Di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan, sebuah sekolah di Jakarta Selatan menawarkan pendekatan yang berbeda dalam menangani para siswanya. Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta Selatan tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, tetapi juga memberikan perhatian mendalam pada kesehatan mental dan emosional para siswa. Melalui program terapi mindfulness dan konseling individu, sekolah ini berupaya memulihkan luka batin yang mungkin dibawa oleh setiap anak sejak sebelum memasuki lingkungan sekolah berasrama.
Ruang Kelas yang Menjadi Arena Penyembuhan
Sabtu siang itu, suasana di salah satu ruang kelas SRMA 10 Jakarta Selatan terasa berbeda. Alih-alih terdengar suara riuh rendah atau penjelasan guru, yang terdengar hanyalah tangisan pelan dan samar. Sejumlah siswa duduk bersila, mata terpejam, mengatur napas, seolah mencoba membuka kembali lembaran ingatan yang telah lama tersimpan rapat. Di hadapan kertas-kertas kosong, luka-luka lama kembali menyeruak. Ingatan tentang rumah, kegagalan, ejekan, hingga rasa takut yang tak kunjung reda, semuanya terangkum dalam sesi terapi mindfulness.
Kelas ini bukanlah pelajaran biasa, melainkan sebuah ruang aman yang dirancang khusus untuk membantu para siswa menghadapi beban psikologis yang mereka bawa. Program ini merupakan bagian dari kegiatan rutin mingguan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan pemulihan emosional.
Memahami Beban Setiap Siswa
Erika Aritonang, wali asrama SRMA 10 Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa terapi ini lahir dari hasil asesmen mendalam terhadap para siswa. “Hampir semua anak membawa luka. Ada yang ringan, sedang, sampai berat,” ungkap Erika. Luka tersebut bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari dinamika keluarga yang rumit, lingkungan pergaulan yang tidak mendukung, hingga pengalaman perundungan (bullying) yang membekas dalam jangka waktu lama.
Menurut Erika, luka batin yang tidak tertangani dengan baik seringkali bermanifestasi dalam berbagai bentuk. Mulai dari pelanggaran disiplin yang berulang, ledakan emosi yang tidak terkontrol, hingga tangisan tiba-tiba yang mengejutkan. Namun, di SRMA 10, perilaku-perilaku tersebut tidak serta-merta dilabeli sebagai kenakalan.
“Kami tidak mengenal konsep anak nakal. Kalau ada pelanggaran, artinya ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja pada anak itu,” tegas Erika. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan sekolah bahwa setiap perilaku negatif adalah sinyal adanya kebutuhan yang belum terpenuhi atau luka yang perlu disembuhkan.
Pendekatan Personal dan Mendalam
Salah satu keunggulan SRMA 10 adalah rasio wali asuh dengan siswa yang sangat proporsional. Setiap wali asuh hanya mendampingi sepuluh siswa. Rasio ini memungkinkan adanya pendekatan yang sangat personal dan pemantauan emosional yang lebih dekat. Dengan memahami kondisi setiap siswa secara individu, para wali asuh dapat mengidentifikasi kebutuhan spesifik mereka.
Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh para wali asuh, sekolah kemudian merancang berbagai bentuk intervensi, termasuk terapi kelompok dan konseling individu. Fokus utama diberikan kepada siswa yang mengalami trauma berat, memastikan mereka mendapatkan dukungan yang memadai untuk proses pemulihan.
Kisah Para Siswa: Berdamai dengan Diri Sendiri
Sesi terapi mindfulness pada hari itu menghadirkan momen emosional bagi banyak siswa. Salah satunya adalah Zahra (17), yang namanya disamarkan demi menjaga privasi. Saat sesi berlangsung, air matanya tak terbendung. “Tiba-tiba ingat masa kecil, orang tua, dan kegagalan aku. Aku juga ingat nenek dan kakek yang dulu nemenin aku waktu lagi berat,” ujarnya lirih.
