Peran WNA dalam Pimpinan BUMN: Strategi untuk Meningkatkan Daya Saing
Sejak operasional Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berada di bawah kendali Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara Indonesia), berbagai inisiatif telah dilakukan untuk memperkuat perusahaan pelat merah. Salah satu contohnya adalah kebijakan yang melibatkan profesional dari luar negeri, termasuk warga negara asing (WNA), dalam jajaran direksi Garuda Indonesia.
Kebijakan ini mendapatkan dukungan penuh dari Istana. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang membuka peluang bagi WNA untuk memimpin BUMN bukanlah upaya mengganti tenaga profesional dalam negeri, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing dan standar manajemen di tingkat global.
“Kita sadari bahwa mungkin kita perlu juga. Jangan kita menutup diri atau mempermasalahkan (status kewarganegaraan) WNI, WNA. Kalau WNI mampu ya kita dorong, kalau kemudian kita merasa untuk sementara waktu kita membutuhkan skill dan kompetensi dari seseorang yang kebetulan dia WNA, kenapa tidak?” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah tetap mengutamakan tenaga profesional dari Indonesia untuk posisi strategis di BUMN. Namun, dalam kondisi tertentu, kehadiran tenaga ahli asing bisa menjadi katalis untuk memperkuat tata kelola perusahaan pelat merah agar lebih adaptif terhadap praktik bisnis internasional.
Prasetyo memberikan contoh kebijakan tersebut seperti strategi dalam dunia sepak bola. Pelatih asing sering dihadirkan untuk meningkatkan performa tim nasional.
“Sama seperti pelatih sepak bola. Kalau ada pelatih lokal yang bagus, ya kita pakai pelatih lokal. Tapi kalau kita membutuhkan pelatih asing, ya enggak ada masalah juga karena kadang-kadang kita butuh itu untuk memacu kita (timnas),” katanya.
Prasetyo memastikan bahwa dasar hukum bagi kebijakan rekrutmen WNA di BUMN sudah diatur dalam regulasi internal yang baru disesuaikan. “Ada di BUMN,” tegasnya.
Penunjukan WNA di Garuda Indonesia
Sebelumnya, kebijakan ini mulai terlihat ketika PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menunjuk dua WNA dalam jajaran direksi melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Oktober 2025.
Keduanya adalah Balagopal Kunduvara sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko dan Neil Raymond Mills sebagai Direktor Transformasi.
Balagopal Kunduvara sebelumnya menjabat sebagai Divisional Vice President Financial Services di Singapore Airlines (2021–2025). Sementara Neil Raymond Mills merupakan mantan Chief Procurement Officer dan Head of Transformation di Scandinavian Airlines (2024–2025) serta konsultan penerbangan di NM Aviation Limited (2022–2025).
Tanggapan terhadap Langkah Ini
Langkah ini menuai beragam pandangan, namun pemerintah menegaskan bahwa setiap penunjukan tetap dilakukan dengan prinsip selektivitas dan profesionalisme. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penunjukan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja dan pengembangan BUMN secara keseluruhan.
Dengan adanya penunjukan WNA dalam jajaran direksi, Garuda Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kualitas manajemen dan menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan sumber daya manusia dalam negeri dan penggunaan keahlian eksternal yang diperlukan.
Kebijakan yang Berorientasi Global
Pengambilan keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah memiliki visi jangka panjang untuk membawa BUMN ke level yang lebih kompetitif secara global. Dengan memadukan keahlian lokal dan internasional, diharapkan BUMN mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar di dunia.
Selain itu, kebijakan ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas batas dalam menghadapi dinamika ekonomi global saat ini. Dengan demikian, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat struktur dan kapasitas BUMN agar dapat berkontribusi optimal dalam perekonomian nasional.















