Beckham Putra Nugraha Kembali Pamerkan Selebrasi ‘Dingin’, Kali Ini Berujung Manis
Beckham Putra Nugraha kembali mencuri perhatian, tidak hanya karena gol tunggalnya yang membawa Persib Bandung meraih kemenangan penting atas Persija Jakarta, tetapi juga karena selebrasi khasnya yang kembali diperagakan. Selebrasi yang ia sebut sebagai gestur ‘kedinginan’ atau ‘ice cold’ ini, yang pernah menjadi mimpi buruknya karena berujung denda besar, kali ini terasa lebih membanggakan.
Gol kemenangan Persib Bandung tercipta berkat kecerdikan Beckham Putra di awal babak pertama, tepatnya saat pertandingan baru berjalan lima menit. Memanfaatkan kesalahan fatal dari Bruno Tubarao yang gagal mengantisipasi umpan silang Berguinho dari sisi kanan serangan, Beckham dengan sigap menceploskan bola ke gawang lawan. Momen krusial ini disambutnya dengan berlari ke pinggir lapangan dan melakukan selebrasi ‘ice cold’, sebuah gestur yang kini identik dengan bintang Chelsea, Cole Palmer.
Selebrasi tersebut dinilai sangat tepat sasaran. Gol tunggal tersebut tidak hanya memastikan kemenangan Persib Bandung, tetapi juga mengantarkan tim berjuluk Maung Bandung itu merajai puncak klasemen. Lebih istimewa lagi, kemenangan ini menjadikan Persib Bandung sebagai juara paruh musim Liga Super 2025/2026.
Namun, bagi penggemar setia Persib, selebrasi ‘dingin’ ini bukanlah hal yang baru. Musim sebelumnya, Beckham Putra juga pernah melakukan gestur serupa, yang ironisnya juga terjadi saat menghadapi Persija Jakarta.
Masa Lalu yang Pahit Menjadi Pelajaran Berharga
Pada tanggal 16 Februari 2025, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Beckham Putra mencetak gol yang membuat skor akhir pertandingan imbang 2-2. Saat itu, selebrasi ‘kedinginan’ yang dilakukannya di kandang Persija, di hadapan ribuan Jakmania, berbuntut panjang. Ia dianggap melakukan selebrasi yang memprovokasi dan berujung pada sanksi berat: larangan bermain dalam tiga pertandingan serta denda sebesar Rp 75 juta. Pengalaman pahit inilah yang membuat banyak pihak bertanya-tanya, mengapa Beckham Putra kembali memilih selebrasi yang sama, padahal pernah menimbulkan konsekuensi serius.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Beckham Putra memberikan jawaban yang tegas. Ia menegaskan bahwa selebrasi tersebut murni merupakan ekspresi pribadinya, tanpa ada sedikitpun niat untuk memprovokasi atau menyinggung pihak lawan.
“Ya, ini sudah menjadi ikonik bagi saya dan ini adalah hal yang normal,” ujar Beckham Putra dalam konferensi pers pasca pertandingan. Ia menambahkan, “Kalian bisa lihat juga ada pemain Chelsea yang melakukan itu dan saya pikir itu hal yang lumrah. Ini menjadi selebrasi ikonik saya. Kita juga di puncak klasemen, jadi kenapa tidak merayakan seperti itu?”
Pelatih Memberikan Dukungan dan Pemahaman
Pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, juga turut memberikan pandangannya mengenai selebrasi yang ditampilkan oleh anak asuhnya. Hodak memahami bahwa selebrasi tersebut merupakan luapan emosi yang wajar terjadi dalam sebuah pertandingan yang sarat tensi tinggi, terutama dalam laga klasik seperti melawan Persija.
“Beruntung hari ini tidak ada fans Persija di sini, sehingga dia tidak memprovokasi siapapun,” ujar Hodak, menyadari perbedaan kondisi pertandingan kali ini dibandingkan musim lalu. Ia melanjutkan, “Tetapi Anda bisa lihat, sepak bola adalah olahraga yang emosional. Sama seperti kartu merah di pertandingan, itu bisa terjadi karena emosi.”
Hodak mengungkapkan bahwa sebelum pertandingan, ia telah menekankan pentingnya kontrol emosi kepada para pemainnya. Namun, ia juga menyadari bahwa dalam situasi pertandingan yang intens, di mana para pemain bermain dengan 100 persen kemampuan dan berhasil mencetak gol, luapan emosi adalah hal yang sulit dihindari.
“Sebelum pertandingan, saya berbicara kepada mereka untuk mengontrol emosi mereka, tetapi ketika mereka bermain 100 persen dan mencetak gol di pertandingan seperti ini, tentu saja (meluapkan emosi),” pungkas Hodak, menunjukkan pemahamannya terhadap dinamika emosional dalam dunia sepak bola.
Kembalinya selebrasi ‘kedinginan’ oleh Beckham Putra, kali ini dengan konteks yang lebih positif dan dukungan dari pelatih, menunjukkan kedewasaan pemain muda tersebut dalam mengelola ekspresi diri di lapangan. Pengalaman pahit di masa lalu tampaknya telah menjadi pelajaran berharga, yang kini diubah menjadi momen kebanggaan dan perayaan atas pencapaian tim.
















