Berita

Jejak Majapahit: Candi Planggatan Sang Prabu Brawijaya V

×

Jejak Majapahit: Candi Planggatan Sang Prabu Brawijaya V

Sebarkan artikel ini

Candi Planggatan: Jejak Majapahit yang Tersembunyi di Ketinggian Karanganyar

Di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tersimpan sebuah situs purbakala yang menyimpan banyak misteri dan kekayaan sejarah. Candi Planggatan, sebuah peninggalan Kerajaan Majapahit, berdiri kokoh di ketinggian 910 meter di atas permukaan laut. Lokasinya yang strategis, tidak jauh dari Candi Sukuh yang lebih terkenal, memberikan petunjuk akan kesamaan gaya arsitektur dan latar belakang sejarahnya. Kini, situs yang luasnya mencapai 4.460 meter persegi ini dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah sebagai cagar budaya sejak tahun 1979.

Perjalanan menuju Candi Planggatan dari Kota Solo memakan waktu sekitar 1 jam 6 menit, menempuh jarak kurang lebih 38 kilometer. Sesampainya di lokasi, pengunjung akan disambut oleh suasana yang asri dan sedikit mistis. Reruntuhan candi ini sebagian besar masih tertutup oleh vegetasi, termasuk pohon beringin besar yang akarnya menjalar, menambah kesan kuno dan sakral. Situs ini dikelilingi oleh perkampungan penduduk dan lahan tegalan, memberikan kontras antara kehidupan modern dan jejak masa lalu yang terpendam.

Struktur dan Keunikan Relief Candi Planggatan

Struktur Candi Planggatan ditandai dengan susunan bebatuan berteras yang kini batas-batasnya tidak lagi jelas terlihat. Namun, dari reruntuhan yang ada, terlihat berbagai macam batu, baik yang polos maupun yang berukir relief. Relief-relief ini menjadi jendela untuk memahami kehidupan dan kepercayaan masyarakat pada masa Majapahit.

Beberapa relief yang berhasil diidentifikasi menampilkan adegan-adegan menarik, antara lain:

  • Tokoh Berkuda dengan Pengawal: Penggambaran seorang tokoh yang menunggang kuda, dikawal oleh prajurit bersenjata dan membawa payung, menunjukkan kemungkinan status sosial atau peran penting dari tokoh tersebut.
  • Rumah Panggung dan Pendapa: Relief ini memberikan gambaran arsitektur rumah tradisional yang dilengkapi dengan pendapa, lengkap dengan pengawal di sekitarnya. Hal ini mencerminkan tatanan sosial dan kehidupan sehari-hari.
  • Bala Tentara Bersenjata: Penggambaran sekelompok prajurit yang memegang tombak memberikan indikasi mengenai kekuatan militer atau formasi perang pada masa itu.
  • Tokoh Laki-laki dan Perempuan dengan Pengiring: Adegan ini menampilkan interaksi antar tokoh, termasuk kemungkinan adanya punakawan atau pengiring, yang menggambarkan dinamika sosial dan hubungan antarindividu.
Baca Juga :  Ini Dia Screenhouse Buah Anggur Tembeling

Gaya ukiran relief di Candi Planggatan memiliki kemiripan yang kuat dengan relief yang ditemukan di Candi Sukuh dan Candi Cetho. Kemiripan ini tidak hanya dalam teknik ukiran, tetapi juga dalam tema dan penggambaran, yang semakin memperkuat dugaan adanya pengaruh budaya Majapahit yang sama kuat di ketiga situs tersebut.

Relief Gajah Wiku: Penanda Waktu dan Makna Spiritual

Salah satu relief yang paling memikat di Candi Planggatan adalah relief Gajah Wiku. Relief ini menggambarkan sosok unik, separuh manusia dan separuh gajah, dengan belalai yang sedang memakan bulan sabit. Gajah tersebut mengenakan atribut seorang begawan, yaitu sorban dan kain lipat, yang menunjukkan sisi spiritual atau keilmuan.

