Leuwigajah: Luka yang Tak Terlupakan
Hujan tak pernah sekadar menurunkan air. Ia datang membawa serta beban ingatan, mengingatkan pada malam kelam ketika gunung sampah di Leuwigajah bergerak, mengunyah rumah, mengunyah nama, mengubur kehidupan. Leuwigajah, sebuah nama yang kini tersangkut getir di kerongkongan kota, menjadi simbol dari kegagalan kita dalam mengelola apa yang kita buang.
Kita cenderung membuang segala sesuatu yang dianggap busuk, tak berguna, atau problematik ke pinggir, berharap masalah itu hilang dari pandangan. Namun, ironisnya, pinggiran itu seringkali memuntahkan kembali apa yang telah kita singkirkan, kali ini dengan korban yang lebih menyakitkan: tubuh-tubuh yang tak sempat berlari dari ancaman yang kita ciptakan sendiri. Angin yang berbisik di sana kini membawa aroma tanah basah bercampur dengan penyesalan yang mendalam.
Pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar belajar dari tragedi seperti Leuwigajah? Atau kita hanya pandai dalam menciptakan “gunung-gunung” baru, dengan nama yang berbeda, di lokasi yang berbeda pula, namun pada dasarnya mengulangi kesalahan yang sama, memangsa kehidupan yang sama? Leuwigajah bukan hanya sekadar sebuah bencana alam. Ia adalah cermin yang menyakitkan, refleksi dari kelalaian kita yang kita tolak untuk dilihat, sebuah pengingat akan harga yang harus dibayar dari ketidakpedulian.
Bunga Rawa: Keabadian yang Terenggut
Hutan purba menyimpan ingatan yang jauh lebih panjang, lebih tua dari beton kota, dari janji-janji kosong, dari segala sesuatu yang dibangun oleh manusia. Di kedalaman hutan itulah, bunga rawa mekar dengan kebebasannya, tanpa memerlukan izin dari siapa pun. Keabadiannya bukanlah hasil dari penjagaan ketat, melainkan dari kemampuannya untuk bertahan di tanah yang seringkali terabaikan, tanah yang tak banyak diinginkan oleh peradaban modern.
Namun, kedamaian itu terusik oleh datangnya roda gerigi. Tajam, rakus, dan dilegitimasi oleh regulasi. Cakram besi merobek akar-akar tua, mengunyah rumpun demi rumpun. Kehidupan yang telah tumbuh selama ribuan tahun diratakan dalam hitungan jam, digantikan oleh keserakahan yang tak mengenal batas. Bunga rawa, yang dulu simbol keabadian, kini menjelma menjadi bunga api yang membakar harapan. Asap hitam mengepul ke langit, bagai doa yang tak kunjung menemukan jawaban.
Mereka menyebutnya “hutan lindung”. Namun, di mana letak perlindungan ketika ancaman datang bukan dari pemburu liar, melainkan dari surat keputusan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang? Ranca Upas, sebuah nama yang dulu identik dengan keindahan alam, kini terkikis. Namanya mungkin masih terukir di peta, namun rawa itu kini hanya tinggal cerita, cerita yang diceritakan dengan kepala tertunduk, penuh kepedihan.
Di manakah bunga rawa akan kembali mekar? Atau apakah kita telah terbiasa hidup di kota yang kehilangan rawa-rawanya? Terbiasa tanpa bunga yang tak memiliki nilai jual, terbiasa tanpa keabadian, hanya mengejar apa yang menguntungkan semata? Ini adalah pertanyaan krusial yang harus kita renungkan.
Trisno Yuwono: Suara dari Pinggiran
Dalam dunia seni dan sastra, Trisno Yuwono dikenal luas dengan panggilan akrabnya, Abah Omtris. Beliau adalah sosok yang kerap menyuarakan kepedihan dan realitas sosial melalui karya-karyanya. Musik dan lagu balada yang dibawakannya seringkali merupakan gubahan dari puisi-puisi yang ia ciptakan, dengan fokus tajam pada isu-isu sosial yang mendesak, kelestarian ekologi yang terancam, serta pentingnya menjaga ingatan kolektif masyarakat.
Melalui lirik-liriknya yang menggugah, Abah Omtris mengajak kita untuk tidak melupakan pelajaran dari masa lalu, seperti tragedi di Leuwigajah, dan untuk merenungkan nasib alam yang semakin tergerus, seperti yang terjadi pada bunga rawa di Ranca Upas. Ia mengingatkan kita bahwa setiap tindakan, sekecil apapun, memiliki dampak yang luas, terutama bagi lingkungan dan masyarakat yang paling rentan. Suaranya adalah pengingat bahwa seni memiliki kekuatan untuk merefleksikan, mengkritik, dan pada akhirnya, menginspirasi perubahan positif.

















