Alreinamedia.com – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) DPD Bintan bersama 50 perwakilan nelayan dari tiap Kecamatan di Kabupaten Bintan menggelar agenda besar Pemetaan Partisipatif, Selasa (03/06/2026).
Kegiatan yang digagas langsung oleh KNTI Bintan bersama pihak akademisi dari Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang sebagai fasilitator teknis.
Ketua DPD KNTI Bintan, Buyung Adly mengatakan pemetaan ini adalah bukti bahwa KNTI terus menjadi organisasi nelayan yang profesional dalam memastikan hak-hak nelayan kecil terlindungi.
” Peta ini bukan lahir dari kantor, tapi lahir dari laut! Dari keringat dan pengetahuan nelayan itu sendiri,” Tegas Buyung Adly.
Kemudian, Tujuan utama dari peta versi nelayan ini adalah agar menjadi referensi resmi bagi Pemerintah dalam menentukan kebijakan. Menurutnya, Selama ini kebijakan sering lahir dari peta Pemerintah yang buta akan realita di lapangan. Akibatnya ruang hidup nelayan tergusur.
Dalam pemetaan partisipatif ini, nelayan tidak hanya menggambar peta, tetapi juga mendapatkan pelatihan langsung:
- Latihan menggunakan GPS untuk menandai titik koordinat yang akurat.
- Memetakan jenis ikan dan musimnya berdasarkan pengetahuan lokal.
- Memetakan jenis alat tangkap tradisional yang digunakan di tiap wilayah.
- Memetakan wilayah yang tercemar akibat limbah industri dan aktivitas tambang.
- Memetakan potensi konflik antara nelayan kecil dengan nelayan besar dan pihak investor / perusahaan.
” Dengan peta ini, kita punya data yang kuat. Mana wilayah tangkap, mana wilayah tercemar, mana wilayah rawan konflik. Pemerintah tidak bisa lagi bilang tidak tahu. Inilah peta perjuangan kita,” Tambah Buyung.
KNTI Bintan berkomitmen peta hasil partisipatif ini akan diserahkan kepada Bupati Bintan, DKP Provinsi Kepri dan instansi terkait sebagai dasar penyusunan kebijakan tata ruang laut yang berpihak pada nelayan kecil, (Alek Juve).
