Relief Gajah Wiku ini bukan sekadar ornamen artistik, melainkan sebuah sengkalan memet atau penanda waktu. Kalimat yang terukir atau tersirat dari penggambaran ini adalah “Gajah wiku mangan wulan”. Dalam perhitungan tahun Saka, frasa ini memiliki makna numerik yang merujuk pada tahun 1378 Saka, yang setara dengan tahun 1456 Masehi. Menariknya, penanda waktu ini sama persis dengan yang ditemukan pada relief di Candi Sukuh, yang semakin mengukuhkan keterkaitan erat antara kedua candi tersebut.

Di dekat relief Gajah Wiku, ditemukan pula sebuah prasasti berukir empat baris. Prasasti ini memiliki kesamaan tulisan dan makna dengan prasasti yang ada di Candi Cetho dan Candi Sukuh. Keberadaan prasasti-prasasti ini menjadi bukti tak terbantahkan mengenai hubungan historis, keagamaan, dan budaya yang terjalin kuat di antara ketiga situs tersebut.

Temuan Arkeologis Lainnya dan Fungsi Keagamaan

Selain kekayaan reliefnya, Candi Planggatan juga menyimpan berbagai temuan arkeologis lain yang memberikan gambaran lebih mendalam tentang fungsi dan kepercayaan masyarakat pada masa itu. Di situs ini, para peneliti menemukan:

  • Lingga-Yoni: Pasangan lingga dan yoni merupakan simbol sakral dalam agama Hindu, melambangkan Dewa Siwa dan energi penciptaan. Penemuan ini secara jelas menunjukkan bahwa Candi Planggatan memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa.
  • Bokor Batu: Wadah batu yang digunakan sebagai tempat sesaji. Ini menegaskan bahwa situs ini digunakan untuk ritual keagamaan, di mana persembahan dipersembahkan kepada dewa-dewa.
  • Batu Berelief Lain: Berbagai batu berelief tambahan yang menampilkan cerita-cerita keagamaan, mitologi, atau penggambaran kegiatan masyarakat pada masa lampau.
Baca Juga :  Headline, Misi Mulia Pokdakan Dumbo Lengkuas

Berdasarkan arah hadap candi yang diperkirakan menghadap ke Barat, serta kesamaan relief dengan Candi Sukuh, para ahli menduga bahwa Candi Planggatan memiliki orientasi yang searah dengan Candi Sukuh. Penggalian awal oleh BP3 Jawa Tengah pada tahun 1985 memang sempat dilakukan, namun setelah mengetahui arah hadap candi yang sebenarnya, batuan tersebut kemudian ditutup kembali untuk menjaga kelestariannya.

Nilai Sejarah, Budaya, dan Keterkaitan dengan Kerajaan Majapahit

Candi Planggatan adalah warisan berharga dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Situs ini sarat dengan nilai-nilai agama Hindu dan praktik ritual keagamaan yang diyakini dilakukan oleh masyarakat pada masa itu. Relief dan prasasti yang ditemukan bukan hanya menjadi bukti sejarah, tetapi juga merefleksikan kekayaan seni dan budaya yang berkembang pesat di bawah kekuasaan Majapahit.

Beberapa ahli bahkan mengajukan teori yang lebih menarik, bahwa situs ini memiliki kaitan dengan Prabu Brawijaya V, raja terakhir dari Dinasti Majapahit. Konon, sang raja sempat singgah di daerah sekitar Gunung Lawu sebelum akhir hayatnya. Keterkaitan ini, jika terbukti, akan menambah lapisan sejarah yang lebih dramatis pada Candi Planggatan.

Dengan segala keunikan dan misterinya, Candi Planggatan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia, sebuah permata tersembunyi yang terus menunggu untuk digali lebih dalam dan dipahami sepenuhnya oleh generasi penerus.