Minat Investor Rendah Picu Gagal Lelang Proyek Jalan Tol Strategis
Minat investor terhadap proyek jalan tol strategis di Indonesia terus menunjukkan penurunan, yang berdampak pada kegagalan lelang yang terjadi berkali-kali. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur yang bertujuan meningkatkan konektivitas nasional.
Penyebab Utama Kegagalan Lelang
Berdasarkan data dan laporan yang diperoleh, penyebab utama rendahnya minat investor antara lain adalah ketidakpastian pengembalian modal, biaya konstruksi yang tinggi, serta prediksi trafik yang tidak sesuai dengan harapan. Proyek-proyek seperti Tol Getaci, Gilimanuk-Mengwi, hingga Gedebage-Ciamis mengalami gagal lelang berulang kali, sehingga skema proyek harus diubah agar lebih menarik bagi konsorsium investor.
Salah satu contoh adalah Tol Gilimanuk-Mengwi yang sepanjang 96,84 kilometer. Proyek dengan nilai investasi mencapai Rp 25,4 triliun ini mengalami beberapa kali kegagalan lelang. Akibatnya, skema proyek diubah menjadi solicited (prakarsa pemerintah). Namun, hingga akhir 2025, belum ada investor yang tertarik untuk terlibat karena adanya revisi trase dan studi kelayakan yang belum selesai.
Sikap Menteri PU dalam Menghadapi Tantangan
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pemerintah kini lebih realistis dalam memprioritaskan proyek infrastruktur. Ia menjelaskan bahwa jika suatu proyek tidak memiliki minat dari investor, biasanya disebabkan oleh rendahnya potensi trafik. Oleh karena itu, pemerintah memilih proyek yang lebih mendesak dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil.
“Kita harus pilih-pilih, apakah lebih baik kita chip in di Getaci atau kita percepat konstruksi bendungan untuk penanganan banjir yang lebih mendesak,” ujar Dody saat menjawab pertanyaan Kompas.com, Jumat (11/4/2026).
Untuk Tol Gilimanuk-Mengwi, proses kualifikasi ulang masih terus dilakukan. Tujuannya adalah memastikan struktur pembiayaan lebih menarik bagi konsorsium agar proyek dapat segera berjalan.
Tekanan Finansial BUJT
Asosiasi Tol Indonesia (ATI) melakukan riset komprehensif dan menemukan bahwa banyak Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) saat ini mengalami tekanan finansial yang berat. Beban bunga pinjaman dan biaya pemeliharaan yang terus meningkat tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan dari tarif tol. Selain itu, banyak ruas tol baru memiliki tingkat lalu lintas harian (LHR) yang jauh di bawah proyeksi awal.
Kondisi ini membuat masa pengembalian modal (payback period) menjadi jauh lebih lama dari kontrak konsesi. ATI mencatat, jika pemerintah tidak memberikan dukungan tambahan, risiko kebangkrutan atau gagal bayar utang oleh BUJT akan semakin meningkat.
Daftar Proyek Jalan Tol yang Mengambang
Berikut daftar lengkap proyek jalan tol yang nasibnya masih mengambang:
- Tol Gilimanuk-Mengwi
- Gagal lelang berkali-kali.
- Nilai Investasi: Rp 25,4 triliun.
- Skema proyek diubah menjadi solicited pada 2024, namun kualifikasi ulang (pre-qualification) ditunda hingga 2025 karena adanya reviu trase dan studi kelayakan.
Hingga akhir 2025, belum ada investor yang terikat.
Tol Getaci
- Gagal lelang sebanyak 2 kali.
- Nilai investasi: Rp 56,2 triliun.
- Proyek ini merupakan calon tol terpanjang di Indonesia, tetapi investor enggan masuk.
Rencananya akan dilakukan lelang ulang pada tahun 2026.
Tol Sentul Selatan-Karawang Barat
- Gagal lelang atau sedang dalam tahap penawaran kembali pada 2025.
Proyek harus dilelang ulang karena minimnya minat dari investor.
Tol Gedebage-Tasikmalaya-Ciamis
- Gagal lelang.
- Proyek ini masuk dalam daftar lelang ulang karena minimnya minat investor.

















