Opini

Putus-Nyambung dengan Orang Tua: 7 Alasan Psikologis

×

Putus-Nyambung dengan Orang Tua: 7 Alasan Psikologis

Sebarkan artikel ini

Ketika Jarak Menjadi Penyelamat: Memahami Fenomena Memutus Hubungan dengan Orang Tua

Keputusan untuk mengakhiri atau membatasi hubungan dengan orang tua merupakan salah satu pilihan tersulit yang bisa diambil seseorang. Dalam banyak kebudayaan, khususnya di Asia, ikatan antara orang tua dan anak seringkali dianggap suci dan tak terputuskan. Namun, seiring perkembangan zaman, para psikolog mencatat adanya peningkatan fenomena yang dikenal sebagai parental estrangement, yaitu kondisi ketika anak yang telah dewasa memutuskan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan total kontak dengan orang tuanya.

Teori keterikatan yang dikemukakan oleh John Bowlby menegaskan bahwa kualitas hubungan awal antara anak dan orang tua memegang peranan krusial dalam membentuk kesehatan emosional seseorang di masa depan. Ketika fondasi hubungan tersebut diwarnai oleh luka, konflik yang tak kunjung usai, atau trauma mendalam, tidak jarang individu dewasa akhirnya mengambil langkah drastis demi menjaga kesehatan mental mereka. Berdasarkan temuan dalam psikologi klinis dan konseling keluarga, terdapat beberapa alasan utama yang kerap dikemukakan oleh mereka yang memilih jalan ini.

Alasan Utama di Balik Keputusan Sulit Memutus Hubungan

Fenomena parental estrangement bukanlah keputusan yang diambil secara gegabah. Di baliknya, terdapat serangkaian pengalaman dan pertimbangan mendalam yang mendorong seseorang untuk menciptakan jarak demi kesejahteraan diri. Berikut adalah beberapa alasan paling umum yang diidentifikasi:

  1. Pola Kekerasan Emosional atau Fisik yang Berulang
    Salah satu pemicu utama adalah adanya pola kekerasan yang berlangsung lama, baik secara fisik maupun emosional. Kekerasan emosional, yang seringkali lebih sulit dikenali karena tidak meninggalkan jejak fisik, dapat menimbulkan dampak yang sangat dalam. Ini bisa bermanifestasi dalam bentuk rasa rendah diri yang kronis, kecemasan yang terus-menerus, hingga gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder – PTSD). Banyak individu dewasa menyadari bahwa proses penyembuhan diri tidak akan pernah tercapai sepenuhnya selama mereka terus berada dalam lingkungan yang secara konsisten melukai mereka.

  2. Manipulasi dan Kontrol Berlebihan
    Beberapa orang tua mungkin cenderung menggunakan taktik manipulatif seperti memicu rasa bersalah, ancaman emosional, atau tekanan finansial untuk mempertahankan kendali atas anak-anak mereka, bahkan ketika anak tersebut sudah mencapai usia dewasa. Konsep emotional blackmail menggambarkan bagaimana rasa takut, kewajiban, dan rasa bersalah dapat dieksploitasi untuk mempertahankan kekuasaan. Dalam jangka panjang, pola ini secara signifikan mengikis otonomi pribadi dan rasa identitas diri seorang anak.

  3. Ketidakmampuan Menetapkan Batasan yang Sehat (Healthy Boundaries)
    Psikologi modern sangat menekankan pentingnya keberadaan batasan pribadi yang sehat. Dalam keluarga yang disfungsional, batasan ini seringkali diabaikan. Privasi individu dapat dilanggar, pilihan hidup diremehkan, dan keputusan pribadi seringkali dikontrol oleh anggota keluarga lain. Teori sistem keluarga dari Murray Bowen menjelaskan bahwa kurangnya diferensiasi diri—kemampuan seseorang untuk memiliki identitas yang terpisah dari sistem keluarga—dapat memicu konflik yang berkepanjangan. Ketika batasan ini terus-menerus dilanggar, menciptakan jarak dapat menjadi satu-satunya cara bagi individu untuk melindungi diri mereka sendiri.

