Tantangan Tenaga Kerja Muda Lokal Kalimantan Timur: Mentalitas, Kesehatan, dan Peluang Internasional
Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi tantangan signifikan dalam mempersiapkan tenaga kerja mudanya untuk bersaing di pasar industri yang semakin kompetitif. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim, Rozani Erawadi, menyoroti dua faktor utama yang kerap menjadi penghambat bagi para pencari kerja lokal, yaitu mentalitas dan kondisi kesehatan.
Kelemahan Mentalitas dan Etos Kerja
Menurut Rozani, aspek soft skill dan etos kerja menjadi titik lemah yang seringkali membuat tenaga kerja muda Kaltim kesulitan beradaptasi dengan target yang tinggi di dunia usaha. Fenomena pekerja muda yang mudah mengundurkan diri, bahkan ketika peluang kenaikan jabatan terbuka lebar, masih sering terjadi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi pekerja muda dan tuntutan profesionalisme di lingkungan kerja.
“Aspek soft skill dan etos kerja menjadi titik lemah yang membuat tenaga kerja muda kita seringkali sulit beradaptasi dengan target tinggi di dunia usaha,” ungkap Rozani.
Rozani menjelaskan bahwa dari percakapannya dengan para manajer Sumber Daya Manusia (HRD) di berbagai perusahaan di Kaltim, ia menemukan bahwa ketidaknyamanan yang dialami pekerja muda kerap menjadi alasan utama mereka untuk berhenti. Padahal, dalam beberapa kasus, perusahaan justru melihat potensi dan membuka jalan bagi mereka untuk berkembang.
Faktor Kesehatan yang Mengkhawatirkan
Selain mentalitas, kondisi kesehatan juga menjadi rapor merah bagi calon tenaga kerja muda di Kaltim. Rozani mengungkapkan bahwa tak sedikit pelamar yang gagal dalam proses seleksi akibat menderita penyakit degeneratif di usia dini, atau bahkan terindikasi penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC).
Kondisi kesehatan yang buruk tidak hanya menghambat individu untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dapat berdampak pada produktivitas dan biaya operasional perusahaan. Hal ini menjadi perhatian serius bagi Disnakertrans Kaltim dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di provinsi tersebut.
Upaya Peningkatan Kualitas SDM
Pemerintah Provinsi Kaltim, melalui Disnakertrans, telah berupaya secara masif untuk meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai program. Salah satunya adalah pelatihan vokasi yang diselenggarakan di Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) di Balikpapan dan Bontang.
Hingga periode 2024-2025, total peserta pelatihan berbasis kompetensi yang telah dijangkau di berbagai wilayah Kaltim mencapai sekitar 2.000 orang. Pelatihan ini dirancang untuk membekali para pencari kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Peluang Kerja Internasional dan Minat yang Rendah
Di sisi lain, Rozani menyayangkan rendahnya minat warga Kaltim untuk menjadi pekerja migran ke negara-negara maju seperti Jepang, Korea, maupun Eropa. Meskipun ada program-program yang memfasilitasi peluang kerja internasional, antusiasme dari tenaga kerja lokal masih belum optimal.
“Meskipun, program magang nasional sendiri mencatatkan kenaikan minat hingga 500 persen, meski beberapa lowongan tetap tersedia tanpa pelamar,” katanya. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi atau mungkin faktor lain yang menyebabkan warga Kaltim belum sepenuhnya memanfaatkan peluang yang ada di pasar kerja global.
Inovasi Aplikasi Etam Kerja untuk Menekan Pengangguran
Guna menekan angka pengangguran dan memfasilitasi pertemuan antara pencari kerja dengan perusahaan, Disnakertrans Kaltim telah meluncurkan sebuah aplikasi bernama “Etam Kerja”. Aplikasi ini berfungsi sebagai wadah resmi bagi para pencari kerja untuk berinteraksi langsung dengan perusahaan yang membuka lowongan.
Melalui Etam Kerja, diharapkan proses pencarian kerja menjadi lebih efisien dan transparan. Namun, Rozani juga mengingatkan para pencari kerja untuk selalu waspada terhadap modus penipuan. Mereka diingatkan untuk selalu memverifikasi keabsahan setiap lowongan pekerjaan melalui kanal resmi yang disediakan oleh Disnakertrans untuk menghindari kerugian.
Kesiapan Fisik dan Mental sebagai Kunci Persaingan
Menghadapi bursa kerja yang semakin kompetitif, Rozani menekankan kembali pentingnya kesiapan fisik dan mental yang tangguh bagi SDM Kaltim. Kesiapan ini menjadi kunci utama bagi para pencari kerja lokal untuk dapat memenangi persaingan di pasar kerja, terutama menjelang tahun 2026.
“Optimalisasi pendidikan formal dan pelatihan vokasi harus berjalan beriringan dengan perbaikan pola hidup sehat bagi para calon pekerja,” ujar Rozani. Kombinasi antara peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, serta penjagaan kesehatan fisik dan mental, akan membentuk tenaga kerja yang unggul dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan, hingga para pencari kerja itu sendiri, untuk bersama-sama berupaya menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang sehat dan produktif di Kalimantan Timur.

















