Gelaran Lari di Jakarta: Pendorong Ekonomi Lokal Bernilai Puluhan Miliar Rupiah
Jakarta, ibu kota Indonesia, terus membuktikan diri sebagai magnet bagi berbagai kegiatan berskala besar, tak terkecuali ajang lari. Berbagai gelaran lari yang diselenggarakan di kota metropolitan ini bukan hanya sekadar wadah olahraga dan rekreasi, namun juga telah menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang signifikan, menyumbangkan puluhan miliar rupiah bagi kas daerah.
Salah satu kontribusi paling menonjol datang dari ajang bergengsi, Jakarta International Marathon (Jakim) 2025. Even yang baru saja digelar pada bulan Juni lalu ini tercatat mampu menghasilkan pemasukan luar biasa, mencapai angka fantastis Rp 85 miliar. Angka ini merupakan hasil akumulasi dari berbagai sektor yang terdampak langsung maupun tidak langsung oleh penyelenggaraan Jakim 2025.
“Contoh yang paling konkret adalah Jakarta International Marathon. Kami sudah melakukan perhitungan dan pengukuran yang mendalam. Ajang tersebut terbukti memberikan kontribusi yang signifikan, mulai dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perhotelan, hingga berbagai layanan pendukung lainnya, dengan total kurang lebih Rp 85 miliar,” ungkap Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, usai berpartisipasi dalam JEKATE Running Series 2025 di Epiwalk Sudirman, Jakarta Selatan, pada Minggu, 12 Desember 2025.
Lebih dari Sekadar Event Internasional
Namun, kontribusi ekonomi dari gelaran lari di Jakarta tidak hanya terbatas pada ajang berskala internasional seperti Jakim. Gubernur Pramono Anung menekankan bahwa Jakarta secara rutin juga menjadi tuan rumah bagi berbagai event lari tingkat lokal. Meskipun skalanya mungkin lebih kecil dibandingkan Jakim, partisipasi dan dampak ekonomi dari event-event lokal ini dinilai cukup signifikan dan patut diperhitungkan.
Perkiraan pemasukan dari keseluruhan event lari lokal yang diselenggarakan sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai sekitar setengah dari kontribusi yang berhasil dihimpun oleh Jakim 2025. Hal ini menunjukkan betapa merata dan luasnya dampak positif dari aktivitas lari di Jakarta.
“Dan ini terlihat dari realisasi pendapatan daerah Jakarta hingga saat ini, memasuki bulan Desember, di mana penerimaan pajak dari berbagai sektor terkait penyelenggaraan event lari ini relatif sudah terpenuhi sesuai target yang ditetapkan,” tambah Gubernur Pramono Anung, menggarisbawahi keberhasilan program-program yang telah dijalankan.
JEKATE Running Series: Inisiatif Baru untuk Semangat Lari
Pada Minggu pagi yang sama, Gubernur Pramono Anung turut menunjukkan semangatnya dalam dunia lari dengan berpartisipasi dalam JEKATE Running Series 2025. Beliau secara pribadi mengikuti kategori 5 kilometer (5K) dan berhasil menyelesaikan lintasan tersebut dalam waktu sekitar 45 menit.
Acara JEKATE Running Series 2025 ini sendiri dihadiri oleh sekitar 4.500 peserta, menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan olahraga lari.
“Hari ini kita secara resmi meluncurkan sebuah rangkaian acara lari baru di Jakarta yang diinisiasi oleh PD PAM Jaya, yang kami sebut dengan JEKATE Running Series,” ujar Gubernur Pramono Anung, menjelaskan latar belakang penyelenggaraan acara tersebut.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa JEKATE Running Series ini rencananya akan diselenggarakan di lima kota berbeda di wilayah Jakarta. Terdapat dua kategori lomba yang ditawarkan, yaitu 5K dan 10K, memberikan pilihan bagi para pelari dengan berbagai tingkat kebugaran.
“Ini menunjukkan bahwa Jakarta benar-benar menjadi kota yang sangat terbuka bagi siapa saja yang memiliki inisiatif untuk menyelenggarakan berbagai macam event, termasuk event lari seperti ini. Kami menyambut baik setiap kolaborasi yang dapat memberikan manfaat positif bagi masyarakat dan perekonomian daerah,” pungkasnya.
Keberhasilan gelaran lari di Jakarta, baik berskala internasional maupun lokal, mencerminkan potensi besar olahraga ini sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata di ibu kota. Dengan terus berkembangnya ekosistem lari, diharapkan akan semakin banyak event berkualitas yang terselenggara, menarik lebih banyak partisipan, dan pada akhirnya memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Jakarta.

















