Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Wamen PKP) RI, Fahri Hamzah, menyampaikan rasa duka mendalam atas bencana yang melanda Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pernyataan ini disampaikan saat membuka kajian Pengembangan Wawasan bertema ‘Wawasan Kebangsaan Edisi ke-9’.
“Saya sangat emosional dan berduka atas apa yang dialami saudara-saudara kita di Sumatera, terutama di tiga provinsi tersebut,” ujar Fahri Hamzah. “Mereka menghadapi musibah bencana yang sangat besar, mengakibatkan ribuan nyawa melayang dan masih banyak yang belum ditemukan.”
Atas nama pimpinan, pengurus dari tingkat pusat hingga daerah, serta seluruh kader, Fahri Hamzah menyampaikan belasungkawa yang mendalam. “Kami turut merasakan kesedihan ini dan mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya,” tambahnya.
Instruksi Partai Gelora untuk Penanganan Bencana
Menyikapi situasi darurat ini, Partai Gelora telah mengeluarkan instruksi untuk menindaklanjuti penanganan banjir dan tanah longsor di Sumatera. Instruksi ini bertujuan untuk mengaktifkan, memonitor, dan bertindak cepat dalam membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak.
- Aksi Konkret di Lapangan: Instruksi menekankan pentingnya melakukan kerja-kerja konkret di lapangan, seperti evakuasi, penyaluran bantuan, dan pendirian posko kesehatan.
- Doa dan Dukungan Moril: Selain bantuan materiil, instruksi juga mengimbau seluruh kader untuk mendoakan para korban agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini.
- Harapan Pemulihan: Fahri Hamzah berharap agar penderitaan yang dialami masyarakat Sumatera dapat segera berlalu dan kehidupan dapat kembali normal.
Fahri Hamzah, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 Bidang Kokesra, memandang bencana di Sumatera sebagai bagian dari persoalan bangsa yang lebih besar. “Ini adalah cermin dari wawasan kebangsaan kita, bagaimana kita memahami dan merespons apa yang terjadi di dalam tubuh bangsa kita,” jelasnya.
Keterlibatan Relawan Blue Helmet dan Penggalangan Dana
Partai Gelora telah mengerahkan relawan kemanusiaan mereka yang tergabung dalam tim Blue Helmet. Mereka berkolaborasi dengan berbagai instansi kesiapsiagaan bencana dan organisasi kemanusiaan lainnya untuk melakukan evakuasi dan memberikan bantuan kepada korban banjir di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau, seperti Tanjung Pura, Pangkalan Brandan, Besitang, dan Aceh Tamiang.
Selain itu, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gelora se-Sumatera juga aktif menggalang donasi untuk meringankan beban para korban. Di tingkat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelora, penggalangan dana kemanusiaan dilakukan melalui kerja sama dengan Fordika (Forum Dedikasi Kemanusiaan).
Data Korban dan Kerusakan Akibat Bencana
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data terbaru mengenai dampak bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Sabtu (5/12/2025), jumlah korban meninggal dunia mencapai 883 orang. Selain itu, masih ada 520 orang yang dinyatakan hilang dan 4.200 orang mengalami luka-luka.
Berikut rincian data terbaru yang dilaporkan oleh BNPB:
- Korban Meninggal: 883 orang
- Korban Hilang: 520 orang
- Korban Terluka: 4.200 orang
- Rumah Rusak: 121 ribu unit
- Kabupaten/Kota Terdampak: 51
BNPB mencatat bahwa korban tewas terbanyak berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yaitu sebanyak 171 jiwa. Selain itu, sekitar 835 ribu warga terpaksa mengungsi, dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Aceh Tamiang, mencapai 281,3 ribu jiwa.
Selain korban jiwa dan pengungsi, bencana ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. BNPB mencatat kerusakan pada:
- 405 jembatan
- 270 fasilitas kesehatan
- 509 fasilitas pendidikan
- 1.100 fasilitas umum
BNPB memperkirakan bahwa jumlah korban tewas, hilang, luka, dan pengungsi masih dapat bertambah seiring dengan proses evakuasi dan pembersihan sisa material banjir bandang serta longsor yang terus dilakukan. Hingga saat ini, sejumlah ruas jalan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih terputus. Aliran listrik dan komunikasi di daerah terdampak bencana juga belum sepenuhnya pulih.

















