Human Interest

Candi Sawentar: Saksi Kuno, Warisan Negarakertagama

×

Candi Sawentar: Saksi Kuno, Warisan Negarakertagama

Sebarkan artikel ini

Menyingkap Jejak Kejayaan: Candi Sawentar, Saksi Bisu Peradaban Hindu-Buddha di Blitar

Candi Sawentar, sebuah situs bersejarah yang terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, memegang peranan penting dalam merekam jejak peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Kompleks percandian ini, yang terdiri dari dua bangunan terpisah sekitar 100 meter satu sama lain, diduga kuat berasal dari masa transisi antara Kerajaan Singasari dan Majapahit, sebuah periode krusial dalam sejarah Jawa Timur. Keberadaannya bukan sekadar tumpukan batu kuno, melainkan sebuah narasi visual yang terukir dalam relief-reliefnya, serta catatan sejarah yang menghubungkannya dengan tokoh-tokoh penting masa lalu.

Nama “Sawentar” sendiri bukanlah sekadar penamaan geografis. Istilah ini merujuk pada “Lwa Wentar,” sebuah lokasi suci yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama. Sebutan lain yang juga melekat pada candi ini di kalangan masyarakat setempat adalah Candi Cungkup atau Candi Centong, yang menunjukkan betapa lamanya situs ini telah dikenal dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat. Dengan demikian, Candi Sawentar menjelma menjadi lebih dari sekadar artefak arkeologis; ia adalah warisan budaya yang hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Jejak Raja Hayam Wuruk dan Misteri Pembangunan Candi

Salah satu aspek paling menarik dari Candi Sawentar adalah kaitannya dengan masa keemasan Kerajaan Majapahit. Kitab Negarakertagama, sebuah karya sastra penting dari era tersebut, mencatat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke “Lwang Wentar” pada tahun 1361. Para ahli sejarah banyak meyakini bahwa Lwang Wentar yang dimaksud dalam kitab tersebut adalah Candi Sawentar I. Kunjungan raja ini, yang dilakukan dalam rangka perjalanan keliling wilayah kerajaannya, diduga memiliki dua tujuan utama: ziarah ke tempat suci dan peristirahatan.

Dugaan bahwa candi ini juga berfungsi sebagai tempat peristirahatan kerajaan semakin memperkaya pemahaman kita tentang fungsi kompleks percandian di masa lalu. Tidak hanya sebagai pusat spiritual, tetapi juga sebagai titik strategis dalam mobilitas dan aktivitas raja.

Baca Juga :  Susan Sameh Melahirkan: Sang Buah Hati Telah Tiba!

Meskipun demikian, misteri mengenai masa pasti pembangunan candi ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Ada yang berpendapat bahwa candi ini berasal dari era Kerajaan Singasari, sementara yang lain meyakini bahwa pembangunannya dimulai pada awal periode Majapahit. Perbedaan pandangan ini justru menjadi nilai tambah, karena menempatkan Candi Sawentar sebagai saksi bisu masa peralihan yang penuh dinamika dalam sejarah Jawa Timur.

Penemuan Kembali dari Pelukan Gunung Kelud

Sejarah penemuan kembali Candi Sawentar juga menyimpan kisah dramatis. Candi ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1915 oleh Oudheidkundige Dienst, atau Dinas Purbakala pada masa kolonial Belanda. Sebelum ditemukan, sebagian besar bangunan candi terkubur oleh material vulkanik yang dimuntahkan oleh letusan Gunung Kelud. Fenomena alam ini menyebabkan posisi candi berada jauh di bawah permukaan tanah yang ada saat ini.

Proses ekskavasi pun dilakukan secara bertahap. Melalui penggalian yang teliti, bagian kaki candi dan sejumlah struktur penting lainnya berhasil diungkap kembali ke permukaan. Pemugaran awal dilakukan pada tahun 1921. Namun, upaya rekonstruksi ini menghadapi kendala, terutama pada bagian atap yang tidak dapat sepenuhnya direstorasi karena keterbatasan material asli. Meskipun demikian, upaya pelestarian terus dilakukan oleh berbagai pihak hingga kini, memastikan bahwa Candi Sawentar dapat terus dipelajari dan dinikmati oleh generasi mendatang.

Arsitektur dan Relief yang Memukau

Candi Sawentar I menampilkan ciri khas arsitektur candi Jawa Timur yang megah. Bangunannya tersusun atas tiga bagian utama: kaki, tubuh, dan atap. Terbuat dari batu andesit, candi ini memiliki dimensi yang mengesankan: panjang sekitar 9,53 meter, lebar 6,86 meter, dan tinggi mencapai 10,65 meter.

Namun, keindahan arsitektur Candi Sawentar tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Keunikan sesungguhnya terletak pada relief-relief yang menghiasi dinding candi. Pada bagian kaki, terukir relief naga bersayap yang melambangkan alam bawah, sebuah simbolisme yang kaya dalam kosmologi Hindu. Sementara itu, di bagian tubuh, terdapat relief kepala kala yang lazim difungsikan sebagai penolak bala, menjaga kesucian tempat tersebut.

Baca Juga :  Bukan provokasi, Laras Faizati blak-blakan soal kematian driver ojol Affan jadi konten medsos

Salah satu relief yang paling memikat adalah adanya yoni dengan motif Garudeya. Garudeya, yang merupakan vahana atau kendaraan Dewa Wisnu, mengindikasikan adanya kaitan erat candi ini dengan pemujaan terhadap Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu. Keunikan lain yang tak kalah menarik adalah relief Dewa Surya yang digambarkan menunggang kuda. Simbolisme ini semakin memperkaya khazanah makna yang terkandung dalam setiap ukiran candi, mencerminkan kedalaman spiritual dan artistik peradaban masa lalu.

Makna Religius dan Peran Kerajaan

Fungsi Candi Sawentar tak lepas dari dimensi keagamaan yang kental. Berbagai relief yang ditemukan, seperti motif Garudeya, memperkuat dugaan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu, khususnya Dewa Wisnu. Namun, hingga kini, masih belum ada kepastian mutlak apakah candi ini juga berfungsi sebagai tempat pendarmaan (tempat peristirahatan terakhir) bagi tokoh-tokoh tertentu, atau murni diperuntukkan sebagai tempat ibadah.

Terlepas dari perdebatan tersebut, catatan kunjungan Raja Hayam Wuruk memberikan bukti kuat akan peran penting candi ini dalam aktivitas kerajaan pada masanya. Hal ini menunjukkan bahwa Candi Sawentar bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga memiliki nilai strategis dan simbolis bagi penguasa.

Dengan segala nilai sejarah, kekayaan arsitektur, dan kedalaman spiritual yang terkandung di dalamnya, Candi Sawentar menjadi bukti nyata kejayaan peradaban masa lalu di Blitar. Pelestarian situs ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tugas kita bersama untuk menjaga warisan berharga ini agar terus dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi mendatang, sebagai pengingat akan akar budaya Nusantara yang kaya.