Human Interest

Ayu Rayana: Meraih Mimpi di Sekolah Rakyat Unesa

×

Ayu Rayana: Meraih Mimpi di Sekolah Rakyat Unesa

Sebarkan artikel ini

Sekolah Rakyat Unesa: Jembatan Pendidikan Gratis untuk Masa Depan Gemilang

Surabaya – Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi keluarga, kesempatan untuk mengenyam pendidikan berkualitas seringkali menjadi sebuah kemewahan. Namun, di Surabaya, sebuah program inovatif hadir untuk membuka pintu harapan: Sekolah Rakyat Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Program ini tidak hanya menawarkan pendidikan gratis, tetapi juga fasilitas lengkap termasuk asrama dan perlengkapan belajar, menjadi angin segar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Ayu Rayana, seorang siswi kelas 10 di Sekolah Rakyat Unesa. Bagi Ayu dan ibunya, Sutiatik (55), perjalanan ini dimulai tanpa diduga. Sutiatik, seorang penjahit rumahan, mengakui ketidakpahamannya terhadap Sekolah Rakyat hingga petugas sosial mendatangi rumah mereka.

Awal Perjalanan yang Penuh Pertimbangan

“Awalnya saya tidak mengerti, tiba-tiba ada petugas dari Kementerian Sosial datang. Lalu mereka menawarkan Sekolah Rakyat. Saya serahkan keputusannya pada Ayu, mau atau tidak, karena harus tinggal di asrama selama tiga tahun,” kenang Sutiatik dengan lirih saat menceritakan momen awal putrinya mendapatkan kesempatan tersebut.

Keputusan ini tentu tidak mudah. Ayu harus beradaptasi dengan kehidupan baru, belajar mandiri jauh dari keluarga dan pengawasan ibunya. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang kian terbatas, terutama setelah suaminya tidak lagi memiliki pekerjaan tetap, membuat pilihan lain terasa semakin sulit. Biaya masuk sekolah negeri pun menjadi beban yang tak ringan.

“Waktu itu keadaan memang sedang sulit. Jika masuk sekolah negeri, tetap saja membutuhkan biaya. Akhirnya kami beranikan diri, bismillah saja. Ayu juga punya mimpi untuk kuliah, siapa tahu nanti bisa gratis juga,” ujar Sutiatik penuh harap.

Setelah lulus dari SMP Giki 2 Surabaya, Ayu akhirnya menerima tawaran tersebut. Pada Juli 2025, ia memulai kehidupan baru di Sekolah Rakyat, menjalani rutinitas asrama yang disiplin.

Fasilitas Lengkap dan Kehidupan Asrama yang Terstruktur

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, seluruh kebutuhan siswa di Sekolah Rakyat telah ditanggung sepenuhnya. Sutiatik bersyukur, “Alhamdulillah, semua fasilitas didapatkan. Mulai dari makan, seragam, peralatan sekolah, bahkan laptop. Kami tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.”

Baca Juga :  Uang Rakyat Digasak, Bansos 8 M Tak Berjejak

Bagi keluarga kecil ini, bantuan tersebut bukan sekadar meringankan beban, melainkan sebuah penyelamat yang membuka peluang masa depan Ayu.

Sejak bangku SMP, Ayu dikenal sebagai pribadi yang aktif dan berprestasi, terutama dalam bidang karate. Ia telah mengukir berbagai prestasi, mulai dari tingkat provinsi hingga internasional. “Prestasinya sejak SMP itu di karate dan paskibra. Ada piala bergilir dari provinsi, piala internasional, dan piala gubernur,” jelas sang ibu bangga.

Bakatnya terus berkembang di Sekolah Rakyat. Ayu kembali meraih juara dalam kejuaraan Gojukai kategori kata beregu. “Lombanya dinilai dari seni dan kekompakan. Kami bertiga menampilkan gerakan kata,” terang Ayu dengan mata berbinar penuh semangat.

