Respons Menag terhadap Tayangan yang Menggambarkan Pesantren dengan Narasi Negatif
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan pernyataan resmi terkait tayangan video yang menampilkan aktivitas pesantren dan kiai di Trans7. Ia merasa prihatin atas tayangan tersebut, yang dinilai tidak menggambarkan kehidupan pesantren secara utuh. Menurutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan yang berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai adab kepada santrinya.
Nasaruddin menegaskan bahwa pesantren memiliki peran besar dalam membentuk masyarakat Indonesia yang beradab. Ia menyebut bahwa selama ratusan tahun, pondok pesantren telah menjadi salah satu institusi yang memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan keharmonisan sosial. Dalam pandangannya, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran tentang cara berinteraksi dengan sesama, serta bagaimana seorang santri menghormati guru dan tokoh spiritual.
Ia menyoroti bahwa narasi dalam tayangan tersebut dinilai tendensius dan tidak objektif. Menurutnya, tayangan itu justru memperlihatkan sisi negatif dari aktivitas pesantren tanpa mempertimbangkan aspek spiritual dan moral yang terbentuk di dalamnya. “Jangan melihat pemandangan apa yang terjadi di situ. Tetapi energi spiritual yang diperoleh melalui pesantren,” ujarnya.
Kritik terhadap Penyiaran yang Tidak Profesional
Kecaman terhadap tayangan tersebut juga datang dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Ia menyatakan keberatan terhadap program “Expose Uncensored” di Trans7 yang disiarkan pada 13 Oktober 2025. Menurutnya, tayangan tersebut tidak hanya melanggar prinsip jurnalisme, tetapi juga melecehkan pesantren dan tokoh-tokohnya.
Gus Yahya menilai isi tayangan tersebut secara terang-terangan telah menghina dan merendahkan dunia pesantren. Ia menilai bahwa tayangan tersebut tidak hanya menyentuh institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, tetapi juga menyudutkan tokoh-tokoh pesantren yang sangat dihormati oleh warga Nahdliyin.
Peran MUI dalam Memanggil Stasiun Televisi Terkait
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyampaikan respons terhadap tayangan tersebut. Ketua MUI Bidang Infokom, KH Masduki Baidlowi, menyarankan agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) segera menindak stasiun televisi yang bersangkutan. Ia menilai tayangan Trans7 melalui program Expose dianggap menyinggung pesantren dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Anwar Manshur.
Masduki menyayangkan tayangan tersebut karena dinilai tidak melakukan pengecekan yang cukup dan cenderung tendensius. Ia menegaskan bahwa MUI meminta sesuai regulasi dan peraturan yang ada agar KPI menegur Trans7. “Karena ini penyiarannya sangat tendensius. Yang disinggung ini pesantren besar berpengaruh, tokohnya juga pengurus PBNU,” kata Masduki.
Kekhawatiran akan Tanggapan Emosional
Masduki menilai tayangan tersebut merupakan persoalan serius yang tidak main-main. Pasalnya, tayangan tersebut dinilai tidak bermutu dan cenderung menghina tradisi yang ada di pesantren. Ia mengkhawatirkan jika tidak ada tindakan yang dilakukan oleh KPI, bisa menimbulkan tanggapan emosional dari masyarakat.
Menurutnya, alumni Pondok Pesantren Lirboyo juga telah mengadukan persoalan ini ke MUI. Dia menegaskan bahwa tayangan tersebut sangat tendensius dan harus segera ditindaklanjuti. MUI meminta KPI untuk segera memanggil dan menegur Trans7, termasuk pihak-pihak yang bertanggung jawab dan terlibat dalam tayangan tersebut.
Kesimpulan
Tayangan yang disiarkan oleh Trans7 telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Menteri Agama, PBNU, dan MUI. Mereka menilai tayangan tersebut tidak objektif dan cenderung memperlihatkan sisi negatif dari pesantren tanpa mempertimbangkan nilai-nilai adab dan spiritual yang terbentuk di dalamnya. Mereka berharap agar media dapat lebih profesional dalam menyajikan informasi, serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pesantren.















