Lonjakan Harga Cabai dan Bumbu Dapur di Sigi Jelang Ramadan 1447 H
SIGI – Memasuki periode krusial menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, lonjakan harga komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan berbagai bumbu dapur, mulai terasa signifikan di Pasar Ranggulalo, Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan para pedagang mengenai stabilitas pasokan dan harga selama periode ibadah tersebut.
Kenaikan harga yang paling mencolok terlihat pada komoditas cabai rawit. Jika pada pekan sebelumnya harga komoditas ini masih berkisar antara Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, kini para pedagang mematok harga di angka Rp40.000 per kilogram. Kenaikan ini, menurut para pedagang, merupakan respons langsung terhadap meningkatnya permintaan dan antisipasi kebutuhan yang biasanya melonjak menjelang dan selama Ramadan.
Salah seorang pedagang di Pasar Ranggulalo, Bani (46), mengonfirmasi bahwa tren kenaikan harga cabai rawit telah dimulai sejak awal pekan ini. “Minggu lalu ini cuma 30-35 ribu saja per kilo. Naik minggu ini,” ungkapnya dengan nada prihatin pada Minggu (1/2/2026). Ia menambahkan bahwa fluktuasi harga semacam ini sudah menjadi gambaran umum yang kerap terjadi setiap kali mendekati bulan Ramadan.
Pasar Ranggulalo, yang berlokasi strategis tidak jauh dari pusat Kota Palu, tepatnya sekitar satu kilometer dari Tugu Biromaru yang menjadi penanda batas administratif antara Kota Palu dan Kabupaten Sigi, menjadi barometer penting bagi pergerakan harga kebutuhan pokok di wilayah tersebut. Lokasinya yang mudah dijangkau membuat pasar ini menjadi tujuan utama bagi warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga setiap perubahan harga di sini akan segera dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas.
Daftar Harga Bumbu Dapur Lainnya yang Turut Mengalami Kenaikan
Selain cabai rawit, kenaikan harga juga merambah ke sejumlah bumbu dapur esensial lainnya yang menjadi tulang punggung masakan sehari-hari. Berdasarkan pantauan di Pasar Ranggulalo, beberapa komoditas menunjukkan tren kenaikan yang patut diperhatikan:
- Cabai Keriting: Meskipun tidak setajam cabai rawit, cabai keriting juga mengalami kenaikan harga, kini dijual dengan kisaran Rp25.000 per kilogram.
- Bawang Merah: Komoditas ini menjadi salah satu yang paling disorot dengan kenaikan harga signifikan, mencapai Rp40.000 per kilogram. Kenaikan ini berpotensi membebani anggaran rumah tangga, mengingat bawang merah merupakan bahan baku penting dalam berbagai masakan.
- Bawang Putih: Senada dengan bawang merah, bawang putih juga terpantau mengalami lonjakan harga, menyentuh angka Rp40.000 per kilogram. Ketersediaan dan harga bawang putih yang stabil sangat krusial untuk menjaga kelancaran aktivitas memasak, terutama saat bulan puasa.
- Tomat: Meskipun tidak signifikan seperti cabai atau bawang, harga tomat juga menunjukkan sedikit peningkatan, kini dijual dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram.
Prediksi Fluktuasi Harga Menjelang dan Selama Ramadan
Para pedagang di Pasar Ranggulalo memiliki pandangan yang cenderung sama mengenai prospek harga kebutuhan pokok di masa mendatang. Mereka memprediksi bahwa tren fluktuasi harga, khususnya pada bumbu dapur, masih sangat mungkin terjadi. Beberapa faktor yang diyakini akan terus memengaruhi pergerakan harga antara lain:
- Peningkatan Permintaan: Ramadan secara tradisional identik dengan peningkatan aktivitas memasak di rumah untuk sahur dan berbuka puasa. Hal ini secara otomatis akan mendorong lonjakan permintaan terhadap berbagai bahan pangan, termasuk bumbu dapur.
- Ketersediaan Pasokan: Cuaca dan kondisi distribusi dari daerah penghasil ke pasar juga menjadi faktor penentu. Jika terjadi kendala dalam pasokan, seperti gagal panen atau hambatan logistik, harga tentu akan terpengaruh secara langsung.
- Spekulasi Pasar: Terkadang, ada indikasi spekulasi yang dilakukan oleh beberapa pihak yang menimbun barang untuk kemudian dijual dengan harga lebih tinggi saat permintaan memuncak. Hal ini dapat memperburuk kondisi kenaikan harga.
Menjelang Ramadan 1447 H yang diperkirakan akan dimulai pada 18 Februari 2026, masyarakat diharapkan dapat melakukan antisipasi dengan berbelanja kebutuhan pokok secara bijak. Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan dapat melakukan intervensi pasar jika diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan pangan bagi masyarakat. Upaya pemantauan rutin terhadap harga dan stok di pasar-pasar tradisional menjadi langkah krusial untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tidak terkendali dan menjaga daya beli masyarakat.