Pembinaan Karakter dan Disiplin di Asrama

Selain fokus pada pengembangan bakat olahraga, Sekolah Rakyat juga memberikan penekanan kuat pada pembinaan karakter. Kehidupan di asrama diwarnai dengan rutinitas ibadah berjamaah lima waktu, kegiatan keagamaan, dan pembiasaan disiplin yang ketat.

“Saya pribadi sangat suka dengan program ini, terutama aspek religiusnya yang terarah. Shalat lima waktu berjamaah, ada kegiatan malam. Ayu jadi lebih tertata,” ujar Sutiatik.

Salah satu aturan yang sempat membuat Sutiatik cemas adalah pembatasan penggunaan ponsel, yang hanya diizinkan seminggu sekali. “Awalnya khawatir, anak zaman sekarang kan kalau tidak memegang HP rasanya bagaimana. Tapi alhamdulillah bisa terlewati. Jika ada apa-apa, bisa melalui wali asuh,” ungkapnya.

Namun, bagi Ayu, pembatasan tersebut justru membantunya untuk lebih fokus pada studi dan kegiatan di asrama. “Lingkungannya menyenangkan, kegiatannya dilakukan bersama-sama. Jadi tidak terasa jauh dari rumah,” tutur Ayu.

Ia berbagi kamar dengan tiga teman lainnya di asrama putri. Aktivitas harian dimulai sejak pukul enam pagi hingga empat sore, dilanjutkan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. “Kami satu kamar berempat. Teman-temannya asyik, kegiatannya juga seru-seru semua,” tambahnya.

Baca Juga :  Roby Bagikan 6.434 Seragam Sekolah Gratis

Sistem libur di Sekolah Rakyat menyesuaikan dengan kalender libur nasional. “Saya baru bisa pulang saat libur. Kalau ada tanggal merah, pasti libur dan boleh pulang ke rumah. Seperti saat ini, ada libur Isra Miraj,” jelas Ayu.

Mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari Surabaya dengan latar belakang keluarga yang beragam. Program ini menjadi semacam jaring pengaman pendidikan bagi anak-anak yang hampir kehilangan kesempatan untuk bersekolah. Ayu sendiri termasuk siswa yang beruntung. Sebelumnya, ia sempat mencoba masuk SMA khusus olahraga, namun gugur dalam seleksi karate. Sekolah Rakyat akhirnya menjadi pelabuhan baru baginya.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

Kini, Ayu memiliki cita-cita besar: masuk jurusan IPA dan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. “Saya bangga bisa masuk Sekolah Rakyat. Saya jadi bisa ikut meringankan beban orang tua,” ucap Ayu dengan mantap.

Sutiatik pun memiliki harapan yang sama, menggantungkan masa depan putrinya pada janji keberlanjutan program hingga jenjang perguruan tinggi. “Katanya nanti bisa kuliah gratis di Unesa. Itu sangat membantu, karena biaya kuliah swasta sekarang sangat mahal,” ujarnya.

Di sudut ruang tamu rumahnya yang sederhana, terjejer rapi beberapa piagam karate yang menjadi saksi bisu perjalanan Ayu. Dari seorang anak kampung yang tekun berlatih, kini ia menjelma menjadi siswi asrama dengan mimpi yang jauh lebih besar.

Sekolah Rakyat Unesa bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah ruang transformasi. Ayu tidak hanya belajar akademis, tetapi juga menempa kedisiplinan, religiusitas, dan kemandirian. Sementara itu, Sutiatik belajar melepaskan kekhawatiran, menggantinya dengan doa dan keyakinan.

“Bismillah saja,” ucap sang ibu suatu hari ketika mengantar Ayu kembali ke asrama. Kalimat sederhana itu kini menjelma menjadi kekuatan yang tak terhingga, mengantarkan seorang anak Surabaya untuk menjemput masa depannya yang gemilang.