Ekonomi

Rupiah Tertekan Bayang Dolar AS

×

Rupiah Tertekan Bayang Dolar AS

Sebarkan artikel ini

Rupiah Diperkirakan Bergerak Terbatas di Awal Pekan, Dolar AS dan Geopolitik Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah diprediksi akan melanjutkan pergerakannya yang terbatas pada awal pekan mendatang. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang dipicu oleh sentimen kebijakan moneter Paman Sam serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang diperkirakan akan membatasi penguatan rupiah.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (30/1/2026), rupiah tercatat belum mampu keluar dari tekanan. Di pasar spot, mata uang Garuda ditutup pada level Rp 16.786 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,18% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.755 per dolar AS.

Tren pelemahan serupa juga terlihat pada kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Selama dua hari berturut-turut, kurs rupiah Jisdor mengalami pelemahan. Pada Jumat (30/1/2026), Jisdor melemah Rp 10 atau setara 0,06%, ditutup pada angka Rp 16.796 per dolar AS.

Sentimen Eksternal Menguatkan Dolar AS

Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah di akhir pekan tersebut sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang turut menguatkan dolar AS. Salah satu pemicu utamanya adalah pengumuman nominasi calon Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga :  10 Juta WP Mangkir Pajak: DJP Siap Tindak Tegas!

Laporan yang beredar mengindikasikan bahwa Trump berpotensi menominasikan mantan gubernur The Fed, Kevin Warsh. Pernyataan-pernyataan Trump juga semakin memperkuat dugaan bahwa Warsh berada di posisi terdepan untuk menduduki jabatan krusial tersebut.

Sentimen ini mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap wait and see. Secara bersamaan, hal ini juga meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven atau aset aman, di mana dolar AS termasuk di dalamnya.

Memanasnya Tensi Geopolitik Menambah Tekanan

Selain kebijakan moneter AS, tekanan terhadap rupiah juga datang dari memanasnya tensi geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ibrahim Assuaibi menyoroti peningkatan kekuatan militer AS di wilayah tersebut, yang secara otomatis meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko global.

“Trump bahkan mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait kesepakatan senjata nuklir, dengan ancaman serangan AS apabila tidak tercapai kesepakatan. Pernyataan itu memicu respons keras dari Teheran yang mengancam akan membalas,” ujar Ibrahim pada Jumat (30/1/2026).

Situasi semakin kompleks dengan dijadwalkannya pertemuan antara pemerintahan Trump dengan pejabat senior pertahanan dan intelijen dari Israel dan Arab Saudi. Pembicaraan terpisah ini akan fokus pada isu Iran dan dijadwalkan berlangsung di Washington. Namun, hingga saat ini, belum ada keputusan final mengenai apakah AS akan melancarkan serangan terhadap Iran atau tidak. Ketidakpastian inilah yang turut memicu volatilitas di pasar global.

Baca Juga :  Ramalan Keuangan Zodiak 4 Tanda pada 8 Oktober 2025

Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas

Di tengah meningkatnya volatilitas global yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah, Ibrahim menilai bahwa langkah strategis Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas tetap menjadi faktor penahan yang signifikan.

Ia secara khusus menyoroti upaya BI yang terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa. Pengelolaan cadangan devisa ini merupakan instrumen utama yang digunakan BI untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan dari para pelaku pasar global.

“Bank Indonesia terus memperkuat pengelolaan cadangan devisanya sebagai instrumen utama menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menumbuhkan kepercayaan pasar global di tengah meningkatnya volatilitas keuangan internasional,” tegasnya.

Proyeksi Perdagangan Awal Pekan

Untuk perdagangan di awal pekan mendatang, Ibrahim memperkirakan bahwa pergerakan rupiah masih akan terbatas. Kecenderungan fluktuatif diperkirakan akan mengikuti dinamika sentimen global dan domestik yang terus berkembang.

Secara spesifik, Ibrahim memproyeksikan bahwa pada hari Senin (2/2/2026), nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.780 hingga Rp 16.810 per dolar AS. Kisaran ini mencerminkan ketidakpastian yang masih membayangi pasar keuangan global.