Lokal

Siring Bekantan Sepi Pasca Berbayar, Pengunjung Keluhkan Biaya

×

Siring Bekantan Sepi Pasca Berbayar, Pengunjung Keluhkan Biaya

Sebarkan artikel ini

Lapangan Basket Siring Banjarmasin Sepi Pengunjung Pasca Pemberlakuan Retribusi Sewa

Banjarmasin, Kalimantan Selatan – Akhir pekan di Taman Siring Kota Banjarmasin, Minggu (1/2/2026), biasanya identik dengan keramaian dan aktivitas warga. Pengunjung memadati area yang membentang dari Jembatan Pasar Lama hingga Patung Bekantan, menikmati suasana kota yang hidup. Namun, di tengah hiruk-pikuk tersebut, sebuah pemandangan kontras terlihat di Lapangan Basket Siring Banjarmasin. Fasilitas yang seharusnya menjadi pusat kegiatan olahraga anak muda ini justru tampak sepi dan lengang.

Biasanya, lapangan basket ini ramai oleh para pemain yang asyik bertanding atau sekadar berlatih. Kini, lapangan itu diselimuti kesunyian. Pagar besi kokoh mengelilingi area bermain, lengkap dengan spanduk yang memajang daftar harga sewa beserta opsi pembayaran melalui QRIS. Perubahan drastis ini menimbulkan pertanyaan dan keluhan dari sebagian pengunjung.

Retribusi Sewa Diduga Menjadi Penyebab Utama

Salah satu alasan utama yang diungkapkan oleh para pengunjung adalah pemberlakuan retribusi sewa untuk penggunaan lapangan basket. Tamami, seorang pengunjung yang mengaku kerap memanfaatkan lapangan tersebut untuk berolahraga, menyatakan keprihatinannya.

“Sunyi karena sekarang harus bayar. Dulu-dulu bisa langsung main saja,” ujarnya, mengenang masa-masa ketika lapangan tersebut dapat diakses secara cuma-cuma. Baginya, aturan baru ini menjadi penghalang bagi banyak orang untuk menikmati fasilitas olahraga yang ada.

Baca Juga :  Di Pantai Pecaron, Kebumen, pengunjung bisa saksikan sunrise dan sunset

Di sekitar area Patung Bekantan, terdapat dua petak lapangan basket yang kini telah dipagari. Sejak aturan mengenai biaya sewa diberlakukan kembali, keluhan mengenai biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan fasilitas ini mulai bermunculan dari berbagai kalangan pengunjung.

Rahman, pengunjung lainnya, turut mengamini fenomena ini. “Banyak yang mengeluh karena berbayar. Sejak dipagari seperti ini, jadi sepi,” tambahnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana lapangan yang dulunya aktif kini menjadi terbengkalai.

Sesekali, pengunjung taman yang sedang berjalan-jalan melintasi area lapangan basket. Pandangan mereka tak jarang tertuju pada lapangan yang kosong melompong, sebuah kontras yang mencolok dengan keramaian di sekelilingnya. Spanduk yang menampilkan daftar harga sewa menjadi saksi bisu dari perubahan yang terjadi.

Suara gumaman pengunjung taman pun terdengar, mengomentari kondisi lapangan. “Sunyinya, kadada yang main,” terdengar salah satu ucapan dari kerumunan yang sedang menikmati suasana Taman Siring. Kata-kata sederhana ini menggambarkan kekecewaan dan rasa kehilangan atas hilangnya geliat aktivitas di lapangan basket kebanggaan warga Banjarmasin.

Dampak Pemberlakuan Retribusi Terhadap Aktivitas Publik

Pemberlakuan retribusi sewa pada fasilitas publik seperti lapangan basket ini menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara upaya pengelolaan dan pemeliharaan aset daerah dengan aksesibilitas bagi masyarakat. Di satu sisi, pendapatan dari retribusi dapat digunakan untuk perawatan dan peningkatan fasilitas. Namun, di sisi lain, jika biaya sewa dianggap terlalu tinggi atau memberatkan, hal tersebut justru dapat mengurangi manfaat fasilitas tersebut bagi masyarakat luas, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial.

Baca Juga :  Penggemar KPop Keluhkan Harga Tiket Konser yang Mahal di Indonesia

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan ruang publik. Jika sebelumnya ruang-ruang publik lebih ditekankan pada fungsi sosial dan aksesibilitas tanpa biaya, kini pengelolaan mulai mengarah pada model yang mempertimbangkan potensi pendapatan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang tetap inklusif dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ke depannya, diharapkan akan ada evaluasi mendalam terhadap kebijakan retribusi ini. Pendekatan yang lebih fleksibel, mungkin dengan mempertimbangkan tarif berbeda untuk waktu-waktu tertentu, program subsidi bagi komunitas, atau model kemitraan dengan pihak swasta, bisa menjadi solusi untuk menghidupkan kembali Lapangan Basket Siring Banjarmasin. Tujuannya adalah agar fasilitas olahraga ini kembali ramai dimanfaatkan oleh masyarakat, sesuai dengan fungsinya sebagai sarana rekreasi dan pembinaan olahraga, tanpa membebani pengunjung secara berlebihan.