Human Interest

Allah Juru Selamat Keluarga

×

Allah Juru Selamat Keluarga

Sebarkan artikel ini
Jonatan Christie dkk diminta untuk menambah porsi latihan setelah tak ada juara All England 2019 di tunggal putra. (Images via Reuters)

Pesan Natal 2025: Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga di Tengah Krisis Modern

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) bersama-sama merilis pesan Natal untuk tahun 2025 dengan tema yang sangat relevan dengan kondisi kekinian: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Pesan yang ditandatangani oleh pimpinan kedua lembaga keagamaan ini menyoroti berbagai tantangan serius yang dihadapi oleh institusi keluarga di Indonesia saat ini.

Ancaman Nyata Terhadap Keutuhan Keluarga

Berbagai isu mengemuka dan menimbulkan kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas dan keutuhan keluarga. Beberapa ancaman utama yang disebutkan meliputi:

  • Perpisahan dalam Keluarga: Tingginya angka perceraian menjadi salah satu indikator retaknya fondasi keluarga.
  • Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT): Masalah kekerasan fisik maupun psikis dalam lingkungan keluarga menunjukkan adanya luka batin yang dalam.
  • Judi Online dan Pinjaman Online: Ketergantungan pada aktivitas ilegal dan jeratan utang finansial yang cepat dan mudah diakses ini dapat menghancurkan stabilitas ekonomi keluarga.
  • Penyalahgunaan Narkoba: Adiksi terhadap narkoba tidak hanya merusak individu tetapi juga meruntuhkan sendi-sendi kehidupan keluarga.
  • Individualisme dan Materialisme: Kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri dan terfokus pada kepemilikan materi seringkali mengikis nilai-nilai kebersamaan dan kasih dalam keluarga.

Semua fenomena ini membuktikan betapa rentannya keluarga terhadap ancaman yang membahayakan kelangsungan dan kebahagiaannya.

Kisah Yusuf dan Maria: Refleksi Awal Kehadiran Sang Juru Selamat

Menghadapi realitas ini, umat Kristen diajak untuk merenungkan kisah kelahiran Yesus Kristus yang tercatat dalam Injil Matius 1:21-24. Kisah ini dimulai dari keluarga Yusuf dan Maria yang ternyata tidak serta-merta berjalan mulus.

Baca Juga :  Kim K: Hadiah 4 Anjing, Tuai Kritik Pedas

Pada awalnya, keluarga ini menghadapi situasi yang tidak nyaman dalam menyikapi kehadiran Yesus, Sang Putra Allah dan Juru Selamat dunia. Maria, seorang gadis yang hamil sebelum menikah, merasakan kegelisahan yang mendalam karena harus menanggung risiko stigma sosial di masyarakatnya. Di sisi lain, Yusuf, tunangannya, juga diliputi kegelisahan melihat kehamilan Maria, bahkan sempat berencana untuk memutuskan pertunangan mereka.

Ketaatan dan Keterbukaan: Kunci Harmoni Keluarga

Namun, titik balik terjadi ketika Yusuf dan Maria memilih untuk mendengarkan suara malaikat utusan Allah. Maria menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dengan menerima risiko apa pun yang akan dihadapinya, seraya berkata, “Aku ini hamba Tuhan, biarlah terjadi seperti apa kata malaikat itu” (Lukas 1:39). Ia bahkan mampu memuji dan meluhurkan Allah atas perhatian-Nya terhadap kerendahan hatinya (Lukas 1:46-55).

Sikap mau mendengarkan dan keterbukaan terhadap kehendak ilahi inilah yang kemudian membuahkan hubungan yang harmonis dalam keluarga mereka. Hal ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana keluarga dapat terus melanjutkan makna keberadaannya sesuai dengan kehendak Allah.

Keluarga dalam Pusaran Krisis Multidimensi

Selain ancaman spesifik terhadap institusi keluarga, PGI dan KWI juga menekankan bahwa gereja dan keluarga masa kini sedang menghadapi berbagai krisis yang saling terkait, seperti:

  • Krisis Kebangsaan: Ketegangan sosial, polarisasi, dan disintegrasi bangsa.
  • Krisis Kekerasan: Meningkatnya konflik, baik skala kecil maupun besar, yang mengancam kedamaian.
  • Krisis Ekologi: Kerusakan lingkungan hidup yang berdampak pada keberlanjutan kehidupan.
  • Krisis Budaya: Hilangnya identitas budaya lokal akibat pengaruh globalisasi yang tak terkendali.
  • Dan berbagai krisis lainnya yang kompleks.
Baca Juga :  Suami Aurelie Tak Terima Istrinya Jadi Korban Grooming Remaja

Pemicu utama dari berbagai krisis ini adalah kecenderungan manusia untuk lebih mengikuti keinginan pribadi daripada menaati kehendak Allah.

Keluarga Sebagai “Gereja Kecil” yang Memulihkan

Dalam konteks inilah, keluarga dipanggil untuk berperan sebagai “gereja kecil” yang memiliki panggilan mulia untuk memulihkan keadaan. Keluarga dianjurkan untuk bercermin dan meniru teladan keluarga kudus Yusuf dan Maria.

Pesan Natal ini menegaskan bahwa tidak ada keluarga yang sempurna. Upaya untuk menjadi keluarga yang baik tidak harus menunggu hingga mencapai kesempurnaan yang mustahil. Sebaliknya, keluarga adalah perpanjangan kasih Allah yang memiliki kekuatan untuk memulihkan dan menyelamatkan.

Oleh karena itu, nilai kasih yang menyelamatkan harus terus diupayakan mulai dari dalam lingkungan keluarga. Allah akan senantiasa menyertai keluarga yang berusaha memulihkan relasinya dengan sesama manusia dan alam, menyalakan harapan, menguatkan kasih, dan meneguhkan iman.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kita semua, keluarga kita, gereja, dan seluruh masyarakat dalam perjalanan karya pemulihan dan peneguhan. Mari kita wujudkan relasi yang baik, harapan yang menyala, kasih yang kian kuat, dan iman yang semakin teguh. Selamat Natal 2025. Tuhan memberkati.