Berita

Apa Itu Lavender Marriage? Tekanan Sosial dalam Pernikahan

×

Apa Itu Lavender Marriage? Tekanan Sosial dalam Pernikahan

Sebarkan artikel ini

Apa Itu Lavender Marriage?

Lavender marriage adalah bentuk pernikahan yang terjadi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, namun salah satu atau keduanya memiliki orientasi seksual yang tidak heteroseksual. Istilah ini muncul bukan karena alasan romantis, melainkan karena adanya tekanan sosial atau lingkungan tertentu. Pernikahan semacam ini sering dilakukan untuk menyembunyikan identitas seksual pasangan dari masyarakat agar mereka bisa menghindari stigma, diskriminasi, atau bahaya lainnya.

Istilah “lavender” berasal dari warna ungu yang sudah lama menjadi simbol bagi komunitas LGBTQIA+. Warna ini dipilih karena memiliki makna yang dalam dalam sejarah. Misalnya, penyair lesbian Yunani kuno, Sappho, menggunakan kata “violet tiaras” untuk menggambarkan cinta kepada perempuan. Di abad ke-20, bunga violet mulai diberikan sebagai tanda penghormatan kepada Sappho oleh para wanita lesbian.

Selain itu, warna ungu juga digunakan oleh kalangan queer pada masa 1890-an. Saat itu, penulis Oscar Wilde menulis tentang “purple hours”, yang menggambarkan momen-momen penting dalam sebuah novel. Pada tahun 1930-an, istilah lavender mulai digunakan secara lebih luas untuk merujuk pada komunitas gay.

Baca Juga :  Bupati Asahan Pimpin Apel Penyemprotan Massal

Sejarah Lavender Marriage

Lavender marriage pertama kali muncul pada 1920-an ketika menjadi homoseksual secara terbuka bisa berdampak buruk pada hidup seseorang. Mereka bisa kehilangan pekerjaan, dirawat di rumah sakit jiwa, atau menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari masyarakat. Pada masa itu, banyak orang memilih untuk menikahi seseorang dari lawan jenis agar dapat menyembunyikan orientasi seksual mereka.

Di Hollywood, lavender marriage sangat umum selama masa keemasan film. Studio-studio sangat menjaga citra publik para bintang mereka, sehingga para aktor dan aktris sering menikah dengan orang yang tidak mereka cintai hanya untuk menjaga reputasi.

Selain kalangan artis, lavender marriage juga terjadi di kalangan politikus. Citra publik dan kesesuaian dengan nilai heteronormatif sangat penting bagi kelangsungan karier mereka. Pada masa itu, lavender marriage dianggap sebagai “kode” yang menggambarkan kondisi seseorang yang tidak sesuai dengan norma gender dan seksual.

Dampak dan Alasan Pasangan Melakukan Lavender Marriage

Menurut sejarawan Justin Bengry, salah satu alasan pasangan melakukan lavender marriage adalah untuk memberikan rasa aman dan perlindungan. Pernikahan semacam ini dinilai bisa menutupi hubungan sesama jenis, entah salah satu atau kedua pasangan, yang dianggap heteroseksual jika mereka menikah secara sah.

Baca Juga :  Luhut soal Idul Fitri: Mari Singkirkan Perbedaan

“Pernikahan lavender juga dapat melindungi orang dari keluarga dan komunitas yang tidak menyetujui, yang dapat mencakup apa saja mulai dari kekecewaan dan penolakan hingga bahaya dan kekerasan langsung,” jelas Bengry.

Sementara itu, sejarawan Lillian Faderman menjelaskan bahwa lavender marriage memungkinkan pasangan merasa aman dan memiliki akses ke tempat-tempat yang tidak mungkin bisa dikunjungi sebagai pasangan sesama jenis. Pernikahan ini juga bisa membantu mereka menjaga status sosial, kekayaan, atau karier tanpa harus menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.

Kesimpulan

Lavender marriage adalah fenomena kompleks yang terkait dengan tekanan sosial, stigma, dan kebutuhan untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang tidak mendukung. Meskipun banyak orang menganggapnya sebagai bentuk penipuan, ada banyak alasan di balik tindakan ini. Dari segi psikologis, lavender marriage bisa menjadi cara untuk melindungi diri dari diskriminasi dan ancaman. Namun, hal ini juga bisa menimbulkan konflik emosional dan moral bagi pasangan yang menjalaninya.