Dari Pemberontak Menjadi Pengusaha: Kisah Inspiratif Ibu Muda 21 Tahun di Geylang
Di usia muda, banyak orang masih bergulat mencari jati diri dan arah masa depan. Namun, bagi Shih Ting, seorang ibu muda berusia 21 tahun, perjalanan hidupnya telah membawanya dari masa lalu yang penuh gejolak menuju kesuksesan dalam membangun usaha reparasi ponsel di Geylang. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa perubahan positif dan ketekunan dapat membuka pintu peluang yang tak terduga.
Shih Ting, yang baru saja menyambut kelahiran buah hatinya pada September lalu, ingin berbagi tentang bagaimana hidupnya berputar 180 derajat. “Saya ingin berbagi kisah tentang bagaimana saya menjadi setengah sukses di usia 21 tahun,” ujarnya dengan nada bangga. Kini, ia dipercaya mengelola ZhangXin Repair, sebuah bisnis perbaikan ponsel yang berlokasi strategis di 340 Geylang Road.
Awal Perjalanan: Keterlibatan Dini dan Pemberontakan Masa Remaja
Perjalanan Shih Ting dalam dunia kerja dimulai sejak usia 14 tahun. Ia pernah menjadi duta keamanan vaksinasi COVID-19, bertugas mengawasi para pekerja di sebuah pusat perbelanjaan dan memastikan status vaksinasi mereka. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi meminta uang saku kepada orang tuanya, menunjukkan kemandirian finansial sejak dini.
Shih Ting di tokonya di Geylang.
Namun, di balik kemandirian tersebut, masa remajanya diwarnai dengan perilaku pemberontak. “Saya sama sekali tidak mendengarkan guru-guru saya,” akunya. Pengalamannya di institusi pendidikan seperti ITE (Institute of Technical Education) diwarnai dengan seringnya terlambat masuk kelas, bahkan hingga satu bulan penuh. Ia juga pernah mewarnai rambutnya, yang kemudian harus ia semprot menjadi hitam agar sesuai dengan peraturan sekolah. Shih Ting merasa benar-benar kehilangan arah dalam hidupnya.
Ia sempat mendalami Teknologi Informasi (TI), termasuk bahasa pemrograman seperti Java. Namun, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pembuatan kode secara instan melalui AI, membuatnya merasa ragu akan prospek karirnya. “Alat ini dapat menghasilkan semua kode yang butuh waktu lama untuk saya hafal hanya dalam hitungan detik,” jelasnya, menggambarkan perasaan ketidakpastian dihadapkan pada perkembangan AI.
Titik Balik: Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Pada usia 18 tahun, titik balik dalam hidup Shih Ting terjadi ketika ia menjalani magang di sebuah toko reparasi ponsel. Di sanalah ia bertemu dengan belahan jiwanya, yang kini menjadi suaminya.
Shih Ting mengakui bahwa masa pemberontakannya sempat merenggangkan hubungan dengan orang tuanya. Ia harus menyeimbangkan antara tuntutan sekolah, pekerjaan paruh waktu, dan jam pulang yang seringkali larut malam. “Omelan ibu saya benar-benar membuat saya jengkel,” katanya. Hal ini memicu pertengkaran dan mengurangi waktu berkualitas bersama keluarga.
Namun, seiring waktu, ia menyadari betapa pentingnya peran keluarga dalam hidupnya. Suaminya, yang lebih dewasa, menjadi sosok pembimbing dan mentor yang mengajarkan banyak hal. “Itu hal yang baik karena saya masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh,” ungkapnya. Hubungan dengan keluarga pun membaik secara signifikan setelah ia menjalin hubungan. Kini, keputusan-keputusan besar selalu didiskusikan bersama orang tua untuk mendapatkan masukan mereka. Ia sangat menggemari sebuah pepatah Tiongkok yang bermakna mendalam baginya: ‘家和万事兴’ (jiā hé wàn shì xīng), yang berarti ‘keharmonisan di rumah membawa kesuksesan dalam segala hal’.
Tantangan Bisnis: Mengatasi Keraguan dan Komentar Negatif
Membangun pijakan dalam dunia bisnis ternyata menghadirkan serangkaian tantangan tersendiri. Shih Ting harus beradaptasi dengan situasi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya, termasuk mengatasi masalah komunikasi dengan pelanggan. “Yang paling sering saya dengar adalah, ‘Masih muda ya, berbisnis giat banget, nggak bakal awet lama,'” tuturnya, mengutip komentar yang sering ia terima.
Lokasi tokonya yang berada di dekat Geylang Lorong 18, sebuah area yang kerap diasosiasikan dengan kawasan hiburan malam, juga membawa tantangan tersendiri. Saat ia memasang iklan daring, tak jarang ia menerima komentar-komentar tidak pantas dan bernada seksual. “Ada beberapa komentar yang mengerikan, komentar 18+ seperti, ‘Ayamnya enak atau tidak?'” katanya dengan nada kesal.
Awalnya, Shih Ting merasa marah dan berusaha membela diri dengan membalas komentar-komentar tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, ia belajar untuk bersikap lebih lapang dada. “Perlahan-lahan, saya mengerti bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda, dan jika itu yang mereka pikirkan, maka biarlah begitu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa menghadapi lingkungan seperti itu di usia muda memang tidak mudah, terutama ketika orang-orang melontarkan komentar yang tidak menyenangkan. Namun, ia menekankan pentingnya untuk tetap mengandalkan diri sendiri.
Tanggung Jawab dan Kepemimpinan
Sebagai pemilik bisnis, Shih Ting telah belajar banyak tentang pentingnya kepemimpinan dan tanggung jawab. Ia merasa bertanggung jawab penuh terhadap para karyawannya. “Saya bertanggung jawab atas pekerja saya karena saya perlu memberi mereka makan,” tegasnya.
Dalam proses rekrutmen, ia menyadari bahwa tidak semua karyawan dapat bekerja sesuai ekspektasinya. Setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan setiap peran sangat penting. Shih Ting percaya bahwa memperlakukan karyawan dengan baik akan mendorong mereka untuk bekerja lebih keras. Namun, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa beberapa karyawan menyalahgunakan kebaikan tersebut, yang akhirnya mengharuskannya untuk melakukan pemecatan.
Menyeimbangkan Peran dan Harapan Masa Depan
Kini, Shih Ting harus menyeimbangkan perannya sebagai pemilik bisnis dan ibu muda. Perjalanan ini tentu tidak mudah, namun justru membuatnya merasa lebih membumi. “Menjadi ibu di usia 21 tahun itu sangat muda, dan ada banyak komentar buruk,” katanya. Namun, ia bersyukur karena kini ia memiliki penghasilan yang stabil dan rumah sendiri. Hal ini membuatnya merasa siap untuk menghadapi tahapan kehidupan selanjutnya.
Ia berharap kisahnya dapat memberikan semangat bagi orang lain yang sedang merasa ragu tentang perjalanan hidup mereka. “Saya ingin memberi tahu orang-orang yang merasa tersesat bahwa itu normal terjadi di suatu titik dalam hidup,” ujar Shih Ting. Ia sendiri pernah merasa tersesat selama setahun dan membutuhkan bimbingan, yang akhirnya ia temukan ketika bertemu suaminya dan mereka merencanakan masa depan bersama. “Masih ada jalan panjang yang harus saya tempuh,” tambahnya, menunjukkan semangat untuk terus berkembang.

















