Ekonomi

Ekonomi Indonesia Tetap Stabil Meski Hadapi Gelombang Demonstrasi

×

Ekonomi Indonesia Tetap Stabil Meski Hadapi Gelombang Demonstrasi

Sebarkan artikel ini

Jakarta,  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan kepastian bahwa kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil meskipun terjadi gelombang aksi demonstrasi dalam beberapa waktu terakhir. Penegasan ini disampaikan usai melaporkan kondisi terkini perekonomian nasional kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/9/2025).

Indikator Ekonomi Menunjukkan Ketahanan

Dalam laporannya, Airlangga menekankan bahwa indikator makroekonomi menunjukkan kondisi yang menggembirakan. Nilai tukar rupiah tercatat bertahan di level Rp16.400 per dolar Amerika Serikat, menunjukkan ketahanan mata uang domestik di tengah gejolak.

Pasar saham yang sempat mengalami koreksi tipis juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat. “Secara mikro, selama pasca kejadian, stock market juga turunnya relatif tipis, kemudian sudah rebound kembali,” ujar Airlangga.

Fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan berbagai indikator positif yang mendukung:

  • Inflasi terkendali di level 2,31 persen pada Agustus 2025, bahkan mengalami deflasi 0,08 persen secara bulanan
  • PMI Manufaktur kembali ekspansi di level 51,5 pada Agustus 2025 setelah empat bulan kontraksi
  • Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 tercatat solid di level 5,12 persen year-on-year
Baca Juga :  Ekonomi 2026 Diprediksi Tembus 5 Persen

Dampak Jangka Pendek Terbatas

Meskipun gelombang demonstrasi yang terjadi sejak akhir Agustus 2025 memberikan tekanan pada pasar keuangan, dampaknya dinilai bersifat sementara. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 1,53 persen ke level 7.830 pada 29 Agustus 2025 saat puncak aksi, namun sebelumnya bahkan sempat mencatat rekor tertinggi di 8.000.

Data Bank Indonesia menunjukkan modal asing sebesar Rp16,85 triliun mengalir keluar dari pasar domestik pada pekan pertama September 2025. Hal ini terdiri dari jual neto nonresiden sebesar Rp3,87 triliun di pasar saham, Rp7,69 triliun di pasar Surat Berharga Negara, dan Rp5,29 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menegaskan bahwa volatilitas pasar saham akibat demonstrasi bersifat terbatas, dengan IHSG kembali menunjukkan tren positif seiring meredanya ketegangan.

Penguatan Program Stimulus

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya memperkuat stimulus ekonomi pada semester II tahun 2025. Sejumlah program yang telah berjalan akan terus diperluas, termasuk:

  • Subsidi gaji bagi pekerja berpenghasilan di bawah Rp10 juta yang telah dinikmati 1,7 juta pekerja
  • Kredit usaha rakyat untuk perumahan
  • Program renovasi rumah
  • Pembebasan pajak penghasilan untuk sektor tertentu
Baca Juga :  Asia Digital Engineering dan GMF Jalin Kemitraan untuk Tingkatkan Layanan MRO di Asia

“Tinggal beberapa program itu akan dilakukan penebalan terhadap program yang diberikan masyarakat,” kata Airlangga.

Pemerintah sebelumnya telah menggulirkan dua paket stimulus ekonomi dengan total nilai Rp57,4 triliun sepanjang 2025. Paket pertama senilai Rp33 triliun disalurkan pada Januari-Februari 2025, sementara paket kedua sebesar Rp24,4 triliun diluncurkan pada kuartal II dan masih berlaku hingga kuartal III-2025.

Optimisme Jangka Menengah dan Panjang

“Pemerintah yakin dampak dan dinamika sosial politik yang terjadi terhadap ekonomi harapannya bersifat jangka pendek, dan pemerintah terus mendorong optimisme untuk jangka menengah dan jangka panjang,” tegas Airlangga.

Dengan fundamental yang solid dan berbagai program stimulus yang terus diperkuat, ekonomi Indonesia diproyeksikan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan menuju target 5,0-5,2 persen untuk tahun 2025.

Kontak Media:

  • Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
  • Email: [email protected]
  • Telepon: (021) 3523415