Berita

Tumpahan Minyak Gili Iyang: Perusahaan Siap Bersih-Bersih

×

Tumpahan Minyak Gili Iyang: Perusahaan Siap Bersih-Bersih

Sebarkan artikel ini

Upaya Penanganan Tumpahan Minyak Mentah Kelapa Sawit di Pesisir Gili Iyang Sumenep

SUMENEP, JAWA TIMUR – Insiden tumpahan minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dalam jumlah puluhan ton di perairan pesisir Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kini memasuki tahap penanganan serius. Opsi utama yang akan dilakukan untuk mengatasi pencemaran yang masih berlangsung adalah dengan menyedot minyak yang tumpah ke laut.

Jumanto, Bosun dari kapal tongkang Indo Ocean Marine yang terlibat dalam insiden tersebut, menjelaskan bahwa sebelum proses penyedotan dilakukan, langkah pertama adalah memperbaiki bagian lambung kapal yang mengalami kebocoran. Penambalan ini krusial untuk mencegah tumpahan lebih lanjut sebelum minyak yang sudah terlanjur mencemari laut dapat diatasi.

“Rencananya kapal yang bocor ditambal dulu, setelah itu minyaknya disedot,” ungkap Jumanto pada Senin, 26 Januari 2026.

Perusahaan telah mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk kedua tahapan penanganan ini. Peralatan tersebut mencakup plat besi untuk menambal lambung kapal, mesin las untuk proses penyambungan, gerinda potong untuk memodifikasi material, semen sebagai bahan pengisi atau penutup tambahan, serta selang dan mesin penyedot berkekuatan enam silinder untuk mengangkat minyak dari permukaan laut.

“Alat-alatnya sudah ada semua, tinggal pelaksanaannya menunggu kondisi laut aman,” tambahnya, menekankan bahwa cuaca menjadi faktor penentu kelancaran operasi.

Jika kondisi cuaca mendukung, pihak perusahaan menargetkan proses penyedotan minyak dapat diselesaikan dalam kurun waktu sekitar lima hari. Namun, target ini sangat bergantung pada kestabilan kondisi laut. Angin kencang dan ombak yang besar dapat menghambat pekerjaan dan menyebabkan penundaan.

Baca Juga :  Menuju PON XX Papua, Menpora: Persiapan Berjalan sesuai Rencana

“Targetnya sekitar lima hari, tapi itu kalau cuaca mendukung. Kalau ombak masih besar, ya bisa molor,” ujar Jumanto.

Hingga berita ini ditulis pada Senin, 26 Januari 2026, kapal tongkang tersebut masih dalam posisi kandas, terperosok di atas karang di wilayah pesisir utara Pulau Gili Iyang. Tim teknis dari perusahaan belum dapat melakukan asesmen dan perbaikan langsung di kapal karena kondisi laut yang belum kondusif.

“Sampai hari ini tongkang masih di atas karang. Tim belum bisa naik karena angin dan ombak masih kencang,” jelasnya.

Kronologi Insiden

Kecelakaan yang menyebabkan tumpahan CPO ini terjadi pada Rabu malam, 21 Januari 2026. Kapal tongkang Indo Ocean Marine yang sedang mengangkut sekitar 3.000 kiloliter CPO dilaporkan dihantam badai yang terdiri dari angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan deras. Akibat terjangan cuaca ekstrem tersebut, kapal tongkang kehilangan kendali, terbawa arus ombak, dan akhirnya menabrak karang di perairan utara Pulau Gili Iyang.

Benturan keras dengan karang inilah yang diduga kuat menyebabkan robekan atau kebocoran pada lambung kapal. Dari celah kebocoran tersebut, minyak CPO mulai tumpah ke laut dan perlahan menyebar hingga mencemari pesisir pantai. Beberapa hari pasca kejadian, gumpalan-gumpalan minyak masih terlihat mengambang di sekitar lokasi kapal dan terus bergerak mengikuti arah arus laut, menunjukkan skala pencemaran yang cukup signifikan.

Baca Juga :  Rapat Staf Perdana Pemkab Bintan 2026

Dampak Lingkungan dan Upaya Pencegahan

Tumpahan minyak mentah kelapa sawit ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap ekosistem laut di sekitar Pulau Gili Iyang. Keberadaan minyak di permukaan laut dapat mengganggu pertukaran oksigen antara atmosfer dan air, berdampak buruk pada kehidupan plankton, ikan, serta biota laut lainnya. Selain itu, minyak yang terakumulasi di pesisir dapat merusak habitat mangrove, terumbu karang, dan mengancam spesies burung laut serta satwa pesisir lainnya.

Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat memantau secara ketat proses penanganan tumpahan ini. Selain upaya pembersihan langsung, penting juga untuk melakukan kajian mengenai dampak lingkungan jangka panjang dan merencanakan program restorasi ekosistem jika diperlukan.

Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran, terutama saat mengangkut material berbahaya. Evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional kapal tongkang, pemeliharaan rutin, serta kesiapan tanggap darurat menjadi krusial untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang. Perusahaan pelayaran diharapkan meningkatkan investasi dalam teknologi keselamatan dan pelatihan awak kapal guna meminimalkan risiko kecelakaan.

Peran serta masyarakat lokal dalam melaporkan dan memberikan informasi terkait perkembangan tumpahan juga sangat berharga. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat adalah kunci dalam penanganan bencana lingkungan seperti ini.