Sebuah gempa berkekuatan magnitudo 7 mengguncang Baqen County, di wilayah Nagqu, Tibet, menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa yang menurut laporan terjadi pada malam hari itu memaksa otoritas setempat menetapkan status darurat dan mengerahkan tim penyelamat untuk menanggulangi dampak bencana.
Guncangan kuat merusak ratusan bangunan; laporan awal menyebut sekitar 339 rumah ambruk. Selain itu, pemadaman listrik dilaporkan terjadi di beberapa kawasan terdampak, sementara guguran batu dan longsoran menutup akses jalan sehingga menyulitkan tim penyelamat mencapai titik-titik paling parah terkena dampak.
Getaran gempa terasa hingga kota-kota lain di Tibet, termasuk Qamdo dan Nyingchi. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berhamburan keluar saat bangunan bergoyang pada malam hari, namun keaslian dan lokasi rekaman tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh pihak luar.
Karakter geografis daerah—datarn tinggi dan medan pegunungan yang curam—memperbesar kesulitan operasi evakuasi dan pencarian korban. Otoritas darurat mengatakan longsoran batu menutup beberapa ruas jalan, memaksa petugas menempuh jalur alternatif atau menunggu alat berat untuk membersihkan rintangan sebelum tim bisa masuk ke pemukiman terisolasi.
Secara geologi, Tibet merupakan kawasan yang rawan aktivitas seismik karena letaknya di zona tumbukan lempeng India dan Eurasia, proses yang juga membentuk Pegunungan Himalaya. Risiko bencana di area ini diperparah oleh permukiman di ketinggian dan infrastruktur yang melintasi lereng, sehingga gempa seringkali diikuti longsoran dan runtuhan bangunan.
Insiden ini terjadi di tengah rentetan bencana besar di Tiongkok bagian barat dalam beberapa bulan terakhir. Pada Desember 2023, misalnya, gempa bermagnitudo 6,2 di provinsi Gansu menewaskan lebih dari 120 orang. Selain itu, banjir dan tanah longsor yang terkait runtuhnya gletser di Tibet serta Nepal, kurang dari dua bulan sebelum laporan ini, disebut menewaskan sekitar 1.400 orang dan menyebabkan ratusan lainnya hilang. Akses media asing yang dibatasi di Tibet membuat laporan resmi dari media pemerintah seperti Xinhua menjadi sumber utama informasi, sehingga verifikasi independen atas angka korban dan tingkat kerusakan masih terbatas.
Hingga laporan awal ini dirilis, upaya pencarian dan pendataan kerusakan masih berlangsung. Otoritas setempat terus memperbarui kondisi lapangan dan menyiapkan bantuan bagi korban, sementara tantangan medan dan pemadaman listrik tetap menjadi hambatan signifikan dalam operasi darurat.
















