JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat kenaikan tipis 0,47 persen ke level 7.867,35 pada periode perdagangan 1-4 September 2025. Kenaikan ini terjadi meski pasar dibayangi aksi jual besar-besaran investor asing yang mencapai Rp4,17 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik dari posisi 7.830,49 pada akhir Agustus menjadi 7.867,35 pada Kamis (4/9/2025). Namun, aktivitas perdagangan justru melemah. Rata-rata nilai transaksi harian turun 28,43 persen menjadi Rp18,05 triliun dari sebelumnya Rp25,22 triliun.
Tekanan Asing Meningkat
Aksi jual bersih asing sepanjang pekan pertama September berbalik arah dibanding pekan sebelumnya yang mencatat pembelian bersih Rp1,49 triliun. Secara akumulasi sepanjang 2025, net sell asing sudah menembus Rp55,13 triliun.
Saham perbankan menjadi target utama. Data RTI mencatat Bank Central Asia (BBCA) dilepas asing senilai Rp3,17 triliun. Bank Mandiri (BMRI) juga terkena tekanan dengan net sell Rp738,3 miliar, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menilai investor mulai berhati-hati karena narasi ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global mulai melemah. “Pertumbuhan PDB 5,12 persen pada kuartal II-2025 mengejutkan ekonom dan menimbulkan keraguan atas transparansi data pemerintah,” ujarnya.
Gejolak Politik Jadi Pemicu
Ketua OJK Mahendra Siregar mengakui demonstrasi akhir Agustus memberi tekanan pada pasar saham, meski sifatnya terbatas. IHSG sempat menyentuh level 8.022,7 pada 28 Agustus sebelum terkoreksi akibat meningkatnya aksi unjuk rasa.
Pada 29 Agustus 2025, IHSG jatuh 1,53 persen, lalu kembali turun 1,21 persen pada 1 September 2025. Tekanan ini membuat asing mencatat jual bersih Rp1,12 triliun di akhir Agustus.
Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai instabilitas politik tersebut sebagai yang terburuk sejak 1998. “Persepsi risiko investasi Indonesia naik, dengan Credit Default Swap (CDS) 5 tahun mencapai 70,27 dan berpotensi meningkat lebih lanjut,” kata Rully.
Sentimen Burden Sharing BI
Selain faktor politik, pelemahan IHSG juga dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menyepakati skema burden sharing dengan pemerintah untuk mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. BI membeli obligasi pemerintah Rp200 triliun di pasar sekunder, termasuk Rp150 triliun melalui debt switch.
Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, pasar menilai langkah ini sebagai sinyal ekonomi dalam tekanan, mengingat burden sharing biasanya dilakukan di masa krisis. Namun, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan tersebut masih aman dilakukan dalam situasi saat ini.
Kapitalisasi Pasar Tetap Naik
Meski IHSG bergerak fluktuatif, kapitalisasi pasar BEI masih mencatat kenaikan 0,20 persen menjadi Rp14.211 triliun. Jumlah investor juga terus tumbuh, mencapai 18,01 juta Single Investor Identification (SID) hingga akhir Agustus 2025, termasuk tambahan 1,17 juta investor baru sepanjang tahun ini.

















