PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) mengumumkan rencana untuk melanjutkan kegiatan eksplorasi batu bara metalurgi melalui tiga anak usahanya. Ketiga entitas tersebut memiliki total aset sebesar Rp513,15 miliar dan sedang dalam tahap pengembangan operasi produksi.
Anak Usaha yang Masih Dalam Tahap Pengembangan
Berdasarkan informasi dalam Laporan Tahunan 2024 perseroan, ketiga anak usaha ADMR yaitu PT Juloi Coal (JC), PT Kalteng Coal (KC), dan PT Sumber Barito Coal (SBC) belum beroperasi. Masing-masing perusahaan memiliki aset sebesar US$26,65 juta, US$2,15 juta, dan US$2,17 juta. Total aset dari ketiga perusahaan ini mencapai US$30,94 juta atau setara dengan Rp513,15 miliar (kurs JISDOR Rp16.585 per dolar AS).
Corporate Secretary ADMR, Mahardika Putranto menjelaskan bahwa ketiga perusahaan tersebut saat ini sedang melakukan kajian teknis terkait infrastruktur untuk pengembangan terintegrasi. Kegiatan operasional komersial batu bara metalurgi akan dimulai setelah eksplorasi lanjutan dan kajian teknis selesai.
Wilayah Eksplorasi yang Belum Termasuk dalam Area Cadangan
Menurutnya, ketiga entitas tersebut akan melakukan eksplorasi lanjutan di wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang belum termasuk dalam area cadangan batu bara saat ini. Tujuan dari eksplorasi ini adalah untuk meningkatkan keyakinan geologi terkait potensi sumber daya batu bara.
Selain itu, ketiga perusahaan telah memperoleh persetujuan tahap Operasi Produksi, persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta perizinan AMDAL dan lainnya. Saat ini, mereka juga sedang dalam proses pengurusan perizinan tambahan untuk mendukung rencana eksplorasi lanjutannya.
Komponen Aset Utama dan Biaya Eksplorasi
Komponen utama aset JC, KC, dan SBC adalah biaya eksplorasi sumber daya dan cadangan batu bara metalurgi. Biaya-biaya ini mencakup izin eksplorasi, pencarian dan penilaian sumber daya batu bara, serta kegiatan seperti pengeboran eksplorasi, pengambilan sampel, studi geofisika, dan studi lainnya untuk membuktikan kelayakan teknis dan komersial penambangan sebelum produksi dimulai.
Karena ketiga perusahaan belum beroperasi, biaya-biaya eksplorasi ini dicatat sebagai aset. Selain itu, komponen lain dari aset ketiga perusahaan adalah kas dan setara kas untuk keperluan operasional.
Proses Eksplorasi Lanjutan dan Persiapan Operasi Produksi
Saat ini, JC, KC, dan SBC masih fokus pada kegiatan eksplorasi dan evaluasi. Dalam beberapa tahun ke depan, mereka akan melakukan eksplorasi lanjutan untuk menambah data sumber daya dan cadangan batu bara.
ADMR juga perlu melakukan review terkait estimasi kebutuhan capital expenditure (capex) untuk kegiatan eksplorasi lanjutan di ketiga perusahaan tersebut. Pendanaan atas capex ini diutamakan berasal dari kas internal.
Perseroan berupaya mempersiapkan ketiga anak perusahaannya agar dapat melaksanakan tahap selanjutnya secara prudent. Namun, tantangan yang dihadapi antara lain lokasi yang terpencil dan kurangnya infrastruktur pendukung.
Tantangan dalam Persiapan Operasi Produksi
Mahardika menilai bahwa lokasi yang terpencil menjadi salah satu hambatan dalam persiapan operasi produksi. Infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, dan sistem komunikasi belum tersedia secara lengkap di area eksplorasi. Hal ini memengaruhi efisiensi dan kecepatan pelaksanaan proyek.
Namun, meskipun ada tantangan, ADMR tetap optimis dengan rencana eksplorasi dan pengembangan ketiga anak usahanya. Dengan kajian teknis yang terus dilakukan, diharapkan kegiatan eksplorasi lanjutan dapat segera dilakukan dan memberikan dampak positif terhadap ketersediaan cadangan batu bara metalurgi di masa depan.

















