Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan bahwa hanya atlet berprestasi yang akan diberangkatkan ke SEA Games 2025 di Thailand. Kebijakan ini sejalan dengan target pemerintah untuk meraih antara 82 hingga 90 medali emas dan mempertahankan posisi Indonesia di peringkat ketiga dalam ajang tersebut.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menyatakan bahwa pengiriman atlet kali ini akan didasarkan pada capaian yang terukur. “Atlet yang tidak memiliki potensi meraih medali besar kemungkinan tidak akan diberangkatkan,” ujar Erick saat memberikan keterangan pers di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa, 21 Oktober 2025.
Menurut Erick, beberapa cabang olahraga unggulan masih menjadi andalan Indonesia dalam meraih medali emas, seperti bulu tangkis, angkat besi, renang, dan wushu. Namun, ia menekankan pentingnya transparansi dari pengurus besar cabang olahraga agar target dapat tercapai. “Keterbukaan pengurus besar menjadi kunci,” ujarnya.
Pernyataan ini menjawab pertanyaan wartawan mengenai bagaimana Kemenpora memastikan atlet yang dikirim mampu menyumbang medali. “Kita tidak bisa bicara tentang alasan atau apa-apa. Yang penting kita punya arah. Saya baru menjadi menteri selama sebulan,” tutur Erick.
Kemenpora menargetkan meraih 82–90 medali emas pada SEA Games ke-33 di Thailand. Namun, banyak nomor yang tidak lagi dipertandingkan, termasuk 41 nomor yang sebelumnya menjadi sumber medali bagi Indonesia di SEA Games 2023. Berdasarkan verifikasi sementara, Indonesia memiliki peluang meraih 46 emas dari nomor yang tersedia.
Selain itu, masih ada potensi tambahan 32 emas dari cabang olahraga seperti rowing, kano, panahan, menembak, woodball, dan panjat tebing. Namun, beberapa cabang potensial seperti wushu, balap sepeda, e-sport, gulat, dan gimnastik tidak akan dipertandingkan di Thailand.
Erick menyatakan bahwa ke depan, pemerintah akan memprioritaskan 17 cabang olahraga unggulan untuk dibina menuju Olimpiade 2028. “Kami ingin 17 cabor unggulan ini memiliki program kerja jangka panjang,” katanya.
Kemenpora akan menyiapkan program multi-years hingga Olimpiade 2032 dan 2036. “Kami akan membuat detail programnya. Atlet harus dibina secara berkelanjutan, bukan setahun-setahun,” ujar pria berusia 55 tahun itu.
Program tersebut mencakup pengiriman atlet ke luar negeri, seperti perenang ke kompetisi NCAA di Amerika Serikat, pemanah berlatih di Korea, serta pesenam ke Jepang atau Rumania. Menurut Erick, pelatihan semacam itu tidak boleh bersifat jangka pendek. “Yang namanya training itu tidak bisa dipotong tiap tahun. Harus dua setengah tahun menuju olimpiade, bahkan lima tahun untuk olimpiade berikutnya,” ujarnya.
Selain soal pembinaan atlet, Erick juga telah bertemu dengan Ketua Umum KONI Pusat, Letjen (Purn) Marciano Norman, untuk membahas evaluasi Pekan Olahraga Nasional (PON). Ia meminta agar jadwal PON diubah agar tidak digelar sebulan setelah Olimpiade. “Idealnya, PON digelar sebelum SEA Games, lalu dilanjut Asian Games dan Olimpiade,” katanya.
Erick menegaskan bahwa target medali dan pembinaan atlet jangka panjang membutuhkan sinergi semua pihak. “Jika Kemenpora sudah introspeksi diri, KONI, KOI, dan cabang olahraga juga harus introspeksi,” ujar Erick.
Piihan Editor:
Cerita Alex Pastoor Soal Pemecatan Patrick Kluivert dan Tim Pelatih Timnas Indonesia

















