Lokal

Terbongkar: Camat Ungkap Alasan Suderajat Bohong, Pasangan Disabilitas

×

Terbongkar: Camat Ungkap Alasan Suderajat Bohong, Pasangan Disabilitas

Sebarkan artikel ini

Kisah Suderajat: Dari Simpati Publik Menuju Kekecewaan dan Pengungkapan Fakta

Suderajat, seorang penjual es viral yang sempat mendapatkan simpati luar biasa dari masyarakat luas, kini justru menuai kekecewaan. Banyak pengakuan mengenai kondisi hidupnya, mulai dari utang, tunggakan kontrakan, hingga biaya sekolah anak yang belum terbayar, ternyata terbukti tidak sesuai dengan kenyataan. Perubahan narasi ini menimbulkan pertanyaan besar di benak publik.

Klarifikasi dari Pihak Kecamatan: Rumah Sedang Direhabilitasi

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, akhirnya buka suara untuk memberikan penjelasan mengenai situasi Suderajat yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa Suderajat bukanlah seorang yang tidak memiliki rumah dan terpaksa mengontrak karena ketidakmampuan finansial. Sebaliknya, rumah milik Suderajat saat ini sedang dalam proses rehabilitasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten.

“Dari hasil asesmen, Pak Suderajat sebagai warga kategori miskin. Dia memang punya rumah sendiri. Tapi saat ini rumahnya rusak dan sedang diperbaiki oleh Pemkab melalui program Rutilahu itu, sehingga dia tinggal sementara di kontrakan,” jelas Tenny Ramdhani.

Proses rehabilitasi rumah Suderajat sendiri telah dimulai sejak Desember 2025. Kondisi rumah tersebut semakin memburuk setelah roboh akibat bencana hujan dan angin kencang di awal tahun. Sejak saat itulah, Suderajat dan keluarganya tidak lagi menempati rumah aslinya dan terpaksa mengungsi ke sebuah kontrakan.

Indikasi Disabilitas dan Gangguan Mental Pascatrauma

Menanggapi berbagai rumor dan spekulasi yang berkembang di media sosial, Tenny Ramdhani juga mengungkapkan hasil asesmen lintas instansi yang dilakukan terhadap Suderajat dan istrinya. Asesmen ini menemukan adanya indikasi disabilitas pada keduanya, yang diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma. Kondisi ini menyebabkan kemampuan komunikasi verbal mereka menjadi terbatas dan terkadang berubah-ubah.

“Lalu kemudian terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya,” ungkapnya.

Gangguan mental pascatrauma ini diduga memperparah kondisi komunikasi verbal Suderajat dan istrinya, bahkan kondisi sang istri disebut terlihat lebih parah. Keterangan dari ketua RT dan RW setempat juga turut menguatkan dugaan adanya keterbelakangan psikologis dan mental pada Suderajat. Kondisi ini diduga sudah ada sebelumnya dan diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian tertentu serta banyaknya orang yang mendatangi rumahnya.

Baca Juga :  5 tempat beli ubi Cilembu semanis madu di Sumedang

“Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya,” ujar Tenny, menambahkan bahwa Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh tetangga terdekatnya terindikasi memiliki keterbelakangan psikologis dan mental.

Pemerintah kecamatan berharap penjelasan ini dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yaitu upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berjalan.

Bantuan Berlimpah, Namun Terindikasi Disalahgunakan

Dalam perjalanannya, Suderajat menerima berbagai bentuk bantuan dari berbagai pihak. Bantuan tersebut tidak hanya berupa uang tunai puluhan juta rupiah, tetapi juga bantuan renovasi rumah, pemberian motor baru, hingga tawaran untuk menunaikan ibadah umrah secara gratis. Salah satu bantuan signifikan datang dari Dedi Mulyadi, yang memberikan uang sebesar Rp 15 juta. Rinciannya, Rp 10 juta dialokasikan untuk biaya kontrakan dan pembayaran utang, sementara Rp 5 juta lainnya diperuntukkan sebagai modal usaha.

Dedi Mulyadi juga memberikan tambahan Rp 20 juta untuk upah para pekerja yang memperbaiki rumah Suderajat. Ia berharap Suderajat dapat beralih dari berjualan es kue dan membuka usaha lain dengan modal yang telah diberikan.

Namun, niat baik tersebut tampaknya tidak sepenuhnya diterima dengan baik. Ketika ditanya mengenai penggunaan dana Rp 5 juta yang diberikan sebagai modal usaha, Suderajat mengungkapkan rencananya untuk menggunakan uang tersebut demi menikahkan anaknya. Hal ini tentu saja mengejutkan Dedi Mulyadi, yang menegaskan bahwa bantuan tersebut diberikan untuk kesejahteraan Suderajat sendiri, bukan untuk keperluan anaknya.

“Beh, saya ngasih tuh buat bekal babeh bukan buat anak. Orang kan simpati sama babeh, bukan sama anak. Buat kehidupan babeh,” tegas Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi pun menyarankan agar uang tersebut dimanfaatkan untuk membuka usaha baru yang lebih prospektif, atau mempertimbangkan opsi lain seperti anaknya menjadi pengemudi ojek daring. Ia juga menyoroti model bisnis jualan es kue Suderajat yang ternyata tidak memerlukan modal awal karena sistemnya adalah setoran. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa uang bantuan tersebut tidak akan dikelola dengan bijak.

Baca Juga :  Banda Indung #2: Ekspresi Keseharian

Kebohongan Mengenai Biaya Sekolah Anak

Salah satu poin utama yang memicu kekecewaan publik adalah kebohongan Suderajat terkait biaya sekolah anaknya. Awalnya, pria berusia 50 tahun ini mengaku sedang kesulitan karena belum bisa membayar biaya sekolah anaknya yang mencapai Rp 1,5 juta. Ia juga mengeluhkan tunggakan kontrakan dan kesulitan ekonomi lainnya.

Menanggapi hal ini, Dedi Mulyadi memberikan respons dengan menanyakan detail biaya sekolah tersebut. Ia sempat curiga karena sekolah negeri di wilayah Bogor umumnya gratis. Suderajat bersikeras bahwa anak-anaknya masih dikenakan biaya, bahkan mengaku sudah empat bulan tidak membayar.

Namun, setelah didesak oleh Dedi Mulyadi, Suderajat akhirnya mengakui bahwa tunggakan biaya sekolah anaknya baru satu bulan, bukan empat bulan seperti yang ia sampaikan sebelumnya. Ia juga mengoreksi jumlah biaya sekolah yang seharusnya hanya sekitar Rp 200 ribu per bulan, bukan Rp 1,5 juta.

“Bapak nih, empat bulan atau satu bulan (belum) bayar sekolah?” tanya KDM lagi.
“Sebulan,” pungkas Suderajat.
“Berarti Rp200 ribu dong bukan Rp1,5 juta. Jangan ngarang. Gimana? kalau ingin hidup maju harus jujur. Kalau kitanya tidak jujur nanti banyak dapat susah dalam hidupnya,” ungkap KDM.

KDM kemudian memberikan uang tunai sebesar Rp 10 juta untuk membantu Suderajat melunasi kontrakan, biaya sekolah, dan utang di warung. Namun, karena keraguan akan pengelolaan dana tersebut, KDM akhirnya mengambil kembali uang Rp 10 juta itu dan berjanji akan membayarkan semua utang Suderajat secara langsung. Sebagai gantinya, KDM memberikan uang sebesar Rp 5 juta kepada Suderajat untuk dijadikan modal usaha. Keputusan ini diambil KDM demi memastikan bantuan tersebut benar-benar tersalurkan untuk keperluan yang semestinya.