Bagi Zahra, terapi ini menjadi ruang aman untuk berdamai dengan dirinya sendiri. “Di sini aku belajar mengatur napas, belajar sayang sama diri sendiri. Menurut aku, terapi seperti ini penting banget, apalagi buat orang-orang yang punya trauma,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Cerita serupa datang dari Sarah (16), yang juga meminta namanya disamarkan. Kertas kosong yang ia tatap dalam sesi terapi membuatnya merenungkan perbandingan dirinya di masa lalu dan masa kini. “Kertas polos itu kayak aku waktu kecil. Sekarang kertasnya penuh coretan. Dari situ aku sadar, ternyata aku belum sepenuhnya jadi diri aku sendiri,” tuturnya. Pengalaman ini membantunya menyadari bahwa perjalanan menuju jati diri yang utuh masih terus berlanjut.
Perjuangan Melawan Perundungan
Namun, tidak semua luka berasal dari masa lalu yang jauh. Febri (16), juga nama samaran, masih bergulat dengan trauma perundungan yang ia alami sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ironisnya, perundungan tersebut masih ia alami bahkan di lingkungan sekolah barunya.
“Aku pendam tiap hari. Luka lama ketambah luka baru, jadi susah ngontrol emosi,” kata Febri, menggambarkan beban ganda yang ia rasakan. Ia mengaku masih menjalani pengobatan jalan ke psikiater sejak SMP dan sangat berharap lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang benar-benar aman baginya.
“Harapanku mereka berhenti ngebully. Aku ingin fokus sekolah dan kejar cita-cita,” ujarnya dengan nada penuh harap. Harapan Febri mencerminkan keinginan kuat untuk mendapatkan lingkungan yang kondusif demi meraih masa depan yang lebih baik.
Penanganan Perundungan yang Berbeda
Erika menegaskan bahwa penanganan kasus perundungan di SRMA 10 tidak hanya mengedepankan pendekatan hukuman. Edukasi menjadi langkah utama dalam prosesnya. “Kami jelaskan ke anak-anak bahwa bercanda itu bisa berbeda maknanya bagi setiap orang. Kata-kata kecil bisa meninggalkan luka besar,” jelas Erika. Pemahaman ini penting agar para siswa menyadari dampak dari perkataan dan tindakan mereka terhadap orang lain.
Sekolah juga sangat mengedepankan rekonsiliasi dan komunikasi. Keterlibatan orang tua menjadi elemen krusial dalam penanganan kasus perundungan. Wali asuh secara rutin melaporkan perkembangan siswa kepada keluarga dan menggelar diskusi kelompok terarah. “Kami tidak hanya menyembuhkan anaknya, tapi juga mengajak orang tuanya ikut berproses,” ujar Erika. Pendekatan holistik ini memastikan bahwa seluruh pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama dan berkontribusi pada pemulihan siswa.
Di tengah stigma yang seringkali menganggap perundungan sebagai masalah sepele, SRMA 10 Jakarta Selatan memilih jalan yang berbeda. Sekolah ini memilih untuk mendengarkan, memahami, dan menemani para siswanya dalam setiap perjuangan mereka. Di ruang-ruang terapi yang sederhana namun penuh makna itulah, para siswa perlahan belajar bahwa luka boleh saja ada, namun mereka tidak harus selamanya hidup di dalamnya.
“Terapi yang kita berikan juga akan berbeda. Kalau tadi konsepnya kelompok, jika luka batinnya berat, kita akan memanggil secara pribadi atau konseling,” ungkap Erika. Pendekatan individual ini memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai dengan tingkat keparahan trauma yang dialami.
“Bagaimanapun kita harus menjaga kerahasiaan dari anak-anak ini ya, trauma-trauma apa yang mereka alami,” tegasnya. Kerahasiaan menjadi prioritas utama dalam setiap sesi konseling, menciptakan rasa aman bagi siswa untuk berbagi pengalaman tanpa rasa takut dihakimi atau dipermalukan. SRMA 10 Jakarta Selatan membuktikan bahwa pendidikan yang sesungguhnya mencakup penyembuhan jiwa dan penguatan mental, membangun generasi muda yang tangguh dan berdaya.
















