Alreinamedia.com – Harga minyak Brent jatuh hampir 9 persen pada perdagangan Kamis (5/11) pagi setelah hasil pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat memicu harapan konflik dengan Iran dapat segera mereda. Pasar memperkirakan perubahan kekuatan politik di Washington bisa mempersempit ruang Presiden Donald Trump untuk melanjutkan operasi militer dan membuka jalan bagi diplomasi.
Data yang dikutip dari Investing pada pukul 07.45 WIB menunjukkan kontrak Brent turun 9,98 poin atau 8,67 persen ke 94,62 dolar AS per barel. Pada waktu yang sama, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di 88,07 dolar AS per barel, turun 0,05 poin atau 0,06 persen; harga WTI pada Rabu pagi dilaporkan sebesar 96,63 dolar AS per barel.
Tekanan terhadap harga muncul setelah Partai Republik kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilu paruh waktu. Partai Demokrat menguasai DPR dan Senat, sehingga pelaku pasar berspekulasi posisi politik Trump yang melemah dapat membatasi kelanjutan perang AS-Israel melawan Iran.
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, menilai kendali Demokrat berpotensi memperketat pengawasan atas belanja militer AS di Timur Tengah. “Penguasaan Kongres oleh Demokrat dapat meningkatkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat,” ujar Dennis.
Trump menyatakan AS belum memiliki rencana segera untuk menyerang Iran dan mengakui perang tersebut ikut berperan dalam kekalahan besar Partai Republik. Wakil Presiden JD Vance juga mempertanyakan manfaat konflik itu serta menyebutnya sebagai salah satu penyebab kekalahan partainya.
Namun, kemungkinan berakhirnya perang belum pasti. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan permusuhan AS terhadap Iran akan berlanjut terlepas dari partai yang berkuasa di Washington, sementara seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran dan Washington masih jauh dari kesepakatan. Analis Enverus Carl Larry mengingatkan perubahan politik AS tidak otomatis menyelesaikan konflik, sedangkan Qatar meningkatkan upaya mediasi untuk mencegah serangan kembali meluas.
Pergerakan pasokan juga menjadi perhatian pasar. Ekspor minyak mentah, kondensat, dan produk olahan dari kawasan Teluk—tidak termasuk LPG—rata-rata mencapai 17,1 juta barel per hari pada Oktober, turun dari 18,9 juta barel pada September dan masih sekitar tiga perempat tingkat sebelum perang. Uni Emirat Arab turut mempertimbangkan pembangunan pipa minyak ketiga agar pengiriman minyak mentah tidak harus melewati Selat Hormuz.
Di sisi lain, laporan persediaan AS memberi dukungan bagi harga minyak. Administrasi Informasi Energi AS mencatat stok minyak mentah turun 865.000 barel menjadi 409,8 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2026, berlawanan dengan perkiraan analis Reuters yang memproyeksikan kenaikan 877.000 barel. Persediaan bensin dan produk distilat juga menurun pada periode tersebut.

















