PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) Optimistis Raih Pertumbuhan Pendapatan 5-10% di 2026
PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) memproyeksikan pencapaian pertumbuhan pendapatan konsolidasi yang signifikan, yaitu antara 5% hingga 10% pada tahun 2026. Proyeksi ambisius ini didorong oleh beberapa strategi kunci dan pengembangan proyek yang telah direncanakan matang.
Anthony P. Susilo, CEO Paradise Indonesia, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini akan sangat ditopang oleh keberlanjutan monetisasi unit residensial di Antasari Place Tower 1. Selain itu, kontribusi arus kas yang substansial juga diharapkan berasal dari 23 Semarang Shopping Center, yang dijadwalkan akan mulai beroperasi pada paruh pertama tahun ini. “Memasuki 2026, kami menargetkan pertumbuhan pendapatan konsolidasi sekitar 5%–10%,” ujar Anthony, menegaskan optimisme perusahaan.
Lebih lanjut, sebagai langkah diversifikasi segmen pasar baru, INPP berencana untuk mengembangkan konsep properti low-density lifestyle di Balikpapan. Inisiatif ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi dan menjangkau segmen pasar yang berbeda, guna memperluas basis pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis aset.
Alokasi Belanja Modal yang Strategis untuk Ekspansi dan Peningkatan Aset
Menyongsong tahun 2026, INPP telah menetapkan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp400 miliar. Dana ini akan difokuskan secara strategis untuk ekspansi aset-aset baru serta renovasi dan peningkatan kualitas properti yang sudah ada. Distribusi capex pada tahun 2026 menunjukkan prioritas yang jelas, dengan 78% dialokasikan untuk ekspansi dan 22% untuk operasional.
Sumber pendanaan capex ini akan berasal dari kombinasi kredit sebesar 70% dan dana internal perusahaan sebesar 30%. Pendekatan pendanaan yang seimbang ini diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan modal sekaligus menjaga kesehatan neraca keuangan perusahaan.
Secara lebih rinci, penggunaan capex akan terbagi sebagai berikut:
- Perhotelan: Sekitar 10% dari total alokasi.
- Komersial: Mayoritas dana, yaitu 69%, akan dialokasikan untuk segmen komersial.
- Penjualan Properti: 21% dari capex akan diperuntukkan bagi pengembangan dan penjualan properti.
Transformasi Portofolio untuk Mendorong Pendapatan Berulang
Anthony menambahkan bahwa INPP akan secara proaktif melakukan transformasi portofolio sebagai bagian integral dari strategi pertumbuhan jangka panjangnya. Tujuan utama dari transformasi ini adalah untuk mendorong target pendapatan berulang (recurring income) hingga mencapai 75% dari total pendapatan konsolidasi pada tahun 2026.
Strategi perusahaan difokuskan pada pembangunan struktur pendapatan yang tangguh secara fundamental. Hal ini akan dicapai dengan menopang pertumbuhan pada aset-aset yang secara konsisten menghasilkan pendapatan, terutama di segmen perhotelan dan komersial. Komposisi portofolio yang lebih seimbang ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas arus kas perusahaan dan memperkuat stabilitas kinerja keuangannya secara keseluruhan.
“Kami akan memperkuat struktur pendapatan dengan menjaga porsi recurring income di kisaran 70%, seiring pengembangan aset yang dilakukan secara konsisten,” imbuh Anthony.
Ekspansi Pasar yang Terukur dan Selektif
Selain mengoptimalkan kinerja aset yang sudah ada, INPP juga secara konsisten menjalankan strategi perluasan pasar. Ekspansi ini akan dilakukan dengan pendekatan yang terukur dan selektif, memastikan setiap pengembangan proyek benar-benar berorientasi pada kebutuhan pasar yang aktual. Pertimbangan terhadap dinamika dan tren industri juga menjadi faktor krusial dalam setiap pengambilan keputusan pengembangan proyek.
“Pada 2026, kami akan fokus pada peningkatan dan ini menjadi prioritas kami, kita akan mengintensifkan capex untuk aset,” tegas Anthony.
Kontributor Utama Kinerja Keuangan 2026
Surina, Direktur INPP, memberikan perkiraan rinci mengenai kontributor utama kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2026. Ia memperkirakan bahwa segmen komersial dan perhotelan masing-masing akan memberikan kontribusi sebesar 38% terhadap total kinerja. Sementara itu, segmen penjualan properti diperkirakan akan menyumbang sebesar 24% terhadap kinerja keuangan perusahaan. Pembagian kontribusi ini menunjukkan keseimbangan strategis yang diterapkan perusahaan dalam portofolio asetnya.

















