Human Interest

Fadli Zon: Mengurai Kegilaan di Museum Ranggawarsita

×

Fadli Zon: Mengurai Kegilaan di Museum Ranggawarsita

Sebarkan artikel ini
Gambar All New Terios 2018 (Photo: GIIS)

Menjelajahi Jantung Budaya Jawa Tengah: Sebuah Pengalaman di Museum Ranggawarsita

Meskipun telah berulang kali melintasinya, sebuah tempat menyimpan memori kolektif Jawa Tengah selalu berhasil luput dari kunjungan. Kali ini, setelah meninggalkan kenyamanan Hotel Holiday Inn Simpang Lima, Semarang, tujuan utama diarahkan pada destinasi yang tak jauh, namun selalu kalah oleh agenda lain: Museum Jawa Tengah Ranggawarsita. Perjalanan singkat nan teduh, ditemani rintik hujan yang membasahi aspal, seolah menyambut dengan kelembutan yang khas. Dari kejauhan, bangunan museum memancarkan aura megah, memadukan sentuhan modern dengan keanggunan arsitektur tradisional Jawa. Ornamen-ornamen yang dipilih dengan cermat, tidak berlebihan, justru menciptakan suasana tenang dan edukatif, mencerminkan fungsinya sebagai penjaga ingatan sebuah provinsi.

Setibanya di halaman, ketertiban langsung terasa. Area terbuka yang bersih dan terawat, dipadukan dengan susunan paving block yang rapi, memberikan kesan pertama yang sangat positif. Di depan pendopo, sebuah patung monumental segera menarik perhatian. Sosoknya menyerupai kereta raksasa, mungkin terinspirasi dari makara, yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Di atasnya, berdiri figur-figur manusia yang mengingatkan pada tokoh-tokoh pewayangan, dengan sosok paling dominan yang memegang busur, tak salah lagi membangkitkan asosiasi dengan ksatria Bharatayuddha seperti Arjuna. Di sisi lain tangga, patung figur yang lebih kecil, menyerupai dwarapala, seolah menjaga dengan setia ruang sakral pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

Arsitektur Pendopo dan Peta Koleksi Museum

Memasuki pendopo, pandangan langsung disambut oleh ruang terbuka yang luas. Di bagian depan, denah museum terpampang jelas, memetakan empat gedung utama yang menjadi jantung koleksi:

  • Gedung A: Menjadi rumah bagi fosil, batu meteor, dan berbagai artefak yang menceritakan sejarah geologi.
  • Gedung B: Mengkhususkan diri pada peninggalan era Hindu-Buddha, menampilkan arca-arca kuno dan prasasti bersejarah.
  • Gedung C: Memamerkan kekayaan budaya Jawa, mulai dari koleksi batik yang memukau, wayang kulit dan golek, hingga seperangkat gamelan dan keris pusaka.
  • Gedung D: Mengajak pengunjung menelusuri sejarah perjuangan kemerdekaan melalui diorama yang imersif.
Baca Juga :  Sienna Lepas Hijab: Ben Kasyafani Cemas, Siapkan Pola Asuh Baru

Sebuah spanduk besar bertuliskan “Sugeng Rawuh di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita” menyambut setiap pengunjung, menegaskan peran museum ini sebagai penjaga memori sejarah, budaya, dan arkeologi Jawa Tengah.

Perhatian tertuju pada arsitektur pendopo itu sendiri. Atapnya yang mengerucut tinggi ke pusat, menyerupai struktur joglo yang anggun, ditopang oleh balok-balok kayu penyangga yang tersusun simetris. Di tengah ruangan, berdiri soko guru, tiang kayu besar berwarna cokelat tua yang dihiasi ukiran halus di bagian atas dan bawahnya. Kehadiran soko guru memancarkan kewibawaan yang tenang, seolah merefleksikan filosofi Jawa yang sarat makna namun disampaikan dengan kesederhanaan.

Jejak Sejarah dan Komitmen Pelayanan

Melangkah ke beranda museum, terpasang prasasti peresmian yang menandai momen penting pada tanggal 5 Juli 1989, ketika museum ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kala itu.

Niat untuk segera membeli karcis dan memasuki museum harus tertunda. Pukul 14.00 tepat menunjukkan bahwa museum telah ditutup. Kekecewaan sempat menyelimuti, namun langkah kaki tetap berlanjut, menjelajahi area beranda. Di sana, terpampang standing banner mengenai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dengan angka yang mencolok: 90,09 dari 100, dikategorikan A (Sangat Baik) berdasarkan survei periode Januari-Juni 2025. Angka-angka ini menjadi bukti nyata betapa seriusnya pengelolaan museum ini.

Di dinding dekatnya, sebuah bingkai emas berisi maklumat pelayanan yang lugas, menegaskan komitmen museum untuk memberikan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan, bahkan dengan kesediaan menerima sanksi jika terjadi ketidaksesuaian. Sebuah janji yang mungkin jarang dibaca pengunjung, namun krusial untuk keberlangsungan kepercayaan.

Perhatian kemudian beralih pada sebuah papan pesan berbingkai kayu ranting. Tulisan tangan dari Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, tertanggal 16 November 2024, terukir jelas: “Museum adalah etalase peradaban kita. Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai budayanya.” Sebuah kutipan singkat namun sarat makna, mengingatkan akan pentingnya apresiasi terhadap warisan budaya.

Baca Juga :  Haji Faisal Tak Sabar Fuji Nikah Muda dengan Reza Arap?

Kembali ke pendopo, sebuah seperangkat gamelan terdiam, namun seolah masih menyimpan gema iramanya. Di sudut lain, sebuah papan kayu berukir menarik perhatian lebih lama. Ukiran tersebut memuat cuplikan dari Serat Kalatidha, karya legendaris Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang mengisahkan tentang “Zaman Edan”. Membaca bait-baitnya di ruang yang mulai sepi, menjelang penutupan museum, memberikan sensasi yang mendalam. Pesan tentang zaman yang kacau, godaan untuk ikut terhanyut, dan pentingnya untuk tetap “eling lan waspada” (ingat dan waspada) terasa begitu relevan.

“Begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada.”
(Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.)

Ironisnya, keterlambatan yang membuat tidak bisa masuk ke galeri justru mempertemukan dengan pesan paling penting di beranda. Seolah museum ini berbisik, tidak semua pelajaran harus dicari jauh ke dalam, sebagian sudah menunggu di ambang pintu. Di dekat papan tersebut, berdiri patung Ranggawarsita, lengkap dengan tanggal lahir dan wafatnya, sosok pujangga yang suaranya melampaui zamannya dan tetap menggema hingga kini.

Pintu besar itu akhirnya tertutup rapat. Langkah kaki meninggalkan pendopo, membawa sedikit rasa kecewa, namun juga sebuah pengingat yang kuat. Satu menit memang tak cukup untuk mengapresiasi ribuan artefak, namun satu menit membaca Serat Kalatidha terbukti cukup untuk meresap lama di benak.

Pelajaran hari itu sederhana: jangan pernah meremehkan jam operasional museum. Namun lebih dari itu, perjalanan ini justru memberikan alasan kuat untuk kembali. Lain kali, dengan waktu yang lebih lapang dan langkah yang tidak tergesa-gesa, untuk tidak hanya melihat masa lalu, tetapi juga untuk kembali diingatkan bagaimana seharusnya bersikap di zaman yang sering terasa “edan” ini.