Ekonomi

BI: Penjualan Ritel Diprediksi Naik Desember 2025

×

BI: Penjualan Ritel Diprediksi Naik Desember 2025

Sebarkan artikel ini

Proyeksi Pertumbuhan Penjualan Eceran di Akhir 2025: Sektor Mana yang Mendominasi?

Kinerja sektor penjualan eceran di Indonesia menunjukkan tren positif yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2025. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Desember 2025 akan mencatat pertumbuhan sebesar 4,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini mengindikasikan adanya peningkatan daya beli masyarakat yang signifikan menjelang periode akhir tahun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, merinci bahwa pertumbuhan penjualan eceran ini akan didorong oleh beberapa kelompok barang utama. Sektor-sektor yang diprediksi akan mengalami lonjakan permintaan meliputi:

  • Suku Cadang dan Aksesori: Kebutuhan akan suku cadang kendaraan dan berbagai aksesori diperkirakan meningkat, baik untuk perawatan rutin maupun persiapan perjalanan di akhir tahun.
  • Makanan, Minuman, dan Tembakau: Sektor ini selalu menjadi primadona menjelang periode perayaan, termasuk Natal dan Tahun Baru. Peningkatan konsumsi makanan dan minuman siap saji, serta kebutuhan pokok lainnya, diprediksi akan melonjak.
  • Barang Budaya dan Rekreasi: Seiring dengan meningkatnya waktu luang dan semangat liburan, masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran untuk barang-barang yang berkaitan dengan budaya dan rekreasi, seperti buku, peralatan hobi, atau barang-barang koleksi.
  • Bahan Bakar Kendaraan Bermotor: Peningkatan aktivitas perjalanan, baik untuk mudik maupun liburan, akan mendorong permintaan bahan bakar kendaraan bermotor.

Tren Pertumbuhan Bulanan yang Menggembirakan

Selain proyeksi pertumbuhan tahunan, data BI juga menunjukkan optimisme terhadap kinerja penjualan eceran secara bulanan. Pada Desember 2025, penjualan eceran diprakirakan akan tumbuh sebesar 4,0% secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini melampaui pertumbuhan sebesar 1,5% mtm yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Baca Juga :  Luhut Yakin Indonesia Masuk 4-5 Besar Ekonomi Terbesar di Dunia Tahun 2030

Denny menjelaskan bahwa peningkatan bulanan ini didorong oleh kinerja mayoritas kelompok barang. Beberapa kelompok yang menjadi kontributor utama meliputi:

  • Peralatan Informasi dan Komunikasi: Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan akan perangkat komunikasi yang lebih canggih, penjualan di sektor ini diprediksi meningkat, terutama menjelang libur akhir tahun.
  • Barang Budaya dan Rekreasi: Seperti yang disebutkan sebelumnya, peningkatan permintaan untuk barang-barang ini akan berkontribusi pada pertumbuhan bulanan.
  • Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya: Kebutuhan akan perlengkapan rumah tangga baru atau pengganti, terutama dalam rangka menyambut tamu atau mempercantik rumah menjelang perayaan, juga diprediksi akan meningkat.
  • Makanan, Minuman, dan Tembakau: Permintaan yang tinggi untuk produk-produk ini akan terus menopang pertumbuhan penjualan eceran secara bulanan.

Lonjakan permintaan ini, menurut Denny, sangat sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat dalam menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Natal dan Tahun Baru.

Analisis Kinerja Oktober dan November 2025

Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, penting untuk melihat kinerja penjualan eceran pada bulan-bulan sebelumnya. Pada November 2025, IPR secara tahunan tercatat tumbuh sebesar 6,3% yoy. Angka ini menunjukkan peningkatan yang lebih baik dibandingkan IPR bulan sebelumnya yang tumbuh 4,3% yoy.

Pertumbuhan pada November 2025 ini terutama didukung oleh peningkatan penjualan pada kelompok:

  • Suku Cadang dan Aksesori: Menunjukkan tren yang konsisten dalam mendukung kinerja penjualan eceran.
  • Makanan, Minuman, dan Tembakau: Sektor ini terus menunjukkan performa kuatnya.
  • Barang Budaya dan Rekreasi: Peningkatan permintaan untuk kategori ini mulai terasa menjelang periode liburan.

Secara bulanan, penjualan eceran pada November 2025 juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,5% mtm. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan penjualan pada kelompok:

  • Peralatan Informasi dan Komunikasi: Menunjukkan adanya minat masyarakat terhadap produk teknologi.
  • Bahan Bakar Kendaraan Bermotor: Aktivitas perjalanan mulai meningkat menjelang akhir tahun.
  • Suku Cadang dan Aksesori: Permintaan yang stabil.
  • Makanan, Minuman, dan Tembakau: Kebutuhan pokok yang terus meningkat.
Baca Juga :  Pantauan harga telur di Pasar Mandalika, bertahan di angka Rp50 ribu per tray

Peningkatan permintaan pada bulan November ini secara umum sudah mulai terasa seiring dengan meningkatnya antisipasi masyarakat menjelang periode perayaan HBKN Natal dan Tahun Baru.

Proyeksi Inflasi: Kenaikan Jangka Pendek, Penurunan Jangka Panjang

Selain melihat sisi permintaan, BI juga memantau pergerakan harga melalui Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH). Menurut Denny, tekanan inflasi dalam tiga bulan mendatang, yaitu pada Februari 2026, diprakirakan akan meningkat. Namun, untuk enam bulan mendatang, yakni Mei 2026, inflasi diprediksi akan mengalami penurunan.

Proyeksi peningkatan inflasi pada Februari 2026 tercermin dari IEH yang tercatat sebesar 168,6. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 163,2. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi kenaikan harga barang menjelang periode Ramadan 1447 Hijriah.

Sebaliknya, IEH Mei 2026 tercatat sebesar 154,5, yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 161,7. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi diperkirakan akan mereda setelah periode Ramadan dan mendekati pertengahan tahun.

Secara keseluruhan, tren penjualan eceran yang positif hingga akhir 2025 memberikan sinyal yang baik bagi perekonomian Indonesia. Sektor-sektor yang menjadi penopang utama pertumbuhan ini diharapkan dapat terus berkinerja optimal, sembari tetap mewaspadai potensi fluktuasi harga di masa mendatang.