  4. Penolakan terhadap Identitas Anak
    Keputusan untuk memutus hubungan terkadang muncul ketika orang tua secara konsisten menolak untuk menerima identitas anak mereka. Hal ini bisa mencakup penolakan terhadap pilihan karier, pasangan hidup, keyakinan agama atau spiritual, maupun orientasi seksual. Penolakan yang terus-menerus terhadap jati diri seseorang dapat menimbulkan luka psikologis yang mendalam. Perasaan “tidak pernah cukup baik” seringkali menjadi akar dari rendahnya harga diri.

  5. Trauma Masa Kecil yang Tidak Pernah Diakui
    Salah satu keluhan yang paling sering diungkapkan adalah kurangnya pengakuan atau pertanggungjawaban dari orang tua atas luka dan trauma yang dialami anak di masa lalu. Konsep inner child, yang dipopulerkan oleh John Bradshaw, menekankan bahwa luka masa kecil yang diabaikan dapat terus memberikan dampak signifikan pada kehidupan seseorang di masa dewasa. Ketika orang tua menolak mengakui kesalahan mereka atau bahkan menyangkal pengalaman yang dialami anak, proses penyembuhan menjadi sangat sulit.

  6. Dampak Negatif terhadap Kesehatan Mental
    Banyak individu melaporkan bahwa setiap kali mereka berinteraksi dengan orang tua, gejala kecemasan, depresi, atau serangan panik justru meningkat. Dalam pendekatan terapi kognitif-perilaku (Cognitive Behavioral Therapy – CBT) yang dikembangkan oleh Aaron T. Beck, lingkungan yang secara konsisten memicu pikiran negatif dapat memperkuat pola pikir yang destruktif. Jika hubungan keluarga menjadi sumber utama stres, menjaga jarak seringkali dipandang sebagai langkah terapeutik yang esensial.

  7. Upaya Perlindungan terhadap Keluarga Inti Sendiri
    Ketika seseorang telah menikah atau membangun keluarganya sendiri, prioritas mereka seringkali bergeser. Jika perilaku orang tua dinilai berpotensi merusak keharmonisan rumah tangga atau membahayakan kesejahteraan anak-anak mereka, keputusan untuk memutus kontak bisa diambil demi melindungi generasi berikutnya. Dalam psikologi perkembangan, individu dewasa diharapkan mampu membangun sistem keluarga baru yang sehat. Apabila hubungan lama terus mengganggu stabilitas ini, menciptakan jarak dapat menjadi pilihan yang rasional.

Apakah Memutus Hubungan Selalu Menjadi Solusi?

Penting untuk digarisbawahi bahwa memutus hubungan dengan orang tua bukanlah jalan keluar yang selalu ideal atau satu-satunya solusi. Banyak psikolog menyarankan agar terapi keluarga atau mediasi coba ditempuh terlebih dahulu, jika kondisi memungkinkan. Namun, dalam situasi yang melibatkan kekerasan berat, pelecehan, atau trauma mendalam, menjaga jarak terkadang menjadi satu-satunya cara yang tersedia bagi seseorang untuk bertahan dan pulih.

Keputusan untuk menciptakan jarak ini jarang sekali diambil secara impulsif. Mayoritas orang yang memilih jalan ini biasanya telah melalui berbagai upaya sebelumnya, seperti mencoba berdiskusi, menetapkan batasan, bahkan memaafkan berulang kali, namun kondisi tidak kunjung membaik.

Menemukan Kedamaian Melalui Jarak

Memutus hubungan dengan orang tua adalah keputusan yang sangat kompleks dan sarat dengan muatan emosional. Dari perspektif psikologis, langkah ini biasanya tidak didorong semata-mata oleh kebencian, melainkan oleh kebutuhan mendesak untuk melindungi kesehatan mental dan membangun kehidupan yang lebih stabil serta damai.

Setiap keluarga memiliki dinamika dan ceritanya sendiri. Namun, satu hal yang konsisten dalam berbagai penelitian adalah kenyataan bahwa manusia membutuhkan hubungan yang aman, penuh rasa hormat, dan saling menghargai untuk dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. Ketika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi dalam lingkungan keluarga asal, sebagian orang mungkin memilih untuk menciptakan jarak demi menemukan kedamaian dan kesejahteraan diri mereka sendiri.

Baca Juga :  Orang Tua Dingin: 8 Tanda Masa Kecilmu Kurang Kasih Sayang Emosional