibatkan masyarakat secara langsung. Ide brilian ini muncul menjelang pembagian rapor siswa di sekolah-sekolah.

“Jadi pada waktu pembagian rapor, anak-anak kami ajak untuk memberikan bibit tanaman. Dan dari situ, terkumpullah 5,2 juta bibit yang tentunya hampir 8 ton, jika ditimbang bersama,” jelasnya dengan bangga.

Inisiatif masyarakat ini berhasil mengumpulkan jutaan bibit dari berbagai jenis tanaman, dengan dominasi bibit Albasiah dan Gamelina. Sisanya adalah bibit tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan. Keragaman jenis bibit ini diharapkan mampu memperkuat struktur tanah, mencegah erosi, serta memberikan manfaat ekologis dan ekonomi jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Program ambisius ini menunjukkan kekuatan kolaborasi. “Ini tidak menggunakan APBD. Ini betul-betul Corporate Social Responsibility (CSR) dengan kolaborasi pola Pentahelix. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” ujar Dadang, menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi berbagai elemen masyarakat, akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan media.

Target Area dan Manfaat Aeroseeding

Penebaran bibit tanaman melalui udara ini difokuskan pada wilayah-wilayah yang teridentifikasi sebagai kawasan kritis dan rawan bencana. Berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan, terdapat tiga desa utama yang mengalami tingkat kekritisan lahan yang tinggi:

  • Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari: Seluas 123 hektare.
  • Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari: Seluas 137 hektare.
  • Desa Girimulya, Kecamatan Pacet: Sekitar 478 hektare.
Baca Juga :  Batam Tawarkan Stabilitas Regulasi kepada Investor Eropa dan Jepang

Secara total, area yang menjadi target aeroseeding mencapai 738 hektare. Namun, jangkauan misi ini juga mempertimbangkan area-area yang sulit diakses oleh kendaraan darat, termasuk wilayah perbatasan dengan kabupaten tetangga seperti Garut, Cianjur, Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat.

Manfaat dari program aeroseeding ini sangatlah signifikan. Selain upaya mitigasi bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang, reboisasi ini juga bertujuan untuk:

  • Memulihkan Ekosistem: Mengembalikan tutupan vegetasi pada lahan yang gundul untuk mendukung keanekaragaman hayati.
  • Meningkatkan Kualitas Air: Akar tanaman membantu menyerap dan menyaring air, sehingga meningkatkan kualitas sumber air bersih.
  • Mengurangi Dampak Perubahan Iklim: Pohon berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca utama.
  • Mendukung Ketahanan Pangan: Penanaman pohon buah-buahan dan kayu-kayuan dapat memberikan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui hasil hutan non-kayu dan kayu.
  • Memperbaiki Kualitas Udara: Vegetasi berperan sebagai penyaring polutan udara alami.

Misi aeroseeding ini menjadi bukti nyata bahwa dengan semangat gotong royong dan inovasi, tantangan lingkungan yang berat sekalipun dapat diatasi. Pengalaman pahit dari bencana menjadi katalisator untuk aksi nyata yang memberikan harapan baru bagi kelestarian alam dan keselamatan masyarakat Kabupaten Bandung.