Serangan Hama Mengancam Sawah di Kabupaten Pinrang
Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), sekitar 232 hektare sawah diserang oleh hama. Penyebab utamanya adalah penggerek batang dan tikus yang mengancam tanaman padi petani. Dari data yang diperoleh, rata-rata sawah yang terserang hama berada di Kecamatan Cempa dan Patampanua.
Hama penggerek batang dan tikus menjadi ancaman besar bagi para petani setempat. Banyak dari mereka mulai panik karena tanaman padi mereka mengering dan mati. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa serangan hama bisa terus meluas, sehingga berpotensi menyebabkan gagal panen.
Seorang petani, Jamil Hasim, mengungkapkan bahwa hampir seluruh tanaman padi yang ia tanam mengering dan tidak berbuah akibat serangan hama penggerek batang. Ia menjelaskan bahwa hasil panen yang ia peroleh hanya sebanyak 19 karung, sedangkan biasanya bisa mencapai 45 karung.
“85 are, ini hasilnya saya dapat 19 karung. Biasanya bisa dapat 45 karung. Diserang penggerek batang,” katanya.
Jamil juga menyampaikan bahwa kerugian yang ia alami pada musim panen pertama tahun 2026 ini sangat besar. Pasalnya, hasil panen tidak cukup untuk menutupi biaya penanaman dan perawatan padi. Ia mengatakan bahwa sewa traktor saja seharga Rp 2 juta per hektar, sementara harga gabah saat ini sekitar Rp 7.200 per kilo.
Petani lainnya, Aco, juga mengeluhkan hasil panen yang jauh lebih rendah dibandingkan musim tanam sebelumnya. Sawah seluas 2 hektare miliknya hanya menghasilkan 45 karung gabah, padahal pada musim tanam sebelumnya hasilnya bisa mencapai ratusan karung.
“Jauh sekali perbandingan hasil panennya, kemarin ada ratusan karung, sekarang cuma 45 hektare,” ujarnya.
Kadis Pertanian Pinrang, Andi Sinapati Rudy, menjelaskan bahwa jumlah sawah yang terserang hama penggerek batang mencapai 115 hektare di Kecamatan Cempa, sedangkan hama tikus menyerang 117 hektare di Kecamatan Patampanua.
“Ini karena memang ketidak tepatan para petani kita juga dalam kegiatan penanaman di musim tanam awalnya,” ujarnya.
Menurut Andi Sinapati, banyaknya sawah yang terserang hama disebabkan oleh ketidaktepatan waktu penanaman. Ia menjelaskan bahwa dari laporan anggotanya, masih ada beberapa petani yang menunda penanaman padi.
“Kami sudah sampaikan bahwa dalam hasil rapat turun sawah, ternyata memang di lapangan masih ada beberapa petani juga yang masih menunggu-menunggu (menanam padi).”
“Nah, ini resikonya,” tambahnya.
Penyebab Utama Serangan Hama
Beberapa faktor menjadi penyebab utama serangan hama di wilayah tersebut. Salah satunya adalah ketidaktepatan waktu penanaman. Petani yang menanam padi di luar jadwal yang ditetapkan berisiko tinggi terkena serangan hama.
Selain itu, kurangnya pengetahuan tentang teknik budidaya yang benar juga menjadi salah satu faktor. Beberapa petani mungkin belum memahami pentingnya penggunaan pestisida atau cara mengatur irigasi yang optimal.
Tidak hanya itu, cuaca dan kondisi lingkungan juga berpengaruh. Jika curah hujan tinggi dan suhu lembap, kondisi ini sangat mendukung perkembangan hama seperti penggerek batang dan tikus.
Upaya Pemerintah dan Petani
Pemerintah daerah dan dinas pertanian telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini. Mereka memberikan bimbingan teknis kepada petani agar lebih memahami cara menanam yang sesuai dengan jadwal dan kondisi lingkungan.
Selain itu, pemerintah juga berupaya memberikan bantuan berupa pupuk dan pestisida secara gratis atau subsidi kepada petani yang terdampak. Namun, sampai saat ini, masih banyak petani yang kesulitan dalam menghadapi ancaman hama ini.
Langkah yang Harus Dilakukan
Untuk mengurangi risiko serangan hama, petani diharapkan lebih memperhatikan jadwal penanaman. Mereka juga perlu meningkatkan keterampilan dalam mengelola sawah, termasuk penggunaan pestisida yang aman dan efektif.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah dan petani sangat penting. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan serangan hama dapat diminimalkan dan hasil panen bisa kembali stabil.

















